Penyebab lainnya, menurut Mansur, para ulama terlalu terbenam dalam mengkaji ilmu fikih atau hadis. Akibatnya, mereka pun tidak memperhatikan penulisan sejarah Islam Indonesia yang benar dan tepat. Mansur menyebutkan, banyak pemikir Islam yang telah menuliskan naskah. Naskah-naskah mereka jelas telah dibiarkan untuk tidak diungkapkan uraiannya dalam sejarah Indonesia.
“Sekeping Prasasti Hindu dibicarakan berlebihan, sehingga Hindu dan Buddha yang hanya dengan satu candi atau satu patung dinilai berpengaruh di nusantara,” ungkap Prof Ahmad Mansur seperti dilansir dalam Khazanah, Republika, 5 Oktober 2021.
Sebaliknya, lanjut Mansur, Islam dengan berjuta masjid dan naskah dinilai tidak memiliki pengaruh kuat dalam membentuk budaya dan peradaban bangsa Indonesia. Padahal, Mansur mengungkapkan, para santri selalu berperan aktif dalam setiap upaya perjuangan kemerdekaan.
Anggapan ketidakpedulian ulama terhadap penulisan sejarah juga pernah diungkapkan oleh Bung Karno. Di buku “Di Bawah Bendera Revolusi”, Sukarno menyebut para ulama tidak memiliki feeling terhadap sejarah. Jika pun ada, menurut Bung Karno, itu hanya membaca tarikh, hanya mengambil “abu” sejarahnya, tetapi tidak pernah menangkap “api” sejarahnya.
Hal-hal itu secara berantai membuat peran santri, ulama, dan pemikir besar Indonesia jadi samar dan jarang diketahui publik. Padahal rakyat sendiri merindukan kisah-kisah heroisme maupun keteladanan pada ulama besar itu.
Pada 2010, Hanung Bramantyo merilis sebuah film “Sang Pencerah”, yang menceritakan kehidupan ulama kharismatik KH Ahmad Dahlan. Film ini menjadi yang tersukses sepanjang tahun itu.
Dan pada 2013, Rako Prijanto memproduksi film “Sang Kiai” yang memvisualisasikan kisah Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asyari dan fatwa Resolusi Jihad beliau yang fenomenal. Juga sukses di pasaran. Hal ini menunjukkan jika masyarakat Indonesia haus akan kisah-kisah pejuang Islam yang heroik.

Resolusi Jihad yang Fenomenal
Pasca kemerdekaan Indonesia, para ulama dan santri pun harus berhadapan dengan tantangan yang luar biasa. Meski teks proklamasi telah dibacakan oleh Proklamator Soekarno-Hatta, namun penjajah terutama Belanda tidak mau mengakui begitu saja.
Hanya berselang dua bulan sejak proklamasi, tentara Sekutu yang diboncengi Belanda kembali datang ke tanah air dan ingin kembali menguasai Indonesia. Saat itulah, Presiden Soekarno mengirim utusan untuk bertanya kepada KH Hasyim Asyari, apa hukumnya membela tanah air dalam kacamata Islam?

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi