Senin, 20 April 2026, pukul : 04:15 WIB
Surabaya
--°C

Pendeta Saifuddin

Interpretasi agersif itu muncul di segmen umat Islam tertentu. Tetapi, mufasir lain menginterpretasikannya sebagai upaya defensif, yaitu dorongan bagi umat Islam untuk melakukan perlawanan terhadap kaum musyrik apabila mereka memerangi terlebih dahulu.

Kekerasan dalam Islam menjadi bahasan para sarjana sejak lama. Kekerasan di beberapa negara yang berpenduduk Islam muncul karena adanya perlakuan tidak adil kepada Islam yang mengakibatkan kemunduran dan penderitaan.

BACA JUGA: Kemah Nusantara

Muncul pandangan bahwa kemunduran yang terjadi di kalangan Islam diakibatkan oleh penjajahan Barat yang Kristen dan sekuler. Karena itu, untuk menghadapi ketidakadilan itu umat Islam harus kembali kepada ajaran Islam yang mempersatukan agama dan negara.

Untuk melawan ketidakadilan terjadilah serangan terhadap peradaban Barat seperti yang terjadi pada peristiwa 11 September. Amerika dianggap sebagai simbol penjajahan Barat terhadap Islam, dan karenanya harus dihancurkan.

Apakah kemunduran dan penderitaan Islam sepenuhnya disebabkan oleh penjajahan Barat? Tidak sepenuhnya demikian. Setidaknya, begitulah pandangan Ahmet T. Kuru, profesor sejarah Islam  di Universitas Negeri San Diego, Amerika Serikat, dalam buku ‘’Islam, Otoritarianisme, dan Keterbelakangan: Perbandingan Global dan Sejarah (2019). Kuru mengungkap fenomena negara-negara berpenduduk Islam yang mempunyai tingkat otoritarianisme tinggi dan tingkat kemajuan sosio-ekonomi rendah dibandingkan dengan rata-rata dunia.

Kuru menyebut bahwa kolonialisme Barat bukan penyebab tunggalnya. Dunia muslim sudah mengalami masalah politik dan sosioekonomi sebelum kolonialisasi. Negara-negara muslim itu sudah menjadi negara yang lebih maju dibanding Barat selama abad ke-7 sampai ke-11.

BACA JUGA: Flexing

Ketika itu negara-negara muslim jauh lebih maju dalam hal peradaban dan ilmu pengetahuan dibanding Eropa yang masih berada pada masa jahiliyah. Kunci kemajuan adab Islam adalah munculnya kelas intelektual dan pedagang yang independen dari kekuasaan negara. Pada saat itu Eropa masih dikuasai ortodoksi agama dan kekuasaan militer.

Titik balik terjadi pada abad ke-11 persekutuan antara ulama ortodoks  Islam dan negara-negara militer mulai bermunculan. Persekutuan itu sedikit demi sedikit menghalangi kreativitas intelektual dan ekonomi dengan meminggirkan kelas intelektual dan borjuis di dunia Muslim.

Antara abad ke-8 dan ke-11 para pedagang dan sarjana menghasilkan pencapaian-pencapaian besar di dunia Islam. Masyarakat Muslim memiliki ciri-ciri yang sama dengan masyarakat Eropa Barat pada masa Renaisans, yaitu munculnya intelektual yang kreatif dan pedagang yang berpengaruh.

Selama periode itu, sebagian besar ulama tidak mengabdi kepada negara, tapi didanai hasil perdagangan. Para ulama ketika itu menganggap interaksi dengan para penguasa sebagai tindakan korup.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.