Senin, 20 April 2026, pukul : 02:20 WIB
Surabaya
--°C

Pendeta Saifuddin

KEMPALAN: PENDETA Saifuddin Ibrahim AKA Abraham ben Moses menjadi orang kesekian yang mengunggah konten video yang menyerang agama lain dengan ujaran kebencian. Dan ini bukan kali pertama. Sang pendeta sudah pernah melakukannya pada 2018 dan dihukum karenanya.

Rangkaian—atau mungkin bisa disebut sebagai gelombang—video bernada hate speech semacam ini bermunculan beberapa tahun terakhir, membuat atmosfer beragama kita terasa sumuk dan sesak. Hampir setiap hari ada saja konten yang panas dan memancing reaksi keras. Muncul konten panas, lalu reaksi keras, lalu muncul gugatan hukum, lalu ditangkap, lalu dipenjara.

Muhamad Kace, Ferdinand Hutahaean, dan banyak lagi lainnya, berputar-putar seperti gerakan sirkular yang tidak ada habisnya, membentuk ekosistem beragama yang tidak nyaman. Menteri agama membuat pernyataan yang membuat panas. Lalu reaksi bermunculan dimana-mana, laporan kepada polisi bermunculan. Terus-menerus seperti itu. Sebuah ekosistem beragama yang gerah telah terbentuk.

Kali ini, dalam sebuah video, Pendeta Saifuddin meminta menteri agama merevisi atau menghapus 300 ayat Alquran yang dianggapnya menjadi pemicu paham radikalisme yang berbahaya. Jangan hanya toa masjid yang diatur, 300 ayat Alquran itu harus direvisi, dan kurikulum pesantren juga harus direvisi, karena kata Pak Pendeta, pesantren adalah penghasil para radikal dan calon teroris.

BACA JUGA: Remis

Menteri Mahfud MD kesal oleh video itu dan minta polisi turun tangan menghentikan kegaduhan. Ade Armando—yang selama ini dianggap berada pada kubu yang sama—kali ini mengritik keras Pendeta Saifuddin dan menganggapnya tidak punya akal sehat.

Alquran bersisi sabda Allah. Mengganti dan menghapus sebagian ayat-ayatnya sama saja dengan mencampakkan kitab suci itu. Yang harus direvisi bukan ayat-ayat Alquran, tetapi tafsir terhadap ayat-ayat Alquran yang harus direvisi, karena tafsir manusia terhadap Alquran tidak bersifat suci seperti Alquran. Begitu komentar Armando.

Pak Pendeta tidak memberi contoh ayat-ayat yang dimaksudnya. Secara umum ayat-ayat dalam Surat At-Taubah, surat ke-9, sering disebut sebagai ayat-ayat perang yang mendorong munculnya kekerasan dalam Islam.

BACA JUGA: Halal

‘’Apabila telah selesai bulan-bulan haram, maka perangilah orang-orang musyrik di mana saja kamu temui, tangkaplah dan kepunglah mereka, dan awasilah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan melaksanakan shalat serta menunaikan zakat maka berilah kebebasan kepada mereka’’.

Ayat itu secara pejoratif disebut sebagai ayat perang. Penafsiran ayat itu dipakai sebagai justifikasi ajakan perang dan penggunaan kekerasan, termasuk teror. Ayat ini dapat dijadikan dalil untuk memerangi orang musyrik atau  siapa pun yang bukan Islam. Ayat ini dianggap sebagai salah satu dalil untuk melaksanakan jihad dalam bentuk perang.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.