Senin, 20 April 2026, pukul : 04:16 WIB
Surabaya
--°C

Pendeta Saifuddin

Baghdad menjadi pusat ilmu. Beberapa kota lain juga menjadi pusat ilmu dengan perpustakaan besar dan para sarjana penting, seperti Damsyik dan Halab di Suriah, Basrah di Irak, Nisyapur, Rayy, dan Thus di timur laut Iran.

Sekadar perbandingan, pada akhir abad ke-10, Khalifah Aziz dari Dinasti Fatimiyah memiliki perpustakaan di Kairo dengan koleksi buku diperkirakan jumlahnya mencapai 200.000 hingga di atas satu juta. Sementara biara dan perpustkaan katedral di Eropa Barat antara abad ke-9 dan ke-11 umumnya hanya memiliki 500 buku.

Filusuf dan ilmuwan terkemuka muncul dalam suasana apresiasi intelektual itu. Pada abad ke-9, Khawarizmi memperkenalkan matematika, geografi, dan astronomi. Istilah “algoritma” berasal dari nama latin Khawarizmi, Algoritima.

BACA JUGA: Dokter Sunardi

Intelektual dunia muslim mulai menurun pada abad ke-11 ditandai lahirrnya Kesultanan Seljuk yang membentuk persekutuan ulama-negara. Ketika itu kelas militer mulai mendominasi ekonomi dan memperlemah kaum pedagang yang independen yang biasa mendanai riset para intelektual muslim.

Berdirinya Madrasah Nizamiyah yang mengajarkan ortodoksi Islam semakin meminggirkan pemikir-pemikir Islam yang kreatif. Sebagai gantinya muncul ulama-ulama fikih dan tasawuf yang lebih konservatif.

Pada titik ini Imam Al-Ghazali menjadi tokoh utama yang berada pada garda depan melawan kalangan filusuf muslim dan pemikir intelektual liberal Islam. Ghazali menang dan para filusuf tersisih dari dunia muslim. Pemikiran filusuf muslim Islam seperti Ibnu Sina dan Ibnu Rusydi justru diadopsi oleh Eropa.

BACA JUGA: Super Semar

Krisis dunia Islam semakin buruk dengan munculnya invasi pasukan Mongol dan Tentara Salib dari Eropa. Keterdesakan militer ini membuat masyarakat muslim mencari perlindungan kepada rezim militer dan elite agama ortodoks. Kelas intelektual dan filusuf semakin kehilangan pijakan dan pengaruh.

Persekutuan ulama-negara menghalangi munculnya sarjana independen dan meminggirkan para entrepreneur dan pedagang. Dunia Islam menjadi kehilangan kreativitas dan semakin tertinggal dari Eropa yang mengalami lompatan revolusi ilmu pengetahuan.

BACA JUGA: MUI dan Islamisme

Ortodoksi Islam memunculkan tafsir ayat-ayat perang sebagaimana fenomena yang muncul belakangan ini. Kemunduran dunia Islam dianggap sebagai kesalahan Barat yang melakukan imperialisasi dan kolonialisasi. Karena itu cara yang ditempuh adalah jihad melalui perang, bukan jihad melalui ilmu pengetahuan dan teknologi.

Penafsiran jihad melalui perang bukan satu-satunya penafsiran dalam Islam. Karena itu usul menghapus ayat-ayat perang sebagaimana diusulkan Pendeta Saifuddin adalah usul yang absurd karena tidak paham sejarah. Islam akan bisa mengalahkan Barat melalui jihad ilmu pengetahuan, sebagaimana sudah dibuktikan oleh sejarah. (*)

Editor: DAD

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.