KEMPALAN: Di mata pasukan Densus 88 Dokter Sunardi adalah teroris berbahaya yang masuk kategori ‘’armed and dangerous’’, bersenjata dan berbahaya. Karena itu ketika ada indikasi melawan dalam penyergapan Rabu (9/3) dia tidak dilumpuhkan, melainkan langsung dimatikan.
Dokter berusia 54 tahun itu mengendarai mobilnya dalam perjalanan pulang dari tempat praktiknya di kawasan Kota Sukaharjo, Jawa Tengah sekitar pukul 21.00. Ketika disergap oleh pasukan Densus 88 dia dikabarkan melawan dengan menabrakkan mobilnya ke arah mobil penyergap dan melukai dua orang anggota.
Insiden itu sudah cukup menjadi alasan bagi Densus untuk langsung menembaknya sampai mati. Keterangan resmi yang dikeluarkan polisi menyebutkan tindakan Dokter Sunardi membahayakan nyawa anggota Densus dalam operasi itu, dan karenanya sang target langsung dimatikan.
Begitulah versi polisi yang kemudian dirilis oleh berbagai media. Dokter Sunardi yang sudah bertahun-tahun berjalan dengan tongkat akibat penyakit stroke digambarkan dan diperlakukan sebagai the enemy number one.
BACA JUGA: Super Semar
Ketua RT setempat menggambarkan korban sebagai orang yang tertutup dan jarang bersosialisasi dengan warga. Sebuah stereotype yang selalu sama dalam berbagai kasus penangkapan terduga teroris.
Perlawanan terhadap tindakan polisi muncul dari netizen yang membanjiri media sosial dengan berbagai protes keras. Tagar ‘’Pray For Dokter Sunardi’’ menggema sejak Jumat (11/3) di berbagai media sosial dan menjadi trending topik di Twitter.
BACA JUGA: MUI dan Islamisme
Berbagai informasi dan kesaksian terhadap Dokter Sunardi oleh netizen menjadi counter-information terhadap keterangan polisi yang one-sided, hanya menyuarakan versi polisi saja. Informasi dari netizen memunculkan keraguan bahwa Dokter Sunardi adalah target yang berbahaya seperti klaim polisi.
Seorang netizen menyebutkan bahwa Dokter Sunardi ialah orang yang sangat baik dan kerap memberikan pengobatan gratis, sehingga ia disebut sebagai pejuang kemanusiaan. Tak hanya itu, pengakuan petugas bahwa Sunardi berupaya menabrakan mobilnya, juga diragukan. Diungkapkan bahwa Sunardi menderita penyakit stroke, sehingga membuatnya tidak akan leluasan melakukan perlawanan. Bahkan, untuk menunjang aktivitas sehari-hari, Sunardi harus berjalan menggunakan tongkat.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi