Selasa, 16 Juni 2026, pukul : 17:53 WIB
Surabaya
--°C

Pameran Seni Rupa Harry Suliztiarto: Berpihak Pada Luka

KEMPALAN: Harry Suliztiarto, nama yang kesohor sebagai pemanjat tebing. Berbekal tali buatan sendiri, ia memelopori panjat tebing di Indonesia. Sejak itu, namanya lekat dengan panjat tebing, dan panjat tebing telah menjadi semacam ritual di dalam hidupnya.

Syahdan, salah seorang dosennya berkata padanya dengan nada yang serius, “Ingat. Kamu itu seniman yang memanjat tebing. Bukan pemanjat yang membuat karya seni.”

Kita pun tahu kisahnya yang lain: Harry Suliztiarto adalah lulusan studio seni patung Seni Rupa ITB. Maka, bukan kebetulan jika dua kisah hidup yang berbeda itu berjalin pada 1979. Sebuah karya patung Harry memicu kehebohan—bukan karena bentuknya, melainkan karena berdiri dengan tegak di puncak sebuah bangunan setinggi 40 meter. Sebuah patung yang pemajangannya melibatkan proses pemanjatan kubah Planetarium Taman Ismail Marzuki; tanpa peralatan profesional, menghabiskan waktu berjam-jam dan dilakukan oleh Harry bersama kawannya Agoes Resmonohadi.

Setelah itu, jalinan kedua kisah berbeda itu terus berlanjut. Karya-karya Harry hari ini menampakkan pengaruh dari panjat tebing. Tengoklah cara karya-karya itu digantung; bermacam peralatan dan teknik panjat tebing diaplikasikan di situ. Bagi Harry, di dalam panjat tebing, segala risiko harus dikalkulasi dengan detil, dan lihat bagaimana karya-karyanya menunjukkan kalkulasi semacam itu.

Bagian karya dari Harry Suliztiarto

Perpaduan antara bobot karya, teknik dan alat yang digunakan agar mampu menahan beban karya, atau bagaimana cara agar penonton dapat menggerakkan karya tanpa bersusah-payah, semua itu tidak lepas dari kalkulasinya. Detil peralatan dan cara penggunaannya yang terencana, mengkondisikan Harry membuat karya yang terdiri dari bagian-bagian, yang dengan cermat ia rangkai jadi satu bentuk utuh.

Sementara, proses artistik Harry bermula secara intens di dalam karya- karya tugas akhir yang diselesaikannya pada 1984. Beberapa bakal—berupa batang kayu besar—dikenakan beberapa siasat seperti mengoyak, menarik, merobek, menghantam dan menghunjam. Lalu, jadilah karya masif— besar dan berat—dengan fisik yang cacat, rusak dan tidak utuh, ditambah dengan berbagai macam benda yang menancap di permukaannya.

Lumrah, karena pada seri karya itu, dorongan utama Harry adalah unjuk kekuatan. Sebagaimana katanya, “(…) cara untuk menyatakan seberapa kekuatan, adalah dengan memperlihatkan bekas-bekas yang terjadi atas sesuatu (…) dalam hal ini saya memilih mengoyak dengan hantaman dan mengoyak dengan tarikan.”

Rupanya, bagi Harry, semua wujud serba rusak dan koyak itu bukan sekedar pelibatan tindakan fisik, tapi juga pelibatan berbagai macam perasaan. Misalnya, ingatan pada perasaannya ketika melihat bangkai anjing yang koyak tercerai-berai di jalan termaknai sebagai adanya kekuatan yang mengenai sesuatu yang tak berdaya. Perasaan lainnya adalah ketika ia melihat foto-foto puing bangunan hancur sehabis perang atau bencana yang termaknai sebagai akibat dari suatu tindakan paksa.

Lalu kita menjumpai beberapa imaji di dalam karya Harry Suliztiarto, antara lain, kekuatan, kerusakan, kehancuran, paksaan, luka, kematian dan ketidak- berdayaan. Puluhan tahun kemudian, imaji-imaji tersebut masih terasa dalam karya-karya Harry saat ini.

Hari ini, Harry menyatakan imaji-imaji tersebut melalui sebuah kata: luka. Di sini, luka dimaknai melalui beragam konteks dan peristiwa. Luka, bisa jejak pada fisik sosok yang mengalami perlakuan tanpa belas kasih. Seperti dalam catatan Harry: “Lumut dan rumput sehalus beludru. Tumbuh subur di atas tubuhmu yang terikat, luka dan diam. Begitu kekejiannya kepadamu.”

BACA JUGA  Berbagi Kebaikan : Ekosistem Digital Wakaf dan Layanan Umat

Pengalaman hidup telah membawa Harry bertemu dengan bermacam luka. Tidak saja bertemu sang korban terluka, ia juga telah bertemu sang pelaku pemberi luka—dalam hal ini orang- orang yang pernah terlibat dalam beberapa peristiwa berdarah.

Halaman- halaman koran juga mengantarkan dirinya pada keseharian yang penuh luka; dan sebagai pengingat, halaman-halaman itu ia potong, tempel dan terkadang ia bubuhkan coretan-coretan tangan sebagai responnya pada berita-berita yang menyakitkan itu. Lalu, luka muncul juga di dalam diri Harry. Ia menulis: “(…) rasa sesak dan prihatin menyaksikan banyak pintu masih tergembok—pintu keadilan, pintu nurani, pintu kemanusiaan.”

Sepertinya, rasa sesak dan prihatin menjadi pendorong kekaryaan Harry hari ini. Bermacam peristiwa duka mengusik perasaan dan pikirannya. Kemudian di dalam batinnya muncul pertanyaan-pertanyaan seputar hidup manusia. Tentang luka yang ada di dalam hubungan manusia dengan sesamanya, dengan alam serta lingkungannya dan dengan Sang Ilahi.

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini bukanlah hal asing bagi kecenderungan seni hari ini, sebagai respon atas keterputusan hubungan antara seni, spiritualitas dan lingkungan dalam seni modern. Pertanyaan-pertanyaan reflektif itu juga menunjukkan bagaimana kaitan karya-karyanya dengan “ritual” panjat tebing yang ia geluti.

Baginya, memanjat tebing seringkali adalah momen yang menyadarkannya pada momen di antara yang sangat riskan: bila berhasil ia akan sampai puncak, namun meleset sedikit saja, kematian sangat dekat.

Suatu kali, Harry menuliskan keprihatinannya: “Berkali-kali didatangi maut (dihampirinya dan akhirnya terbunuh juga)—mengapa Tuhan tak melindunginya lagi? Rubuh juga.

*

Nada keprihatinan Harry tampak tidak menjurus pada siapa yang salah, melainkan apa yang salah atau ada apa.

Suatu saat, ia sepertinya pernah mencoba mengenali perkara itu, mungkin persoalannya ada pada hawa nafsu manusia. Seperti yang ia catat: “Manusia mengendalikan hawa nafsu. Aku memperlakukan alam. Pengendalian hawa nafsu manusia terhadap alam.”

Kemudian, Harry Suliztiarto menginsafi proses berkaryanya “seperti sedang bertugas membuat tanda-tanda sederhana sisi muram manusia atas kemanusiaan itu sendiri.”

Sebagai tanda, karya-karya Harry tidak menampilkan suatu adegan atau peristiwa yang memuat gambaran luka atau kematian. Alih-alih karyanya menampilkan objek yang khas. Di sini, karakter, bentuk dan material dari objek jadi penting. Bagaimana olahan material kadang kala dapat mendukung konsep karya, sementara material pada karya berperan penting, bukan hanya dalam menghadirkan rupa, namun dapat menjadi kunci untuk memahami aspek lainnya. Material bisa berkenaan dengan dua hal sekaligus, ia dapat diidentifikasi sebagai struktur dan tampilan visual.

Bagian karya dari Harry Suliztiarto

Di dalam karya Harry, merakit bisa dilihat sebagai struktur, ada laku pengamatan tentang detil dan kalkulasi di situ. Sementara beberapa karya dipoles seadanya, memberikan kesan usang dan mentah. Kesan bermanis-manis tampak dihindari.

Karya Harry, lebih berupaya menggugah imaji kita ketimbang memberikan gambaran yang gamblang tentang luka dan kematian.

Sebongkah batu yang tergantung statis mungkin menggugah ingatan kita pada sesosok jasad yang tergantung atau tandu dapat menjadi tanda metafor dari kecelakaan atau kematian karena fungsi yang melekat padanya. Sementara pada karya yang lain, asosiasi kita digubah melalui apa yang dapat terjadi, misalnya, ketika tubuh kita dikenai tindakan dari karya-karya tersebut.

Bayangkan ketika kita terkena gerigi logam tajam yang berputar, atau bagaimana tubuh kita tertumbuk suatu batang kayu berukuran besar dan berat, lagi, bila tubuh kita terhimpit—atau tergencet—oleh plat kayu bergigi yang terhempas dari atas.

BACA JUGA  Timnas Voli Putri Indonesia Gagal ke Semifinal Meski Hancurkan Lebanon 3-0

Segala asosiasi di muka mungkin membawa imaji kita kepada kondisi-kondisi seperti patah, putus, rusak, linyak, koyak, tercacah dan semacamnya. Suatu imaji yang tidak nyaman dan tentram. Seolah tidak cukup, imaji kita juga digugah dengan hadirnya bunyi tumbukan yang bising menggelegar yang mengganggu kenikmatan pendengaran—mengagetkan, memecah keheningan.

Pamungkas, Harry masih mencoba membangkitan daya asosiasi kita dengan cara mengundang kita untuk melakukan tindakan pada karya. Kita diperbolehkan menumbuk, menghantam, menggencet, memutar, dan melempari—sesuka kita, berkali-kali.

Di sini, pengalaman kita seolah diajak terlibat lebih dekat, membayangkan lebih detail dampak apa yang mungkin dihasilkan dari aksi yang kita lakukan. Asosiasi seperti ini tidak sekadar melibatkan emosi, melainkan juga intuisi, imajinasi dan bukan tidak mungkin, empati. Dengan demikian, keterlibatan itu bisa punya peran penting.

Namun, kita bisa jadi menemukan kondisi paradoks: di satu sisi, kita mungkin merasa bergidik membayangkan dampak perbuatan kita jika sesuatu diletakkan pada karya Harry, di hadapan kita; di sisi lain, kita juga mungkin merasakan kesenangan atas tindakan yang kita lakukan—atas nama—pelepasan atau ekspresi emosi. Di titik inilah karya Harry bisa menawarkan ruang refleksi bagi kita sebagai manusia memaknai luka.

Karya Harry bisa membangkitkan dua macam imaji seperti di atas. Mungkin, karena itu pula pertanyaan reflektif tentang luka dalam kehidupan manusia tidak pernah bertemu kesimpulan. Karena, manusia seringkali berdiri pada dua sisi luka; manusia bisa tidak berdaya sebagai korban yang terluka, sementara manusia lainnya berdiri dengan keyakinan sebagai pelaku yang memberikan luka. (Dikutip dari katalog Pameran Seni Rupa Harry Suliztiarto : Berpihak Pada Luka — Galeri Soemarja ITB, 13 Mei – 13 Juni 2026/AM).

Catatan:

Harry Suliztiarto merupakan seniman patung kelahiran Surabaya 71 tahun lalu yang menempuh pendidikan seni secara formal di studio seni patung Seni Rupa ITB sebagai mahasiswa tahun angkatan 1976.

Dalam skripsi Chandra Johan, Harry Suliztiarto merupakan salah satu dari tujuh mahasiswa dengan karya tugas akhir yang “menyimpang” dari konvensi estetika yang berlaku di ITB pada masa 1970 hingga 1980-an. Karya-karya patungnya kerap mengangkat konsep mengenai “bakal” dan “koyak”. Salah satunya adalah karya tugas akhir Harry yang berbahan dasar kayu sebagai “bakal” yang dihunjam dengan pasak.

Bentuk-bentuk pengoyakan, pengubahan, dan pemiuhan yang dilakukan Harry tidak terlepas dari pengalamannya melihat berbagai macam peristiwa pilu khususnya tragedi-tragedi kemanusiaan pada masa reformasi.

Hobinya memanjat tebing ikut membentuk kecenderungan artistik yang ia miliki. Tidak jarang peralatan dan perlengkapan panjat tebing hadir dalam karya-karyanya, baik sebagai material atau inspirasi mekanisme karya, seperti karya fenomenalnya ketika Harry memanjat dan memajang patung figur di atas kubah planetarium Taman Ismail Marzuki.

Selama dua dekade lebih Harry lebih banyak berkarier dan meraih prestasi-prestasi di bidang panjat tebing sebelum akhirnya ia kembali aktif berkarya. Tidak hanya aktif berkarya, ia juga aktif memamerkan karya-karyanya di berbagai tempat seperti pada pameran “Pura-pura Perupa” (2023), “Milestone” (2024), “Cross Cultural Brotherhood” (2025), dan “ICAD 2025” (2025).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.