Heroisme para santri dan arek-arek Suroboyo ini tervisualisasi dalam film “Sang Kiai”. Dalam film itu, secara fiksional digambarkan bahwa orang yang menembak mati Brigadir Jenderal Mallaby, komandan pasukan NICA yang diboncengi Belanda untuk kembali menjajah Indonesia, di Jembatan Merah adalah seorang santri. Kematian Mallaby itulah yang bikin marah tentara Inggris dan kemudian memicu Pertempuran 10 November 1945
Pada perang besar yang menjadi perhatian dunia itu, ribuan santri dan pejuang gugur. Darah mereka tertumpah di Surabaya. Surabaya menjadi saksi betapa sebuah kecintaan dan iman yang teguh, akan perintah agama, dan membela bangsa dan negara dari ketidakdilan, membuat ribuan santri dan pejuang rela bertaruh nyawa. Mereka rela mati syahid demi sebuah niat luhur, memerdekakan bangsanya. Surabaya kemudian dijuluki Kota Pahlawan. Dan 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan.
Sudah sewajarnya rakyat dan para pemimpin negeri ini menghormati dan memuliakan para santri dan ulama. Karena merekalah sesungguhnya tulang punggung yang menjamin kokohnya negara ini.
Selain itu, diharapkan melalui kesalehan ritual dan sosialnya, para santri bisa terjun dan masuk ke dalam berbagai sektor. Sebab, seyogyanya santri disiapkan untuk menjadi pemimpin. Untuk mewujudkan itu, semua harus membekali diri dengan berbagai macam keilmuan umum dan keagamaan. Karenanya harus tercipta santri ahli teknologi, hukum, sejarah, ekonomi, kedokteran. Tentunya yang berjiwa santri. Sehingga kelak, para santri akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa yang tangguh, yang meneruskan Resolusi Jihad terhadap setiap bentuk ketidakadilan yang menimpa bangsa ini. Menuju bangsa yang kuat, maju, makmur, dan relijius. Insya Allah. (*)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi