Senin, 20 April 2026, pukul : 02:05 WIB
Surabaya
--°C

Kementan – ITS Perkuat Kolaborasi Hilirisasi Energi dan Alsintan Pertanian untuk Indonesia

SURABAYA-KEMPALAN: Menteri Pertanian (Mentan) RI Dr Ir Andi Amran Sulaiman MP hadir dalam perhelatan Wisuda ke-133 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada hari kedua, Minggu (19/4). Pada momen ini, Mentan mengajak ITS untuk melanjutkan peran strategis dalam membangun sektor pertanian dengan pengembangan teknologi alat dan mesin pertanian (alsintan) serta alat mesin pertanian modern yang mengandalkan inovasi karya anak bangsa.

Melalui pengalaman panjangnya di bidang pertanian, lelaki kelahiran Bone, Sulawesi Selatan itu ingin Indonesia mampu mandiri melahirkan teknologi pertanian yang modern, sehingga tidak lagi bergantung pada teknologi impor global. Kolaborasi dan sinergi dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi bentuk komitmen Kementerian Pertanian (Kementan) RI dalam mewujudkan kedaulatan dan ketahanan pangan nasional.

Amran optimistis bahwa dengan kolaborasi yang kuat akan mempercepat transformasi pertanian dari sistem tradisional menuju pertanian yang modern. Terlebih dengan kondisi krisis pangan, energi, dan air yang saat ini harus segera diatasi dengan cepat dan tepat.

Ia menyebutkan bahwa ambisi itu bisa tercapai melalui kerja sama yang erat antara Kementan dengan ITS. “Karena dari sektor yang menjadi fokus utama pemerintah saat ini, ITS memiliki semua solusi yang pemerintah butuhkan,” tegasnya.

Pihaknya bersama dengan rektor dan peneliti di ITS sepakat untuk memulai hilirisasi alat pertanian dan sumber energi untuk pertanian secara mandiri. Antara lain seperti pengembangan inovasi Bensin Sawit (Benwit), perahu traktor listrik, hingga alat panjat kelapa yang bernama Moto Climber ITS (MOCITS). Inovasi karya peneliti asal ITS tersebut tidak hanya menyokong kemandirian pangan, namun juga teknologi nasional.

Menurut Amran, hal ini karena teknologi dan inovasi yang ITS tawarkan dapat menjadi solusi untuk tantangan global saat ini. “Kami melihat inovasi nyata, mulai dari alat panjat kelapa, (perahu) traktor listrik untuk lahan rawa, hingga yang terbaru pengembangan bio-gasoline,” beber Amran.

Setelah memberikan keynote speech pada perhelatan akbar wisuda ITS ini, Mentan juga meninjau berbagai produk inovasi ITS yang dipamerkan. Mentan pun menyoroti uji coba bio-gasoline Benwit, hasil riset yang diketuai oleh dosen Teknik Material dan Metalurgi ITS Prof Dr Eng Hosta Ardhyananta ST MSc.

Inovasi bahan bakar berbahan baku utama sawit itu mampu mencapai campuran 70 persen atau E70 tanpa adanya perubahan signifikan pada mesin kendaraan. Teknologi ini diproyeksikan mendukung target pemerintah untuk tidak lagi bergantung pada impor solar sepenuhnya dan beralih ke bahan bakar nabati berbasis kelapa sawit atau crude palm oil (CPO).

Dengan hasil tersebut, menurut Amran, maka boleh dikatakan produk ini berada di antara Pertalite dan Pertamax. “Jika ini dikawal terus, mimpi kita menuju kemandirian energi bukan lagi sekadar angan,” tutur Amran dengan bangga melihat produk inovasi Benwit ITS tersebut.

Ketertarikan Mentan sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) terhadap Benwit pun membuahkan hasil memuaskan. Untuk itu, ia menekankan kepada peneliti ITS untuk segera melakukan paten terhadap hasil riset tersebut.

Pada kesempatan yang sama, juga dilakukan penandatangan nota kesepahaman antara ITS dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV. Hal tersebut merupakan bentuk dorongan untuk peneliti agar bisa terus melakukan pengembangan hingga dapat didistribusikan ke masyarakat luas.

Melalui kerja sama ini, diharapkan PTPN selaku Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor agribisnis perkebunan dapat memberikan ruang bagi peneliti untuk memaksimalkan hasil inovasinya. “Jika produk ini bisa berhasil 100 persen setelah melakukan uji coba pengembangan, akan kita teruskan ke Bapak Presiden sehingga dapat segera dilakukan distribusi,” ungkap Amran optimistis.

Selain bahan bakar, Mentan juga memperhatikan alat panjat kelapa yang sebelumnya sudah pernah dipesan oleh Kementan RI sebanyak 10 unit. Alat ini dirancang untuk menggantikan peran petani kelapa yang selama ini harus memanjat secara manual dengan resiko yang tinggi.

Amran menyebut proses hilirisasi kelapa dan sawit Indonesia sangatlah fantastis. Hasilnya dapat mencapai angka Rp 10 ribu triliun jika dikelola secara maksimal dari hulu ke hilir. “Kita punya air kelapa, minyak kelapa murni, hingga susu kelapa yang saat ini tinggi permintaan untuk ekspor, sehingga untuk teknologinya kita percayakan pada ITS lewat alat panjat kelapa ini,” tutur Amran.

Sementara itu, Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD menyambut baik tantangan tersebut. Guru Besar Teknik Mesin ITS itu memastikan setiap inovasi peneliti di ITS disesuaikan dengan kebutuhan industri dan negara.

Oleh karena itu, menurut Bambang, agar produk inovasi yang dihasilkan bisa dimanfaatkan, tentunya sejak awal harus menggandeng industri dan pemerintah, salah satunya melalui Kementerian Pertanian RI ini. “Untuk itu, kami akan berusaha menghasilkan produk inovasi yang memang dibutuhkan oleh masyarakat,” tegasnya.

Melalui kolaborasi dan dukungan yang dijalankan oleh kedua pihak, baik ITS dan Kementerian Pertanian RI, memperkuat kontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya berkaitan dengan poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, poin ke-7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, hingga poin ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.