Rabu, 13 Mei 2026, pukul : 07:00 WIB
Surabaya
--°C

Natal yang Abadi

Saat kita menghadapi perdebatan dan diskusi menjawab keberatan orang lain tentang siapakah Allah itu, apakah Dia ada dan peduli dengan kesulitan di dunia ini, seperti apa karakter-Nya, kita seharusnya bisa menolong mereka untuk mengenali bahwa Dia yang datang, yang merendahkan diri-Nya dengan mengambil natur manusia, adalah pribadi yang sama yang secara aktif hadir secara fisik ke dalam dunia, untuk menebus orang berdosa untuk diri-Nya sendiri sejak saat dosa masuk ke dalam dunia.

Sama seperti anak-anak kecil yang menerima paket kado yang dibungkus rapi dan ditaruh di bawah pohon, yang dengan cemas menunggu hari ketika kado itu dapat dibuka, demikian juga umat Tuhan dalam Perjanjian Lama, melihat Anak Allah seolah-olah seperti kado yang masih dibungkus untuk sementara. Sebagian mereka dengan cemas menunggu hari ketika kado itu dibuka, sehingga mereka dapat melihat dengan jelas karunia besar yang telah diberikan kepada dunia ini.

Pribadi yang berinkarnasi ini, “one solitary life” ini, bukanlah orang random yang kebetulan memiliki pengaruh di seluruh dunia saja. Dia sungguh adalah Anak Allah yang merendahkan diri untuk menebus sejak Kejadian 3 sampai akhir zaman. Berita para malaikat tidak mengejutkan bagi mereka yang mengetahui isi Kitab Suci. Berita itu seharusnya adalah berita bahwa pribadi yang dahulu sering menampakkan diri-Nya, yang bekerja di dalam sejarah, yang mengintervensi, yang menghibur, yang menegur, dan yang menebus sepanjang sejarah penebusan, akhirnya sudah datang dalam rupa manusia yang berdaging dan berdarah. Pembelaan kita terhadap iman Kristen bisa bertahan kuat ketika kita mampu menunjukkan bahwa keutuhan fokus Kitab Suci adalah pada revelasi Allah Tritunggal melalui Allah Anak.

Perjanjian Lama menantikan dengan rindu klimaksnya penebusan Allah. Demikian juga sejarah yang berjalan setelah turunnya Yesus Kristus ke dalam dunia, terus melihat kembali dan menjadikan hari itu sebagai titik referensi. Sama seperti halnya penantian Yesus Kristus yang turun ke dalam dunia, kita dengan tidak sabar menunggu hari ketika Dia akan datang kembali dengan segala kemuliaan-Nya dan membawa kita selamanya untuk bersama-Nya.

Natal, yaitu turunnya Allah ke dalam dunia untuk bersama-sama dengan kita, hanyalah awal dari akhir. Akhir bagi kita adalah Natal yang abadi[6]:

Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” (Why. 21:3-4)

(Hanshen Jordan, aktivis Gereja Reformed Injili Indonesia/GRII Katedral Mesias Kemayoran Jakarta)

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.