KEMPALAN: Di sebuah studio desain di wilayah Wudi, Provinsi Shandong, China timur, seorang desainer bernama Li Zeyi (22) sedang mengerjakan sebuah lini baru produk budaya dan kreatif yang terinspirasi dari astronomi China kuno.
Di layar komputernya, 28 rasi dalam sistem astronomi tradisional China diubah menjadi simbol-simbol modern yang sederhana dengan pola estetika khas China.
“Para desainer muda harus bertindak sebagai jembatan,” ujar Li. “Kita perlu membawa tradisi lama ke dalam bentuk ekspresi baru, sembari membantu masyarakat saat ini menemukan kembali akar budaya mereka.”
Li pernah belajar dan bekerja di Shanghai, kota metropolitan tempat dia mengembangkan visi artistiknya dan memperluas wawasannya sebagai seorang desainer muda.
Namun, dia akhirnya memilih untuk kembali ke kampung halamannya di Wudi untuk memulai bisnisnya sendiri. Wudi bukan hanya sebuah wilayah kecil dengan sejarah panjang yang dikenal lewat produksi garam dan perikanannya, tetapi juga memiliki warisan budaya yang kaya.
Setelah berulang kali melakukan studi lapangan, Li menemukan bahwa kota kuno Wudi, budaya pesisir, dan tradisi rakyatnya menawarkan inspirasi yang melimpah. Melihat peluang, dia mulai memanfaatkan kekayaan budaya setempat untuk mendesain produk-produk budaya dan kreatif bernuansa anak muda yang dapat menarik konsumen modern.
Dengan berfokus pada kota kuno Wudi, Li telah mengembangkan lebih dari 30 produk. Salah satu yang paling populer adalah magnet kulkas yang terinspirasi dari tiket perahu untuk wisata mengelilingi kota tua itu.
“Saya menggabungkan landmark setempat seperti Teluk Teratai (Lotus Bay), kota kuno itu, dan Menara Haifeng ke dalam desainnya,” ujar Li. “Perahu kecil pada magnet tersebut dapat digeser dari sisi satu ke sisi lainnya, sehingga pengunjung dapat mengenang pengalaman perjalanan mereka sembari memainkannya.”
Li tidak sendirian. Di seluruh China, semakin banyak desainer muda yang beralih ke budaya tradisional dan lokal untuk mendapatkan inspirasi kreatif.
Di Anqing, Provinsi Anhui, China timur, desainer Huang Shen mengembangkan puluhan produk yang terinspirasi dari Opera Huangmei, salah satu bentuk opera tradisional China. Sementara itu di Luoyang, Provinsi Henan, China tengah, para wirausahawan muda memadukan budaya peony yang terkenal dari kota tersebut dan elemen tembikar glasir tiga warna Dinasti Tang dengan kopi, pastri, dan makanan lainnya.
“Produk budaya bukan hanya tentang mencetak pola tradisional pada barang dagangan,” tutur Li. “Kuncinya adalah menemukan hubungan alami antara tradisi dan kehidupan modern.”
Dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan meningkatnya visibilitas budaya China di luar negeri dan semakin banyak wisatawan asing yang berkunjung ke China, produk-produk budaya dan kreatif telah menjadi jendela hidup bagi orang-orang untuk lebih memahami budaya China.
Pada awal tahun ini, “tas kepala harimau” bergaya China baru yang dibawa putra Elon Musk saat berkunjung ke China menjadi viral di internet. Terinspirasi oleh topi dan sepatu kepala harimau tradisional dari China barat laut, tas itu dirancang oleh desainer muda bernama Liu Siwei dan menunjukkan daya tarik produk budaya inovatif China di kalangan audiens luar negeri.
“Khalayak asing mungkin tidak sepenuhnya memahami sejarah atau makna budaya China, tetapi mereka dapat merasakan kualitas artistik dari gambar-gambar tersebut serta keindahan estetika Timur,” kata Li.
Dengan pemikiran itu, Li berupaya mengubah budaya tradisional China menjadi grafis, pola, dan warna, yang menurutnya dapat menjadi bahasa bersama dalam komunikasi lintas budaya.
Karena 2026 merupakan Tahun Kuda dalam kalender lunar China, Li menciptakan desain bertema kuda yang ceria, yang terdiri dari tiga karakter kuda dan menggambarkan citra kuda yang berlari maju.
“Warna ketiga kuda tersebut berasal dari palet tradisional China, termasuk merah tua, hijau zamrud, dan nila,” ujar Li. “Tubuh mereka juga menampilkan pola klasik dari lukisan Tahun Baru cetak balok kayu, yang mempertahankan pesona sederhana seni rakyat.”
Desain itu telah diterapkan pada sejumlah produk budaya. Karya tersebut juga terpilih untuk mengikuti sebuah pameran desain global yang melakukan tur ke berbagai negara dan kawasan, termasuk Turkiye, Kanada, dan Indonesia.
“Pola tradisional China yang elegan dan garis emas yang halus memadukan pesona budaya oriental yang abadi dengan estetika modern yang trendi secara sempurna,” ujar Karen, seorang pengunjung asal Indonesia.
Seiring semakin banyak desainer muda yang mengalihkan pandangan mereka ke kampung halaman, tradisi, dan dunia yang lebih luas, produk budaya dan kreatif China muncul sebagai media hidup yang membawa kisah-kisah China, estetika timur, dan dialog antarperadaban, bukan sekadar suvenir biasa.
“Budaya tradisional China dapat dilihat oleh dunia,” ujar Li, “selama kita menemukan cara yang tepat untuk mengekspresikannya.”

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi