Sabtu, 6 Juni 2026, pukul : 12:06 WIB
Surabaya
--°C

Maling Berkedok Gizi

Ia memberi jabatan tinggi kepada anggota Tim Mawar, tetapi tidak semuanya berhasil. Salah satunya, Dirjen Bea Cukai Letjen Djaka Budi Utama, sedang dibidik dalam kasus korupsi.

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

KEMPALAN: Entahlah. Kita harus malu, atau harus bangga kepada Tyo Ardianto, Ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) UGM (Universitas Gadjah Mada). Anak muda ini menjadi salah satu – atau malah satu-satunya – pengritik program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang paling keras dan vokal.

Tyo mengritik dengan sangat tajam bahwa program MBG yang dianggapnya tidak bermanfaat. Tyo menyorot tajam berbagai penyelewengan dalam program itu. Tyo berani terus terang mengatakan bahwa Ketua BGN (Badan Gizi Nasional) – saat itu – Dadan Hindayana harusnya masuk penjara.

Tyo, tanpa takut, mengenakan kaos hitam dengan tulisan besar di dada “Maling Berkedok Gizi”, memelesetkan kepanjangan MBG.

Tyo kuliah di Jogjakarta, sangat akrab dengan budaya pelesetan Jogja. Tapi, kali ini bukan pelesetan yang bikin senyum. Pelesetan Tyo ini bisa bikin perut mules.

Sudah terbukti kritik Tyo menemukan kebenarannya. Dadan Hindayana dan dua wakilnya, Sonny Sonjaya dan Lodewyk Pusung, digerebek Kejaksaan Agung dini hari (pagi buta), lalu digelandang dengan rompi pink dan tangan diborgol sebagai tersangka.

Kasus korupsi ini bukan skandal. Ini tragedi. Bagaimana sebuah program yang dipertahankan oleh Presiden Prabowo Subianto dengan segenap kemampuan yang ada, ternyata keropos dan membusuk dari dalam.

Sebuah program yang diharapkan menjadi ikon Prabowo. Sebuah program yang ingin dicatat sebagai legasi Prabowo ternyata remuk redam dari dalam.

Sejak program ini diluncurkan berbagai macam kritik keras bermunculan. Berbagai macam laporan mengenai korupsi dan salah kelola bermunculan. Tetapi, Prabowo bergeming. Prabowo pasang badan.

BACA JUGA  Agus Deyang

Sampai akhirnya tiba di satu titik. Prabowo tidak bisa lagi mengelak dan harus menyerah. Ia dikhianati secara telanjang oleh orang yang dia beri kepercayaan menjalankan program andalannya.

Prabowo mengaku sedih. Tapi itu tidak cukup. Ia harus bertanggung jawab. Ia tidak bisa berlepas diri. Bahwa tragedi korupsi MBG ini menjadi tanggung jawab pribadinya.

Prabowo harus mengakui kesalahan dan harus meminta maaf kepada publik. Ia juga harus mengakui bahwa, lagi-lagi, ia salah memilih orang.

Apapun, Dadan Hindayana adalah pilihan Prabowo langsung. Tidak ada konsultasi dengan siapapun. Prabowo melakukan handpick, memungut langsung diri Dadan dengan tangannya. Dan Prabowo salah.

Ini tentu kesalahan fatal dalam melakukan judgment terhadap seseorang yang akan memimpin sebuah program besar. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa pola rekrutmen dengan menggunakan instink seperti yang dilakukan Prabowo bisa membawa bencana.

Tragedi MBG ini seharusnya bisa dijadikan momen oleh Prabowo untuk jeda. Untuk melakukan evaluasi total terhadap pelaksanaan program MBG. Saatnya Prabowo mau sedikit buka telinga untuk mendengarkan para pengritiknya.

Tapi itu bukan gue banget. Bukan Prabowo kalau mau mendengar masukan. Bukan Prabowo pula kalau mau mendengar kritik. Bukan Prabowo kalau mau mengakui kesalahan. Bukan Prabowo kalau tidak keras kepala.

Prabowo keras kepala. Dia mengakui itu. Dan bangga. Sambil berusaha sedikit melucu ia memegang kepalanya sendiri. Katanya, keras kepala perlu untuk mempertahankan prinsip.

Prinsip keras kepala itu yang dipertahankan Prabowo. Alih-alih jeda sambil merenung dan mengevaluasi, Prabowo langsung tancap gas. Mengangkat Nanik S Deyang sebagai pengganti Dadan.

Bukan sebagai Plt atau Pjs sambil mencari orang yang lebih tepat, tapi langsung meng-handpick Nanik sebagai pejabat permanen.

BACA JUGA  Jago Cimory

Sekali lagi Prabowo masuk ke lubang yang sama. Publik tahu, tidak ada alasan yang paling masuk akal kecuali bahwa orang pilihan Prabowo itu adalah orang dekatnya. Prabowo suka sekali dikelilingi oleh bubble yang membuatnya merasa aman dan nyaman.

Menyitir Francis Fukuyama yang membagi kepercayaan sosial berdasarkan luas radius kepercayaan (radius of trust).

Fukuyama mengategorikan masyarakat ke dalam dua kelompok, yaitu high-trust society, masyarakat dengan tingkat saling percaya yang tinggi, dan low-trust society, masyarakat yang hanya percaya pada lingkungan sempit seperti keluarga dan kekerabatan saja.

Masyarakat yang hanya percaya pada lingkaran kecil, nepotisme atau ikatan primodial, seringkali menghambat kerja sama skala besar di luar kelompoknya, yang berdampak pada lambatnya pertumbuhan ekonomi dan demokrasi.

Masyarakat demokratis yang matang justru membutuhkan kepercayaan antar pribadi yang meluas (general trust). Ruang lingkup kepercayaan yang terbatas bisa menjadi ciri dari kultur low trust, yang menjadi tantangan bagi terciptanya suatu masyarakat sipil yang kuat dan demokratis.

Prabowo cenderung punya low trust kepada orang lain. Ia lebih percaya kepada orang-orangnya sendiri, termasuk Tim Mawar.

Ia memberi jabatan tinggi kepada anggota Tim Mawar, tetapi tidak semuanya berhasil. Salah satunya, Dirjen Bea Cukai Letjen Djaka Budi Utama, sedang dibidik dalam kasus korupsi.

Prabowo boleh saja tetap keras kepala. Korupsi merajalela di sekitarnya. Nilai tukar rupiah ambruk. Krisis ekonomi dan politik di depan mata.

Kalau Prabowo Subianto tetap keras kepala, cepat atau lambat, ia bisa kehilangan kepalanya.

*) Dhimam Abror Djuraid, Pemimpin Redaksi Kempalan

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.