Tradisi ini tidak bisa diganti dengan ‘’halal bihalal digital’’ atau ‘’mudik virtual’’ sebagaimana dikampanyekan pemerintah dalam dua tahun terakhir. Secanggih apapun teknologi komunikasi modern tidak akan bisa menggantikan ‘’personal communication’’. Secanggih apapun CMC, computer mediated communication melalui teknologi internet, tidak akan bisa menggantikan personal touch melalui komunikasi face to face, tatap muka secara langsung.
Teknologi digital sudah melahirkan realitas virtual yang nyaris sempurna. Revolusi digital sudah menghasilkan augmented reality yang nyaris tanpa cacat. Revolusi digital sudah menghasilkan teknologi metaverse yang bisa membawa realitas ke depan mata. Tetapi, teknologi canggih itu tetap tidak akan bisa menghadirkan ruh komunikasi personal, yang menghadirkan ekspresi kemanusiaan seperti cinta, rindu, kasih sayang, bahagia, dan sentimen personal lainnya.
BACA JUGA: Ngelus Dada
Ramadan dan lebaran adalah ritual agama yang sudah menyatu menjadi budaya nasional. Ritual sosial dan religi itu sudah menjadi bagian dari ekosistem budaya nasional yang membawa dampak multi-effect yang sangat penting. Salah satu efek yang nyata adalah efek ekonomi.
Presiden Jokowi sudah mengklaim bahwa Indonesia berhasil mengatasi pandemi tiga tahun terakhir ini karena strateginya yang jitu. Indonesia tidak menerapkan lockdown sebagaimana yang dilakukan negara-negara lain. Indonesia lebih memilih melakukan pembatasan kegiatan secara selektif melalui PPKM dan sejenisnya.
Strategi ini dianggap jitu karena dengan begitu Indonesia bisa menghindari dampak penurunan ekonomi yang bisa membawa resesi panjang. Menteri Luhut Panjaitan yang menjadi komandan satuan tugas penanganan pandemi terlihat lebih mengutamakan pendekatan ekonomi ketimbang kesehatan.
Dalam beberapa kasus hal itu terlihat dengan jelas. Selama liburan Natal dan tahun baru 2021 pemerintah memutuskan untuk tidak menerapkan PPKM level tinggi. Demikian pula pada momen Imlek 2022, pemerintah memberi kelonggaran yang cukup luas.
BACA JUGA: Big Dusta
Pertimbangan ekonomi menjadi alasan untuk melonggarkan aturan pembatasan pada dua momen itu. Sekarang, ketika tiba momen Ramadan dan lebaran seyogyanya pemerintah memberi perlakun yang sama dengan memberi kelonggaran sebagaimana yang diberikan pada natal, tahun baru, dan imlek.
Pertimbangan ekonomi oleh Luhut biasanya mengatasi petimbangan kesehatan. Pertimbangan politik juga mengatasi pertimbangan kesehatan seperti yang terjadi pada pemilu serentak 2020. Usul penundaan pemilu ditolak dan pemerintah jalan terus sesuai jadwal.
Kali ini seharusnya masyarakat muslim diberi kesempatan yang sama untuk menikmati hari-hari istimewa Ramadan dan lebaran. Persayaratan booster terasa memberatkan. Kasihan, Bang Toyib tidak bisa mudik lagi. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi