Kuat Ma’ruf The Joker

waktu baca 6 menit
Foto: YoTube

KEMPALAN: IBARAT skenario film, sidang pembunuhan Brigadir Yoshua memunculkan penjahat dan pahlawan. Pemeran utama Ferdy Sambo digambarkan sebagai ‘’the villain’’, tokoh jahat yang layak dihukum mati. Lalu ada peran penjahat pembantu yang dimainkan oleh Putri Cendrawati yang dihukum 20 tahun. Dan, ada peran-peran figuran yang sedang menunggu vonis.

Di antara peran pembantu antagonis itu ada Kuat Ma’ruf the Driver yang divonis 15 tahun, hampir dua kali lipat dari tuntutan jaksa 8 tahun. Ricky Rizal yang juga ikut terlibat dalam pembunuhan divonis 13 tahun, lebih berat dari tuntutan jaksa 8 tahun.

Vonis terhadap Sambo dan Putri Cendrawati menjadi keputusan utama yang penuh ketegangan. Di balik setiap laik-laki sukses terdapat peran seorang perempuan yang kuat. Dan, di balik kejatuhan seorang laki-laki terdapat juga peran perempuan yang kuat. Dua adagium itu bisa menggambarkan perjalanan karir Ferdy Sambo yang sangat mungkin bisa dibuat film layar lebar dengan judul ‘’The Rise and Fall of Ferdy Sambo’’.

Kisah mengenai kesuksesan dan kejatuhan Ferdy Sambo itu bisa mengungkap peran Putri Cendrawati yang sangat signifikan. Di Usianya yang masih relatif muda Ferdy Sambo sudah mempunyai dua bintang di pundaknya. Sebuah prestasi yang layak disebut meteorik, meleseat bak meteor. Tidak ada yang menduga bakal terjadi ‘’the rise and fall’’, yang terlihat adalah ‘’the rise and rise of Ferdy Sambo’’, kesuksesan demi kesuksesan dalam karir Ferdy Sambo.

BACA JUGA: Hukuman Mati untuk Ferdy Sambo The Villain

Ia menyalip pangkat seniornya. Kemudian memegang jabatan sebagai kepala Divisi Propam yang sangat ditakuti oleh semua polisi, karena semua rahasia polisi ada di tangan Divisi Propam. Ia menjadi ketua Satgasus Merah Putih yang powerful dan bekerja secara klandestin. Ia mempunyai jaringan kuat ke semua kelompok, baik yang terang maupun yang gelap.

Itulah sebabnya lawan-lawan politiknya menyebutnya sebagai ‘’Kaisar’’. Ia diduga memimpin jaringan konsorsium perjudian gelap yang beromset triliunan rupiah. Di bunkernya konon tersimpan uang kontan ratusan miliar sampai hampir satu triliun.

Semuanya menjadi desas-desus yang tidak terungkap kepada publik, dan akan tetap menjadi misteri. Persidangan kasus pembunuhan yang melibatkan Sambo tidak menyentuh kasus-kasus itu, karena kasus-kasus itu dianggap sebagai ‘’side story’’, cerita sampingan, yang tidak relevan terhadap pembunuhan Yoshua Hutabarat.

Motif di balik pembunuhan berencana yang sadis itu tidak terungkap dalam persidangan. Rekening Yoshua yang menyimpan uang besar juga tidak menjadi relevan dan tidak dijadikan bukti yang ada sangkut pautnya dengan pembunuhan.

Motif pembunuhan terhadap Yoshua dibangun di atas narasi pelecehan seksual. Dibangun narasi bahwa Yoshua, sang ajudan, berbuat kurang ajar dengan memasuki kamar pribadi Putri Cendrawati dan mencoba memerkosanya. Sebuah narasi yang mirip rumah laba-laba, menjebak tapi lemah. Narasi rumah laba-laba itu mudah dipatahkan karena tidak masuk ke dalam nalar.

BACA JUGA: Pers Indonesia Tidak Baik-Baik Saja

Kamarudin Simanjuntak, pengacara yang vokal dari keluarga Yoshua, tanpa tedeng aling-aling menuduh balik bahwa Putri Cendrawatilah yang mempunyai hasrat terhadap Yoshua, tetapi tidak dilayani. Motif cinta tertolak ini sempat muncul dalam persidangan, tetapi tidak ada saksi yang cukup kuat untuk sampai pada kesimpulan pelecehan seksual.

Sambo dihukum mati dan Putri dihukum 20 tahun penjara, karena dianggap berada pada episentrum kasus pembunuhan ini. Alibi yang coba dibangun Putri atas dasar narasi yang lemah terbongkar oleh mesin pendeteksi kebohongan, lie detector.

Di antara para aktor utama itu ada juga para figuran yang menjadi pelengkap permainan sesuai skenario yang sudah dibangun. Seperti dalam film suspense, ada hero, sang pahlawan, ada villain, sang bajingan. Ada figuran yang dicintai oleh penonton, dan ada yang dicemooh penonton.

Richard Eliezer menjadi figuran yang mendapat simpati dari penonton. Ia menembak Yoshua atas perintah Ferdy Sambo. Di antara para figuran itu Eliezer dituntut paling tinggi 12 tahun. Para penonton sidang membela Eliezer dan menganggapnya tidak bersalah, karena menjalankan perintah.

BACA JUGA: Childfree dan Resesi Seks

Penonton masih menunggu vonis terhadap Eliezer dan berharap mendapat vonis yang lebih ringan. Hakim akan memutuskan apakah Eliezer bisa diberi hukuman ringan. Apakah sikapnya yang sopan dan terbuka selama persidangan bisa membawa ganjaran keringanan hukuman. Eliezer telah berperan sebagai justice collaborator yang membongkar banyak hal gelap dalam pembunuhan. Tetapi, fakta bahwa dia yang menembak langsung Yoshua akan menjadi beban kesalahan yang bisa memberatkannya.

Pemain figuran lain yang berperan penting ialah Kuat Ma’ruf yang bertugas sebagai sopir keluarga. Tetapi, dari cerita sidang yang berkembang, Ma’ruf bukan sekadar sopir biasa. Ia sopir luar biasa karena menjadi orang kepercayaan sang majikan. Sang sopir juga punya otoritas yang lebih tinggi ketimbang para ajudan.

Ibarat dalam film sekuel Batman, Kuat Ma’ruf mirip dengan tokoh ‘’The Joker’’, seorang penjahat berdarah dingin yang melakukan kejahatan dengan tersenyum, tanpa rasa salah dan sesal. Jack Nicholson memainkan peran The Joker dengan sangat baik. Heath Ledger memainkan versi The Joker dengan sangat berbeda dari Nicholson, dan membuatnya mendapatkan ganjaran Piala Oscar karena perannya yang sempurna sebagai penjahat tertawa.

Kuat Ma’ruf mirip The Joker. Fata-fakta persidangan menunjukkan perannya yang signifikan dalam pembunuhan. Ia dianggap menjadi bagian dari skenario palsu dari Putri Cendrawati mengenai pelecehan seksual yang dilakukan Yoshua. Dalam persidangan, Kuat Ma’ruf sering tersenyum. Dalam proses-proses awal ketika masih rekonstruksi, Kuat Ma’ruf juga sering tersenyum.

BACA JUGA: Lahirnya Seorang Diktator

Yang paling mencuri perhatian adalah gaya Kuat Ma’ruf melempar ‘’finger heart’’ sebelum persidangan. Kuat Ma’ruf dua kali melemparkan love sign finger heart ala Korea ke pengunjung sidang sebelum vonis.

Kuat Ma’ruf melemparkan love sign finger heart ala Korea terjadi ketika dia bersaksi di sidang Richard Eliezer pada 5 November 2022. Ia melempar finger heart itu ketika pengunjung sidang riuh saat dia memasuki ruang sidang. Action kedua dilakukan Kuat sebelum vonisnya dibacakan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan hari ini (14/2).

Dalam sidang itu pengunjung riuh memanggil nama Eliezer dan Kuat Ma’ruf. Entah dari mana datangnya para suporter itu. Saat pengunjung meneriakkan namanya, Kua Ma’ruf menoleh ke arah pengunjung sambil tersenyum dan mengacungkan sinyal finger heart.

Gaya Kuat Ma’ruf ini menarik perhatian pengunjung dan wartawan yang meliput sidang. Tetapi, hakim yang memimpin sidang rupanya tidak terkesan oleh gaya Kuat Ma’ruf. Hakim pun menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara.

Hukuman berat nyaris dua kali lipat dari tunutan jaksa ini dijatuhkan karena Kuat Ma’ruf dianggap berbelit-belit dalam memberikan kesaksian dan keterangan, sehingga menyulitkan hakim. Kuat Ma’ruf dianggap tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan. Dan, Kuat Ma’ruf terkena pasal geregetan, karena dianggap tidak sopan dalam persidangan.

Andai saja kisah Sambo dibikin film layar lebar, butuh aktor watak yang kuat untuk memerankan tokoh Kuat Ma’ruf The Joker. (*)

Editor: DAD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *