Jumat, 19 Juni 2026, pukul : 08:59 WIB
Surabaya
--°C

Saat Negeri Lain Panen Dolar, Indonesia Membiarkan Anggreknya Layu Tanpa Perhatian Pemerintah

KEMPALAN: Di tengah hingar-bingar pameran anggrek internasional di Asia, nama Indonesia tetap hadir melalui satu sosok, yaitu Rudy M. Mintarto. Selama lebih dari 15 tahun, alumnus Arsitektur Universitas Udayana Bali itu konsisten memenuhi undangan berbagai pameran anggrek dunia demi menjaga kehormatan Indonesia di mata komunitas internasional.

Bukan sebagai pengusaha besar. Bukan pula eksportir papan atas. Rudy hadir membawa misi sederhana yang justru nyaris luput dari perhatian negara: memastikan dunia tidak melupakan bahwa Indonesia memiliki kekayaan anggrek terbaik.

“Saya hanya ingin dua hal. Bendera merah putih tetap berkibar bersama negara lain, dan dunia tetap ingat bahwa anggrek Indonesia masih hidup,” ujar Rudy saat ditemui di kediamannya di kawasan Gubeng Kertajaya, Surabaya.

Pada 29 Mei 2026, Rudy kembali bertolak menuju Genting Highland, Malaysia, untuk mengikuti pameran anggrek internasional yang berlangsung 3–10 Juni 2026 di Resort World Awana.

Dalam area display seluas 32 meter persegi, Rudy tidak hanya menghadirkan bunga-bunga eksotis. Ia juga membawa wajah budaya Indonesia melalui visual Jaranan, Tari Remo, Gandrung Banyuwangi, hingga nuansa arsitektur candi yang dipadukan dengan keindahan anggrek.

Sebuah diplomasi budaya yang dijalankan nyaris tanpa dukungan negara.

Ironisnya, di saat individu seperti Rudy berupaya menjaga nama Indonesia di panggung internasional, pemerintah belum menempatkan anggrek sebagai komoditas strategis penghasil devisa. Padahal Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman anggrek terbesar di dunia.

Potensi Besar yang Terabaikan

Data Badan Pusat Statistik tahun 2019 menunjukkan ekspor anggrek Indonesia hanya sekitar 38 ribu kilogram dengan nilai Rp 3,2 miliar. Angka tersebut sangat kecil dibanding Thailand yang mampu menghasilkan ratusan juta dolar AS dari ekspor anggrek setiap tahun.

BACA JUGA  Mengulik Penampungan Pengungsi Perang dan Pencari Suaka Politik dari Seluruh Dunia di Amsterdam Belanda, Zurich Swiss, dan Kota Rada Norwegia

Taiwan bahkan sukses menjadikan anggrek Phalaenopsis sebagai industri berbasis teknologi dan riset dengan nilai ekspor lebih dari 200 juta dolar AS per tahun.

Indonesia tertinggal jauh.

“Yang lemah bukan kualitas anggreknya. Dunia mengakui anggrek Indonesia sangat bagus. Tapi kita kalah karena tidak ada keberpihakan politik,” kata Rudy.

Selama ini perhatian pemerintah lebih banyak diarahkan pada sektor pangan seperti padi, jagung, dan hortikultura konsumsi. Anggrek masih dianggap sekadar tanaman hias, bukan aset ekonomi masa depan.

Akibatnya, petani anggrek harus menghadapi sendiri keruwetan aturan ekspor, prosedur karantina yang panjang, hingga regulasi CITES yang sering membingungkan.

Persoalan terbesar terdapat pada regulasi. Banyak jenis anggrek Indonesia masuk Appendix I dan II CITES karena berasal dari spesies yang dilindungi. Namun implementasinya di Indonesia sering tidak membedakan antara anggrek liar dan hasil budidaya kultur jaringan.

Dampaknya, petani yang membudidayakan anggrek secara legal tetap harus melewati prosedur ekspor yang panjang dan melelahkan.

“Petani akhirnya takut ekspor, padahal itu hasil budidaya, bukan mengambil dari alam,” ujar Rudy.

Di negara lain, pemerintah justru hadir memberikan dukungan nyata. Thailand aktif membantu riset, sertifikasi kebun, hingga membuka akses pasar internasional. Industri anggrek dibangun terintegrasi dari hulu sampai hilir.

Petani kecil dihimpun dalam koperasi dan didukung fasilitas trading, packing, hingga standar ekspor global.

Taiwan melangkah lebih modern melalui teknologi greenhouse otomatis, kultur jaringan canggih, dan diplomasi perdagangan yang agresif.

Hasilnya, Taiwan mampu mengekspor anggrek lengkap dengan media tanam ke Amerika Serikat.

Sebaliknya, Indonesia masih diwajibkan mengirim anggrek tanpa media tanam sehingga biaya logistik lebih mahal dan risiko kerusakan tanaman sangat tinggi.

Singapura memang bukan produsen utama, tetapi berhasil menjadi pusat perdagangan anggrek premium Asia karena regulasi yang cepat dan efisien.

BACA JUGA  Menjaga Marwah Jam’iyah di Tengah Pusaran Kontestasi Kekuasaan

Indonesia justru seperti raksasa yang tertidur di atas kekayaan alamnya sendiri.

Menanti Keseriusan Negara

Menurut Rudy, kebangkitan industri anggrek nasional tidak memerlukan proyek besar. Yang paling dibutuhkan justru keberanian politik untuk memperbaiki regulasi dan membuka akses pasar.

Pemerintah harus mampu membedakan secara tegas antara anggrek liar dan anggrek hasil kultur jaringan agar petani kecil tidak terbebani proses perizinan yang rumit.

Selain itu, diplomasi karantina dengan negara tujuan ekspor juga perlu diperkuat agar Indonesia memperoleh perlakuan setara seperti Taiwan.

“Kalau regulasi dipermudah, petani anggrek Indonesia bisa langsung berkembang,” katanya.

Dukungan lain yang dibutuhkan adalah riset varietas unggul, pembangunan fasilitas packing dan cold chain, serta pembentukan koperasi atau off-taker yang menjamin pasar ekspor bagi petani kecil.

Yang tak kalah penting ialah membangun branding nasional. Selama ini dunia mengenal “Thai Orchid”, tetapi belum ada gaung kuat tentang “Indonesia Orchid”, padahal Indonesia memiliki ribuan spesies anggrek langka yang tidak dimiliki negara lain.

Menjaga Nama Indonesia Sendirian

Di tengah minimnya perhatian pemerintah, Rudy tetap melangkah dari satu negara ke negara lain membawa nama Indonesia. Baginya, pameran anggrek bukan sekadar soal bunga.
Di sana ada pertaruhan nama bangsa, kebudayaan, dan peluang ekonomi yang belum dipandang serius oleh negara.

Karena itu Rudy terus datang, meski harus berjuang hampir sendirian. Sebab jika para pecinta anggrek berhenti menjaga nyala itu, Indonesia perlahan hanya akan menjadi penonton atas kekayaan hayatinya sendiri.

Ketika negara lain menikmati devisa dari anggrek, Indonesia masih sibuk mencari alasan mengapa peluang besar itu terus terlewatkan. Ironis.

Penulis:
Rokimdakas

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.