Bagaimana dengan sikap Indonesia? Kabarnya, Indonesia siap gabung dengan NATO Islam itu. Prosentasenya sekitar 80 persen. Apalagi, selama ini Indonesia sudah dekat dengan Dua Negara Super Power Baru tersebut.
Oleh: Mochamad Toha
KEMPALAN: Diberitakan, Iran berencana membentuk NATO atau front keamanan bersatu untuk negara-negara muslim. Hal ini diungkap oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam kunjungan kenegaraan ke Pakistan.
Presiden Masoud menekankan pentingnya memperkuat persatuan di dunia Islam dan meningkatkan koordinasi di antara negara-negara Muslim. Bertujuan untuk melindungi kepentingan bersama.
Presiden Iran itu juga menyebut dirinya telah berbicara dengan Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Mesir dan Turki. Masoud menyerukan ada pembentukan kerangka keamanan regional baru yang berakar pada dialog, saling menghormati, dan kerja sama.
Dia menegaskan perdamaian abadi dan kemakmuran di Asia Barat dan Teluk Persia hanya bisa terwujud melalui keterlibatan yang dipimpin negara-negara regional.
Presiden Iran percaya kalau keamanan, stabilitas, pembangunan dan kemajuan ekonomi yang berkelanjutan memerlukan dialog jujur dan interaksi konstruktif antara negara-negara tetangga daripada intervensi eksternal.
Melalui konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di Islamabad, Presiden Masoud menyebut Iran mengulurkan tangan persahabatan untuk membangun struktur keamanan regional baru.
NATO Islam
Sekitar sepekan lalu, saya sempat bertelpon ria dengan seorang teman wartawan. Dia bilang, Iran bakal membentuk NATO Islam. Dan, Indonesia bakal ikut bersama Iran, Turki, Mesir dan negara-negara Islam lainnya.
Sahabat saya itu bercerita, bahwa dua Negara Super Power Baru akan menjadi penasehatnya. Indonesia sejak zaman Preside Soekarno, memang bersahabat dengan dua Negara Super Power itu. Dan benar.
Omongan sahabat saya itu terbukti. Media masional menulis soal itu. Iran telah memprakarsai pembentukan aliansi keamanan atau “NATO versi Islam” berupa front keamanan bersatu bagi negara-negara Muslim.
Inisiasi ini disuarakan oleh Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, untuk melawan musuh bersama dan mengakhiri campur tangan kekuatan Barat dalam arsitektur keamanan regional.
Iran secara aktif melobi dan mengajak sejumlah negara Islam besar, termasuk Arab Saudi, Turki, Pakistan, Mesir, dan Qatar guna membangun pakta pertahanan kolektif tersebut.
Ide ini didorong oleh memanasnya situasi di kawasan serta langkah diplomatik sebelumnya yang juga sempat diusulkan oleh Mesir.
Isu “NATO Muslim” (atau aliansi pertahanan gabungan negara-negara mayoritas Muslim) kembali menguat menyusul terjadinya eskalasi konflik di Timur Tengah. Negara Pencetus: Wacana ini didorong secara aktif oleh Pakistan, Iran, Turki, dan Arab Saudi.
Menyimak YouTube Channel Bossman Mardigu bahwa pemicu Utama dari Pembentukan aliansi ini didorong oleh agresi Israel dan kekhawatiran negara-negara kawasan atas ambisi regional mereka.
Adapun Prinsip Pertahanan: Konsep ini dirancang supaya serupa dengan pakta kolektif NATO (seperti Pasal 5 NATO), di mana jika satu negara anggota diserang, negara lain akan menganggapnya sebagai ancaman bersama.
Laporan lengkap mengenai dinamika geopolitik ini dibahas oleh berbagai media internasional, seperti liputan tentang empat negara yang telah merancang pakta pertahanan di CNN Indonesia.
Bahwa di Dunia ini tidak ada yang kebetulan. Dalam geopolitik, Pertahanan terbaik adalah Menyerang Sebelum Diserang, adalah sebuah Kepastian. Itulah hukum alam yang tidak tertulis.
Mungkin kita masih ingat mengapa Rusia menyerang Ukraina habis-habisan? Alasannya sederhana. Karena Ukraina genit, ingin masuk Anggota NATO. Maka Rusia mengambil langkah Antisipatif.
Sebelum moncong meriam Barat tegak Berdiri tepat di depan halaman rumah mereka (Rusia).
Dulu, ketika Barat mendirikan NATO, Uni Soviet langsung membalasnya dengan Benteng Raksana bernama Pakta WARSAWA. Kekuatan Militer dilawan dengan Aliansi Militer.
Bahwa jika berani sentuh satu Negara, berani sentuh satu Anggota, artinya Anda siap berperang melawan seluruh isi Aliansi.
Namun, selama bertahun-tahun, ada satu wilayah di Bumi ini, yang selalu dibuat kocar-kacir, diadu-domba dan dibiarkan tercerai-berai.
Tanpa perlindungan geopolitik, namanya Dunia Islam. Namun Dunia Islam mulai hari ini… Detik ini…Mereka bersiap. Karena ada peta permainan Global Baru.
Yang akan membalikkan ini semua. Dunia dipaksa tersentak oleh satu Manuver yang tidak pernah diduga oleh Pentagon sebelumnya. Iran baru saja menabuh Genderang Perang.
Geopolitik Baru: Menginisiasi Berdirinya “NATO-Nya Negara Islam”. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, secara mengejutkan telah meluncurkan Proposal Arsitektur Pertahanan Muslim yang baru. Iran tidak lagi Bermain di Balik Layar.
Mereka maju ke depan, mengajak raksasa-raksana Muslim Dunia untuk Melebur ego masa lalu.
Siapa saja yang diajak? Tidak main-main. Di barisan depan ada Turkiye dengan kekuatan Militer cukup kuat. Dan dia juga anggota NATO Eropa.
Lalu, ada Arab Saudi sang penjaga Dua Kota Suci, sekaligus pemegang kendali PetroDollar. Ditambah Pakistan dengan hulu ledak Nuklirnya, serta Qatar dan Mesir sebagai Poros Logistik dan Diplomatik Strategis.
Langkah Aplikatifnya sangat cerdas dan terukur.
Pada awalnya Langkah Aplikatifnya sangat cerdas dan terukur. Awalnya “NATO Muslim” ini membangun kekuatan dan keamanan bersama di Kawasan Teluk. Tujuannya?
Mengunci stabilitas Asia Barat agar bersih dari intervensi militer asing di kawasan itu. Yang intinya mengeruk kekuatan alam. Dan, kekuasaan geopolitik mereka.
Pada fase berikutnya: Membuka pintu bagi seluruh Negara Islam lainnya untuk bergabung membangun Aliaansi Militer Global. Fase terakhir: Ketika militer sudah solid, Dominasi Ekonomi akan mengikuti.
Ujungnya? Mata uang bersama umat Islam akan tercipa, Kekuatan Emas. Menjadi alat tukar, bisa menjadi terlaksana.
Menghancurkan hegemoni finansial Barat. Dengan langkah itu, ini adalah mimpi buruk. Yang paling ditakuti oleh Tel Aviv dan Washington. Selama ini dua negara tersebut Merajai Timur Tengah. Karena keduanya menggunakan strategi Divide And Conquer.
Mereka melakukan pecah-belah dan menguasai. Jadi, bukan hanya sekedar dipecah-belah. Tetapi termasuk dikuasai. Iran kini menyodorkan penawaran sebaliknya: Saling Memaafkan masa lalu, membuka diri dan bersatu.
Di bawah satu payung Pertahanan Bersama. Melihat pergerakan ini, Pentagon terang-terangan panik dan gerah. Tapi anehnya, mereka kali ini, Amerika Serikat tentunya, terlihat melunak.
Dan lebih memilih Jalan Damai? Mengapa mereka tidak langsung mengirim Kapal Induknya untuk meratakan Strategi Iran ini dengan menyerang Iran?
Jawabannya adalah karena Amerika sadar: Kekuatan Aliansi baru ini adalah suatu Kekuatan Nyata. Wajib dihormati, bukan lagi sekadar dan takut akan gertakan di atas kertas.
Ketika fraksi-fraksi Muslim terbesar ini bersatu, maka musuh bersama umat Islam di Tanah Palestina tinggal menyisakan satu nama: Israel.
Banyak orang bersorak, bahwa mengira ini adalah Babak Akhir dari penderitaan Palestina. Selamat tinggal Penjajahan, Selamat Datang Kemerdekaan! Semua itu terlihat begitu indah, bgitu heroik.
Kita harus mempertimbangkan faktor yang lain. Pernahkah Anda berpikir dari sudut pandang yang berbeda? Di dalam catur geopolitik tingkat tinggi, Musuh yang paling berbahaya bukanlah musuh yang mengarahkan senjata kepada Anda.
Melainkan musuh yang tiba-tiba mengizinkan Anda membangun senjata terbesar Anda tersebut, Amerika! Pertanyaannya: Apakah Amerika benar-benar takut dan memilih damai?
Atau justru Pentagon memang sengaja membiarkan “NATO Muslim” ini terbentuk aliansinya supaya seluruh kekuatan militer Dunia Islam itu berkumpul dalam satu wadah dan tempat yang sama. Sehingga mereka hanya perlu hanya menarik satu pelatuk untuk membinasakan semuanya sekaligus?
Apakah ini awal dari Kejayaan Umat Islam… Atau justru Islamic NATO ini Jebakan Batman terbesar dalam sejarah Peradaban Manusia untuk memicu Perang Dunia Ketiga? Coba pikirkan baik-baik.
Tapi apapun itu, Aliansi Muslim, NATO-nya Muslim, patut untuk dipertimbangkan: #Peace.
Mungkinkah Ramalan mengenai kemerdekaan Palestina pada tahun 2027 seperti pernyataan pendiri sekaligus pemimpin spiritual HAMAS, Syekh Ahmad Yassin, pada tahun 1999, terealisasi.
Beliau memprediksi bahwa Israel akan runtuh dan Palestina akan merdeka pada tahun 2027 berdasarkan analisis Al-Qur’an dan siklus sejarah 40 tahunan. Apalagi, konon, yang membebaskan itu adalah kekuatan dari Timur (baca: Indonesia).
Bagaimana dengan sikap Indonesia? Kabarnya, Indonesia siap gabung dengan NATO Islam itu. Prosentasenya sekitar 80 persen. Apalagi, selama ini Indonesia sudah dekat dengan Dua Negara Super Power Baru tersebut.
Kedekatan Indonesia dengan keduanya itu, bisa untuk mengimbangi kekuatan di kawasan Laut China Selatan secara geopolitik. Kawasan LCS ini bisa menjadi suatu kawasan konflik regional antara Amerika Serikat dengan China dan Rusia.
Di sinilah letak strategi mengapa Indonesia harus bergabung dengan NATO Islam itu. Ada nilai positif yang bakal diterima Indonesia.
*) Mochamad Toha, Wartawan
Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi