KEMPALAN: Bang Toyib menjadi salah satu nama yang paling banyak dikenal oleh penggemar musik Indonesia, khususnya musik dangdut. Nama itu merujuk pada seorang bapak yang bekerja meninggalkan keluarga, dan tiga kali lebaran tidak mudik. Bang Toyib ialah tokoh fiktif, tapi sudah menjadi identitas bagi siapa saja yang lama tidak mudik.
Setelah dua kali lebaran tidak ada mudik, kemungkinan lebaran tahun ini masyarakat bisa mudik. Pemerintah mengumumkan bahwa mudik diperbolehkan dengan syarat harus sudah mendapatkan vaksin booster. Artinya, masyarakat harus vaksin tiga kali sebelum dapat permit mudik.
Dalam kisah lagu Bang Toyib yang dinyanyikan Nita Talia sang istri menunggu-nunggu sampai tiga kali lebaran, tapi Bang Toyib tidak pulang-pulang dan sepucuk surat tidak datang. Syair lagu ini mestinya bernuansa mellow atau melankolis, karena menceritakan duka seorang istri yang ditinggal pergi oleh suami selama tiga tahun tanpa kabar. Tetapi, karena lagu ini diaransir dengan nada dangdut koplo, maka nuansa mellow hilang, berubah menjadi suasana ngebit yang asyik buat berjoget.
Alih-alih menjadi kisah sedih, lagu Bang Toyib menjadi lagu rancak nan jenaka. Orang-orang akan goyang pinggul mendengar lagu ini. Paling tidak, akan goyang jempol diam-diam, atau goyang dua jari sambil mencuri kesempatan menggoyang kaki.
BACA JUGA: Mudik Booster
Ada yang menanyakan ‘’asbabul nuzul’’ lagu ini, mengapa Bang Toyib tidak pulang dan tidak kirim kabar seperti orang minggat. Jawabnya ada di syair lagu itu. Bang Toyib mengambek karena anak-anaknya rada kurang ajar. ‘’Bang Toyib, Bang Toyib, kenapa tak pulang-pulang, anakmu anakmu panggil panggil namamu‘’. Rupanya Bang Toyib marah karena anaknya memanggil nama, padahal harusnya memanggil ‘’bapak’’ atau ‘’ayah’’ atau ‘’papa’’.
Meski dirundung duka tapi sang istri masih bisa menyanyi dan bergoyang dengan ceria. Itulah cerminan budaya masyarakat yang ‘’resilient’’, tangguh menghadapi penderitaan macam apapun. Ditinggal suami tiga tahun tanpa kirim kabar pasti akan membuat seorang istri menanggung beban hidup yang berat, karena harus menghidupi anak-anaknya. Tapi, nyatanya sang istri bisa mengatasi beban itu.
BACA JUGA: Nikah Politik
Masyarakat mempunyai mekanisme internal untuk mengatasi persoalan yang datang bertubi-tubi sepanjang beberapa tahun terakhir ini. Pandemi Covid-19 membuat banyak orang dari berbagai kalangan menderita. Tetapi, daya tahan masyarakat Indonesia terbukti tangguh dan bisa mengatasi musibah global itu.Saat ini, seharusnya kita sudah berada di ujung terowongan. Setelah dua tahun dalam kegelapan akhirnya terbitlah terang. The light at the end of the tunnel sudah mulai samar-
samar kelihatan. Masa-masa pandemi yang berat akan segera berakhir dengan diumumkannya status endemi yang lebih memberi kelonggaran kepada masyarakat untuk bergerak dan berusaha.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi