Sabtu, 20 Juni 2026, pukul : 17:01 WIB
Surabaya
--°C

Geliat Umat Islam Indonesia di Amsterdam


KEMPALAN: Komunitas muslim Indonesia di Amsterdam memiliki masjid dan fasilitas madrasah, sejak 2005. Selama Ramadhan tahun ini Masjid Euro Muslim ini menyelenggarakan banyak kegiatan yang diikuti oleh warga muslim, termasuk anak-anak milenial.

Gedung itu dibeli dengan uang sumbangan dari anggota dan donatur. Selain menyediakan tempat shalat, gedung juga menjadi tempat kegiatan pendidikan keagamaan anak dan remaja setiap Minggu, istigotsah setiap Sabtu pertama setiap bulan, serta acara diskusi dan temu budaya.

Sudah banyak tokoh Indonesia yang berkunjung ke gedung ini dan berdialog dengan masyarakat Indonesia di Belanda.
Berikut ini wawancara bagian kedua Abdul Aziz Bayaqub jurnalis Kempalan.com di Amsterdam dengan salah satu penanggung jawab masjid Indonesia di Amsterdam, Meneer Sofyan Saleh Al alamudi warga negara Belanda.

Sofyan adalah anak dari Saleh Al amudi, warga keturunan Arab Jl. KHM. Mansyur Surabaya yang lahir, tumbuh besar dan lulus kuliah di Belanda. Dia telah menikah dengan warga negara Indonesia yang juga telah menetap lama di Belanda.

Saat wawancara ini Sofyan didampingi pengurus takmir harian masjid Euro Muslim di Amsterdam, Belanda, Meneer Faisal Rizky, orang Belanda muallaf.

Kempalan: Masjid ini kira – kira bisa menampung berapa orang secara penuh?
Faisal Rizky : Menurut pngalaman kami, masjid ini dapat menampung kurang lebih 600 orang setiap sholat taraweh di bulan Romadhon maupun pada waktu sholat Iedul Fitri.
Menurut pengamatan kami di masjid ini mempunyai panjang dan lebar kurang lebih 35 x 45 meter persegi. Namun hanya sekitar 15 Meter yang bisa kita sebut sebagai ruang sholat tanpa ada sekat tembok untuk ruang- ruang serba guna seperti, ruang photo copy, ruang belajar, dapur, toilet pria/ wanita, ruang istirahat imam, ruang sholat wanita dan gudang mini.
Setiap tahun masjid Euro Muslim menyewa gedung olah raga untuk melakukan sholat Iedul Fitri. Dana menyewa gedung itu kita dapat dari hasil sumbangan para jamaah di setiap waktu sholat Jumat maupun sholat taraweh yang lalu. Kemudian untuk acara halal bihalal warga Indonsia di Amsterdam, diadakan di dalam masjid yang cukup luas tersebut. Dan untuk makanan minuman pun kita dapatkan banyak dari sumbangan amal perorangan, sumbangan dari restoran – restoran Indonesia di Amsterdam dan sekitarnya, serba partisipasi ibu – ibu dan masyarakat secara sukarela dalam rangka mensukseskan hari Iedul Fitri tersebut, yaitu hari kemenangan besar ummat Islam sedunia.
Kempalan : Masyarakat Indonesia di negara Belanda ini, menurut data Panitia Pemilu Luar Negeri yang baru lalu di KBRI Den Haag, berjumlah kurang lebih sebanyak 12.000 orang . Tidak termasuk yang mungkin golpüt ( golongan putih ; tidak mencoblos ). Luas negara Belanda juga kurang lebih seluas propinsi Jawa Tengah.
Namun nampaknya Belanda menjadi salah satu destinasi favorit untuk mencari pekerjaan non formal (blue collar), tanpa disertai ke ahlian yang dibutuhkan di negeri ini. Mudahkah mencari pekerjaan non formal di Belanda ? Bagaimana menurut Anda atas hal tersebut ?
Faisal Rizky : Mungkin sepuluh tahun yang lalu bekerja seperti itu masih mudah didapat. Namun sekarang ini untuk mengadu nasib di Belanda tanpa skill formal, tanpa dokumen resmi, saya kira sudah cukup sulit.
Kempalan Apa kira – kira penyebabnya?
Faisal Rizky : Sekarang sudah cukup susah (mencari kerja non skills, red ).
Kempalan : Apa saran anda bagi calon pencari kerja non formal tadi ?
Faisal Rizky : Sebaiknya bila akan ke Belanda idealnya harus dengan planning / rencana. Misalnya, mencari istri, bekerja di rumah sakit sebagai dokter, perawat, ahli komputer, itu akan mudah dapat pekerjaan. Bila tanpa skill, akan susah hidup di Belanda.
Kempalan: Buku Undang – Undang Hukum di Indonesia adalah peninggalan Belanda. Dapatkah, misalnya orang lulusan fakultas hukum dari salah satu universitas di Indonesia datang ke Belanda lalu ingin bekerja di kantor hukum di Belanda?
Faisal Rizky: Dia kayaknya harus belajar ulang lagi beberapa semester, dan belajar bahasa Belanda juga hingga tingkat mahir. Dan nampaknya itu tidak mudah, kecuali dia melanjutkan kuliah di tingkat S2 atau master hukum, baru bisa bekerja di Belanda. Dan belajar bahasa Belanda adalah wajib untuk orang yang bergerak di bidang hukum.
Kempalan: Apa pesan anda untuk masyarakat Indonesia yang ada di Belanda maupun yang di Indonesia?
Faisal Rizky : Saya merasa senang sekali berada di komunitas orang Indonesia yang cukup ramah, sopan. Sebagai orang Belanda yang telah masuk Islam, ada rasa betah berada ditengah masyarakat Indonesia disini. Semoga ke depannya, kita bisa membeli gedung masjid yang lebih besar lagi. (Abdul Bayaqub/selesai)

BACA JUGA  Terima SKT Kanwil Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Papua Selatan Resmi Terdaftar
forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.