SURABAYA-KEMPALAN: Sebuah langkah radikal dan berani diambil oleh Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dalam perayaan Iduladha 1447 Hijriah. Kampus ini secara resmi melarang seluruh dosen, tenaga kependidikan (tendik), hingga jajaran pejabat utama (PJU) rektorat untuk menerima daging kurban. Seluruh alokasi hewan kurban dialihkan secara mutlak bagi kalangan bawah di lingkungan kampus.
Penyembelihan dan pendistribusian hewan kurban dilaksanakan pada Rabu (27/5/2026) di Masjid Joglo FIKK, Kompleks Unesa Kampus 2 Lidah Wetan, Surabaya. Sebanyak 5 ekor sapi dan 1 ekor kambing disembelih dalam acara ini. Seluruh hewan tersebut merupakan hasil patungan dari para dosen, tendik, PJU Rektorat Unesa, serta Dharma Wanita Persatuan (DWP).

Langkah ini diambil untuk mengembalikan esensi sejati dari ibadah kurban, yaitu keberpihakan penuh kepada kaum duafa dan mereka yang membutuhkan. Kebijakan membalik tradisi ini memastikan tidak ada satu pun kantong daging yang masuk ke lemari es para pegawai berpenghasilan mapan.

Keberpihakan Nyata untuk 600 Penerima
Ketua Takmir Masjid Joglo Unesa, Dr. Achmad Widodo, M.Kes., menegaskan bahwa keputusan ini merupakan amanah langsung dari jajaran pimpinan rektorat guna menyampaikan pesan sosial yang mendalam.
“Ya, saya diberi amanah oleh pimpinan rektorat untuk menyampaikan pesan mendalam ini kepada masyarakat kampus, khususnya para pekerja cleaning service, security, dan pekerja paling bawah selingkung Unesa 1 dan 2. Total data penerima daging hewan kurban sekitar 600 orang, mulai dari cleaning service, security, dan pekerja serabutan di lingkungan kampus Unesa, termasuk sebagian kecil mahasiswa rantau yang tetap tinggal di asrama kampus,” ujar Dr. Achmad Widodo saat ditemui di lokasi penyembelihan.
Menurutnya, mahasiswa rantau yang tidak pulang ke kampung halaman karena libur singkat juga menjadi perhatian utama. Mereka dinilai layak mendapatkan kebahagiaan Iduladha di tanah perantauan.
Haru dan Syukur dari Lini Terbawah
Kebijakan ini menghadirkan suasana haru sekaligus suka cita yang mendalam bagi para pekerja lapangan di Unesa. Salah seorang petugas cleaning service Unesa mengungkapkan rasa syukur yang tak terhingga atas kebijakan yang dinilai sangat memanusiakan pekerja kecil ini.
“Baru kali ini ada aturan seketat itu, di mana dosen tidak boleh mengambil hak kami yang kecil ini. Biasanya kami hanya mendapat bagian sisa atau harus mengantre paling belakang. Tahun ini kami merasa sangat dihargai. Terima kasih kepada para dosen dan pimpinan Unesa yang sudah ikhlas patungan tanpa meminta kembali dagingnya. Ini kurban yang sesungguhnya bagi kami,” ungkapnya dengan haru.
Format kurban transformatif yang diusung Unesa ini menjadi preseden baru di dunia akademik nasional. Kampus tidak hanya menjadi menara gading keilmuan, tetapi juga episentrum kepedulian sosial yang konkret dan berani.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan )

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi