Rabu, 13 Mei 2026, pukul : 07:00 WIB
Surabaya
--°C

Natal yang Abadi

Kutipan khotbah “One Solitary Life” yang begitu indah mengisahkan dengan haru gaya hidup sederhana dari Anak ini. Dikatakan bahwa meskipun sederhana, Anak ini dikenal di seluruh dunia sebagai manusia terbesar yang pernah hidup di dunia. Kisah ini indah, tetapi begitu sempit dan begitu kosong. Mengapa kosong? Kisah ini membuat orang bersimpati dengan Dia, tetapi kisah seperti ini tidak menggambarkan seorang yang layak dipuja dan disembah. Dia dilahirkan dari seorang perempuan, dibesarkan di desa, dan berkata-kata dalam bahasa manusia. Secara fisik material, Dia tidak memiliki hal yang begitu hebat.[2] Apa bedanya Anak ini dengan sekadar anak orang miskin yang kebetulan menjadi artis yang sangat terkenal? Bahkan dalam narasi itu dikatakan bahwa Anak ini, ketika Dia berusia tiga puluh tiga tahun, dikuburkan karena belas kasihan seorang teman. Kita setuju hidup Dia begitu agung, tetapi dalam narasi ini, apa alasan yang membuat orang seperti itu harus disembah?

Dalam karyanya yang melawan Theologi Liberal, J. Gresham Machen mengontraskan pandangan liberalisme tentang Kristus dengan pandangan alkitabiah. Dalam karya itu, dia mengatakan:

Yesus liberal, terlepas dari semua upaya rekonstruksi psikologis modern untuk membungkusnya menjadi Yesus yang hidup, tetap menjadi sosok panggung yang dibuat-buat.[3]

Sayangnya, “sosok panggung yang dibuat-buat” adalah semua pengertian yang dapat ditawarkan Natal ala dunia. Lebih buruk lagi, pandangan “One Solitary Life” ini, seperti theologi liberal, sama sekali tidak memberi ruang apa pun bagi makna Natal yang sesungguhnya. Yang tersisa hanyalah ornamen-ornamen, patung-patung, atau tari-tarian di acara Natal. Tidak ada yang memberikan jawaban untuk menyelesaikan penderitaan akibat dosa dan keputusasaan umat manusia hidup di dunia; pandangan “One Solitary Life” tidak memberikan Juruselamat. Itu sebabnya, kita harus memikirkan tentang Dia sedalam-dalamnya. Kita perlu mengembalikan pandangan alkitabiah tentang Kristus, termasuk menyatakan kembali yang mungkin kita sudah tahu, yaitu kebenaran yang mulia dari inkarnasi, kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya yang ajaib.

Inkarnasi Allah Anak adalah puncak tujuan keseluruhan sejarah penebusan, baik sebelum Dia berinkarnasi maupun setelah Dia berinkarnasi. Lebih khusus lagi, inkarnasi-Nya adalah klimaks dari kisah penebusan yang sebelumnya dirindukan dalam Perjanjian Lama. Namun, Kristus tidak pernah berdiam diri saja sebelum Dia turun ke dunia. Kristus, Anak Allah, sudah pernah berkali-kali menampakkan diri, dan sering kali juga secara fisik, untuk menyelamatkan umat-Nya di dalam Perjanjian Lama.

Kehadiran Allah yang berinkarnasi, kata Bavinck, sudah “dimulai secara langsung setelah kejatuhan”.[4] Kita melihat Tuhan Allah berjalan di taman pada hari yang sejuk, datang untuk menghakimi dosa Adam dan Hawa. Meredith Kline menyebut ini sebagai “The Primal Parousia“. Ini adalah Hari Tuhan yang sekaligus menunjuk ke depan kepada Akhir Zaman dalam sejarah manusia. Dalam kedua “hari” itu, di awal dan di akhir, Anak Allah yang sama datang untuk menghakimi.

Perjanjian Baru juga mengonfirmasi dan menunjukkan kepada kita bahwa Allah Anak hadir dalam Perjanjian Lama. Para penulis Perjanjian Baru sering mengambil bagian-bagian yang merujuk kepada Yahweh dalam Perjanjian Lama dan, tanpa ragu-ragu, merujuknya kepada Kristus (lih. Rm. 9:33; 14:11; 1Ptr. 3:15). Kitab Yudas memberitahukan kita secara eksplisit bahwa Yesuslah yang menyelamatkan anak-anak Israel keluar dari tanah Mesir (Yud. 1:5). Rasul Yohanes memberitahukan kita juga bahwa penglihatan tentang keagungan dan kekudusan yang dilihat Yesaya di Bait Suci (Yes. 6:1ff) adalah penglihatan tentang kemuliaan Allah Anak.

Yesus sendiri juga mengonfirmasi dalam salah satu dari banyak konfrontasi-Nya dengan orang-orang Farisi, memberitahukan mereka bahwa Dialah yang dibicarakan oleh seluruh Perjanjian Lama; “Aku adalah Aku” (Yoh. 8:58).

Realitas tentang kedatangan Allah Anak dari awal penciptaan hingga akhir, dan juga inkarnasi-Nya pasti memiliki implikasi bagi kita. Misalnya untuk menjawab kritik yang populer diucapkan, yaitu bahwa Allah dalam Perjanjian Lama adalah Allah yang kejam dan pendendam. Pernyataan ini adalah pernyataan yang bertentangan dengan prinsip bahwa Allah Anak adalah fokus penantian dalam Perjanjian Lama. Richard Dawkins, dengan angkuh mengatakannya seperti ini:

Allah dalam Perjanjian Lama bisa dibilang adalah karakter yang paling tidak layak untuk diceritakan dalam semua cerita fiksi yang ada. Karakternya adalah: tukang cemburu dan bahkan bangga mengakui hal itu, tidak adil, pengontrol yang tidak punya belas kasih; pendendam; haus darah; rasis, pembunuh bayi, genosida, megalomaniak, sadomasokistik, dan tukang bully.[5]

Dawkins tentu punya alasan yang rumit bagi kita tentang mengapa ia berpikir secara demikian tentang Allah, tetapi menarik untuk kita lihat bagaimana tanggapan Dawkins jika dia menyadari bahwa Allah dalam Perjanjian Lama adalah Allah yang sama yang diumumkan oleh para malaikat pada Natal pertama itu. Scott Oliphint mengatakan bahwa apologetika kita tidak akan kuat ataupun masuk akal secara theologis kepada orang yang mempertanyakan iman kita, kecuali kita mampu menunjukkan kontinuitas penebusan Allah di sepanjang sejarah manusia.[6]

Allah Anak menderita sehingga penderitaan suatu hari akan berhenti. “Dalam segala kesesakan kita, Dia turut merasakannya” (Yes. 63:9). Tidakkah fokus kepada Allah Anak yang merendahkan diri sepanjang sejarah penebusan telah menunjukkan kepada kita kebenaran Allah yang begitu indah? Allah apa pun tidak merendahkan diri seperti Allah Tritunggal yang dinyatakan dalam Alkitab dan tidak mungkin menjadi Allah sejati yang layak disembah.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.