“Dialah seniman rakyat yang mengajak rakyat tertawa sambil berpikir. Mengapa Ludruk sekarang kehilangan keberanian untuk berevolusi?”
Oleh: Rokimdakas
KEMPALAN: Di panggung-panggung bambu yang diterangi lampu sentir, di antara suara gamelan dan gelak tawa rakyat kecil, seorang lelaki kurus dari Jombang juga pernah mengubah arah sejarah kesenian rakyat di Jawa Timur. Namanya Gondo Durasim – lebih dikenal sebagai Cak Durasim.
Ia bukan bangsawan. Bukan pula pemimpin perang bersenjata. Tapi dari mulutnya lahir kalimat sederhana yang membuat tentara Jepang murka: “Bekupon omahe dara, melok Nippon tambah sengsara.”
Satu kidungan pendek namun cukup untuk mengguncang kekuasaan.
Di tangan Durasim, ludruk tidak lagi sekadar tontonan penghibur kampung. Ia sudah menjelma menjadi ruang kritik sosial, pendidikan politik rakyat, dan alat perlawanan kebudayaan.
Dari panggung itulah rakyat tertawa sambil berpikir. Dan ironisnya, setelah lebih dari delapan puluh tahun sejak kematiannya, format besar ludruk Jawa Timur ini masih berjalan di jalur yang hampir sama seperti ketika Durasim membedah dan menciptakannya pada era 1930-an.
Seolah-olah sejarah berhenti di panggung yang ia bangun sendiri.
Kesenian Lahir dari Peradaban
Sejarah ludruk sesungguhnya jauh lebih tua daripada nama Durasim sendiri. Ia lahir dari perjalanan panjang kebudayaan rakyat Jawa Timur.
Kesenian rakyat itu tidak pernah muncul tiba-tiba. Ia tumbuh dari cara hidup masyarakat pada zamannya. Dari ketakutan, keyakinan, pekerjaan, peperangan, humor, hingga cara manusia memahami alam dan kekuasaan.
Pada abad ke-12 hingga abad ke-18, masyarakat Jawa Timur mengenal bentuk-bentuk pertunjukan rakyat bernama Bandhan atau Bondhan.
Bentuk kesenian ini masih sangat terkait dengan unsur kanuragan, kekuatan tubuh, magis, dan pertunjukan fisik. Dunia masyarakat saat itu masih dekat dengan mitos dan spiritualitas agraris.
Bandhan berkembang sebagai tontonan rakyat yang keras, maskulin, penuh demonstrasi kemampuan tubuh.
Seiring perkembangan masyarakat, kesenian ini mengalami transformasi menjadi Lerok. Pada fase ini mulai muncul unsur lawakan dan dialog sederhana. Sehingga dalam pertunjukan tidak lagi sekadar memamerkan kekuatan fisik, tetapi mulai memasukkan unsur hiburan sosial.
Dari Lerok kemudian lahirlah Besutan. Besutan mulai memiliki pola dramatik. Tokoh-tokoh tertentu muncul dengan karakter khas. Humor menjadi bagian penting.
Kritik sosial mulai disisipkan meskipun masih spontan dan sederhana. Namun tetap saja, Besutan masih berupa hiburan rakyat keliling yang belum memiliki struktur pertunjukan modern.
Lalu datanglah seorang seniman bernama Durasim. Anak kampung yang telah nenemukan bahasa rakyat.
Cak Durasim lahir pada 11 Januari 1888 di Jombang, Jawa Timur, dengan nama Gondo Durasim atau Durasim Gondoredjo.
Riwayat masa kecilnya nyaris gelap. Tidak banyak arsip colonial yang mencatat kehidupan rakyat kecil seperti dirinya. Sebagaimana nasib banyak seniman rakyat masa itu, kehidupan Durasim lebih banyak hidup dalam tuturan lisan para pelaku ludruk tua dibanding dalam dokumen resmi.
Tapi justru dari “kegelapan arsip” itulah tampak siapa Durasim sebenarnya: anak rakyat biasa yang tumbuh dari denyut kehidupan wong cilik.
Ia belajar dari pasar, jalanan, sawah, warung kopi, keramaian kampung, dan juga obrolan rakyat sehari-hari. Kelak semua itu menjadi sumber dramatika ludruknya.
Durasim dikenal memiliki kemampuan sastra yang kuat. Ia pandai membuat sajak, parikan, kidungan, dan cerita pendek yang menggugah. Ia memahami bahwa rakyat kecil lebih mudah disentuh melalui humor daripada pidato panjang. Dan kemampuan itulah yang kemudian mengubah sejarah ludruk.
Surabaya, Dr. Soetomo dan Nasionalisme
Pada akhir 1920-an, Durasim menetap di Surabaya. Kota pelabuhan itu sedang tumbuh menjadi pusat perdagangan, industri, dan pergerakan nasional. Di kota itulah ia bertemu lingkungan pemikiran Dr. Soetomo.
Soetomo bukan hanya dokter dan pendiri organisasi kebangkitan nasional. Ia juga seorang pemikir kebudayaan. Ia memahami bahwa rakyat tidak bisa dibangunkan kesadarannya hanya lewat pidato kaum elit. Rakyat harus disentuh juga melalui budaya mereka sendiri.
Melalui Indonesische Studieclub dan aktivitas di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Jalan Bubutan Surabaya, Soetomo mulai menghimpun banyak unsur masyarakat: kaum intelektual, pekerja, seniman, dan rakyat biasa.
Di titik inilah hubungan Soetomo dan Durasim menjadi penting dalam sejarah kebudayaan Jawa Timur.
Soetomo melihat potensi besar dalam kesenian Besutan. Sedangkan Durasim menemukan arah baru bagi kesenian rakyat.
Dari sinilah lahir gagasan besar: bahwa kesenian rakyat bisa menjadi alat untuk pendidikan sosial dan nasionalisme.
Lahirnya Ludruk Modern
Sekitar tahun 1930–1933, Durasim bersama Dr. Soetomo mendirikan kelompok Ludruk Organisatie (LO) di Surabaya. Inilah titik kelahiran ludruk modern Jawa Timur.
Durasim melakukan pembaruan besar terhadap Besutan: Cerita dibuat lebih terstruktur, dramatika diperkuat, humor dipertajam, kritik sosial diperjelas, karakter tokoh dikembangkan, kisah kehidupan wong cilik dijadikan tema sentral.
Durasim menghapus banyak unsur mistik lama dan menggantikannya dengan realitas sosial sehari-hari. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa Timuran yang lugas, keras dan hidup.
Penonton merasa melihat dirinya sendiri di atas panggung. Mereka ikut tertawa karena lucu. Tetapi diam-diam mereka sedang diajak berpikir. Di sinilah revolusi Durasim terjadi.
Dia bukan sekadar memperbarui bentuk pertunjukan namun mengubah fungsi kesenian rakyat. Ludruk menjadi teater sosial.
Gedung Nasional dan Popularitas Ludruk
Ketika Gedung Nasional Indonesia di Jalan Bubutan diresmikan pada Januari 1932, rakyat berbondong-bondong datang menyaksikan pertunjukan ludruk Durasim. Bagi masyarakat saat itu, ludruk bukan lagi hiburan kampung murahan.
Ia telah berubah menjadi pertunjukan modern rakyat. Ada cerita. Ada konflik. Ada kritik. Ada humor. Juga ada semangat kebangsaan.
Rakyat kecil menemukan dirinya di atas panggung. Pejabat korup diejek. Ketidak-adilan ditertawakan. Keserakahan diparodikan. Semuanya disampaikan dengan gaya yang menghibur. Itulah kekuatan Durasim: membuat rakyat tertawa sambil diam-diam menyerap kesadaran sosial.
Jepang Takut Tawa Rakyat
Saat Jepang datang tahun 1942, banyak kesenian rakyat dipaksa menjadi alat propaganda Dai Nippon. Tetapi Durasim memilih jalan berbeda.
Ia menyisipkan sindiran-sindiran tajam melalui kidungan ludruk. Yang paling terkenal adalah: “Bekupon omahe dara, melok Nippon tambah sengsara.”
Kalimat itu menyebar cepat dari Surabaya ke Sidoarjo, Mojokerto, Gresik, lalu Jombang. Rakyat langsung memahami maksudnya. Bahwa penjajahan Jepang tidak membawa kemerdekaan, melainkan kesengsaraan baru.
Jepang mulai menyadari satu hal berbahaya: ludruk bisa lebih kuat daripada pidato politik.
Pentas Terakhir di Desa Tarik
Tradisi tutur seniman ludruk Jawa Timur menyebut bahwa sekitar tahun 1942, Ludruk Organisatie mendapat tanggapan pentas di Desa Tarik, Sidoarjo.
Di atas panggung itulah Durasim kembali mendendangkan kidungan sindiran terhadap Jepang. Penonton tertawa. Namun di antara kerumunan ternyata ada mata-mata Jepang yang mengamati pertunjukan.
Beberapa waktu kemudian, Durasim ditangkap.
Itulah pementasan terakhirnya.
Ia kemudian dijebloskan ke Penjara Kalisosok Surabaya – penjara kolonial yang sejak zaman Belanda dikenal sebagai tempat para pejuang dan tahanan politik dikerangkeng.
Penjara Kalisosok adalah simbol gelap kekuasaan kolonial. Di tempat itulah banyak pejuang mengalami penyiksaan.
Menurut tradisi lisan budayawan ludruk, Durasim mengalami tekanan, interogasi dan kekerasan fisik akibat kidungan-kidungannya yang dianggap membahayakan Jepang.
Tubuhnya melemah. Dan pada 7 Agustus 1944, Cak Durasim meninggal dunia di penjara. Tidak ada arsip lengkap tentang detik-detik kematiannya.
Sebagaimana nasib banyak rakyat kecil, sejarahnya tidak ditulis secara rapi oleh penguasa. Data tentang keluarganya pun nyaris hilang. Arsip mengenai anak keturunannya kering dan gelap. Tetapi justru karena itulah Durasim terasa sangat manusiawi.
Durasim bukan tokoh istana. Ia adalah seniman rakyat yang hidup, melawan, lalu hilang di tengah sejarah sunyi.
Ludruk Pasca Durasim: Mengapa Berhenti Berkembang?
Pertanyaan paling penting justru muncul setelah kematian Durasim. Mengapa ludruk tidak lagi mengalami revolusi besar setelah ia wafat?
Padahal Durasim sendiri adalah inovator radikal. Dia membedah Besutan lalu menciptakan format baru bernama ludruk modern.
Namun sejak era 1940-an hingga hari ini, struktur utama ludruk nyaris tetap: tari remo, bedayan, dagelan, kidungan, lalu cerita utama atau drama.
Perubahan hanya terjadi pada kostum, tata lampu, atau penyesuaian teknis di panggung. Tetapi revolusi artistik hampir tidak terjadi.
Padahal dunia sudah berubah: masyarakat berubah, teknologi berubah, cara berpikir berubah, media berubah, bahkan humor rakyat berubah.
Ironisnya, para pelaku ludruk sering terlalu sibuk menjaga “pakem” dibanding melanjutkan semangat inovasi Durasim sendiri.
Akibatnya, ludruk perlahan kehilangan daya ledak sosialnya. Ia lebih sering menjadi nostalgia ketimbang alat kesadaran.
Padahal jika mengikuti semangat Durasim, ludruk seharusnya mampu membahas korupsi digital, kecanduan media sosial, kerusakan lingkungan, oligarki politik, kemiskinan urban, krisis identitas generasi muda, hingga bisa manipulasi media modern.
Durasim dahulu berani membongkar format lama. Tetapi generasi setelahnya justru sering takut membongkar warisan Durasim. Di situlah stagnasi bermula.
Ludruk Kehilangan Daya Ganggu
Pada masa Durasim, ludruk ditakuti penjajah. Hari ini, ludruk justru seringkali kehilangan daya ganggunya. Ia aman. Bahkan terlalu aman.
Padahal seni rakyat yang sehat seharusnya tetap memiliki kemampuan mengusik kekuasaan dan menggugat zaman.
Durasim memahami bahwa humor bukan sekadar hiburan. Humor adalah cara rakyat bertahan hidup dan melawan ketakutan. Karena itu kidungan sederhana bisa lebih mematikan daripada pidato politik.
Dan mungkin inilah warisan terbesar Durasim yang belum sepenuhnya diteruskan: keberanian menjadikan kesenian sebagai suara rakyat.
Nama yang Tetap Hidup
Hari ini nama Cak Durasim diabadikan menjadi: Gedung Kesenian Cak Durasim di kompleks Taman Budaya Jawa Timur. Makamnya di TPU Tembok Dukuh Surabaya masih sering diziarahi seniman dan budayawan.
Tetapi penghormatan terbesar sesungguhnya bukan sekadar nama gedung atau makam. Melainkan keberanian untuk melanjutkan semangat inovasinya.
Karena Durasim tidak pernah menciptakan ludruk untuk dijadikan museum. Dia menciptakannya agar tetap hidup bersama denyut rakyat.
Selama rakyat kecil masih membutuhkan suara yang berani berbicara melalui tawa, maka nama Cak Durasim tidak akan pernah benar-benar mati.
*) Rokimdakas, Wartawan di Surabaya

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi