KEMPALAN: MEGAWATI Soekarnoputri ‘’ngelus dada’’ melihat ibu-ibu antre berdesak-desakan dan berebutan–sampai ada yang mati—untuk mendapatkan minyak goreng murah. Mega heran, mengapa ibu-ibu itu berebutan minyak goreng, padahal seharusnya ibu-ibu itu bisa lebih kreatif dalam memasak supaya tidak perlu minyak goreng.
Mega, mengelus dada tanda prihatin. Bukan prihatin terhadap kelangkaan minyak goreng, tapi prihatin terhadap ibu-ibu yang memaksa antre membeli minyak goreng. Mega tidak mengelus dada melihat pemerintahan Jokowi yang gagal mengatasi krisis minyak goreng yang sudah berbulan-bulan.
Mega tidak mengelus dada terhadap Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi yang sudah berbulan-bulan tidak bisa mengatasi lonjakan harga minyak goreng. Setiap hari Lutfi muncul di televisi berkeliling ke pasar tradisional, berdialog dengan pedagang, lalu membuat pernyataan pasokan minyak goreng aman, dan harga minyak goreng terkendali. Tiap hari Lutfi berbicara seperti itu, tapi tiap hari pula minyak goreng makin sulit didapat.
Mega tidak mengelus dada melihat kenyataan bahwa Indonesia adalah penghasil kelapa sawit terbesar di dunia, tapi ironisnya harga kelapa sawit di dalam negeri justru melonjak karena mengikuti harga di pasar internasional. Rakyat tidak paham mekanisme perdagangan internasional yang jelimet. Rakyat hanya ingin agar minyak goreng ada di pasar dengan harga normal.
Rakyat hanya tahu bahwa Indonesia adalah pusat perkebunan kelapa sawit dunia dan harusnya minyak goreng melimpah dan tidak pernah ada kelangkaan. Waktu masih sekolah di SD ibu-ibu itu pernah diajari pribahasa ‘’ayam mati kelaparan di lumbung padi’’. Sekarang ibu-ibu itu tahu dan merasakan arti pribahasa itu.
BACA JUGA: Big Dusta
Mega tidak perlu mengajari rakyat untuk hidup prihatin, karena setiap hari rakyat sudah hidup prihatin. Rakyat Indonesia sudah sangat tangguh dalam menghadapi segala macam penderitaan. Harga-harga naik, sudah biasa dihadapi dengan tabah dan prihatin. Jadi tidak perlu lagi ada yang mengajari rakyat untuk prihatin.
Mega harusnya mengelus dada karena Jokowi tidak hadir dalam krisis kelangkaan minyak goreng ini. Alih-alih mengurusi minyak goreng malah sibuk kemping dan mengumpulkan air dan tanah keramat dari mana-mana. Seharusnya Jokowi sesekali menginap di rumah rakyat supaya tahu bagaimana kesulitan rakyat menghadapi krisis ini.
Dulu Jokowi sering mengatakan negara harus hadir di tengah rakyat. Tapi, sekarang ketika rakyat membutuhkan kehadiran negara ternyata negara malah absen dan menghilang. Anak-anak milenial menyebut fenomena ini sebagai ghosting, menghilang tanpa pesan.
BACA JUGA: Pendeta Saifuddin
Dulu Jokowi sering mengutip frasa revolusi mental. Sekarang frasa itu tidak pernah lagi disebut-sebut. Revolusi mental sudah terpental. Jokowi pernah menyerukan TNI-Polri supaya menjaga disiplin. Sekarang Jokowi tahu rakyat sudah sangat disiplin, terutama disiplin antre minyak goreng.
Krisis minyak goreng ini sangat memukul wong cilik. PDIP yang mengklaim sebagai partai wong cilik seharusnya bekerja keras mengamankan kebutuhan wong cilik. Mega sebagai ketua partai wong cilik harusnya menunjukkan simpati kepada wong cilik. Tapi, alih-alih bersimpati Mega malah ngelus dada.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi