Para santri itu tergabung dalam laskar-laskar Islam, Laskar Hisbullah, Laskar Sabillilah, juga Laskar Mujahidin. Mereka turun ke medan peperangan bersama Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Laskar dan TKR inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Bersama mereka menantang pasukan Inggris yang bersenjatan modern. Pada perang yang berlangsung sengit itu, ribuan santri gugur. Akhir hidup yang memang mereka pilih. Hidup mulia atau mati syahid. Merdeka atau mati.
Para santri juga yang berjuang dan banyak menjadi korban saat penumpasan pengkhianatan Partai Komunis Indonesia (PKI). Suatu gerakan yang ingin mengubah ideologi negara yang ber-Pancasila menjadi negara komunis. Suatu ideologi yang anti agama, dan menganggap agama adalah candu. Sebuah pengkhianatan yang kekejamannya menyentak dan membuat marah rakyat setanah air.
Bahkan juga disebutkan, satu syarat utama bagi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah kebersatuan elemen santri dan elemen nasionalis, faksi kebangsaan dan religiusitas. Di banyak negara, kedua elemen ini seringkali sulit bersatu. Di Turki, pertentangan kelompok sekuler nasionalis dengan islamis ibarat api dalam sekam, biasa tersulut sewaktu-waktu. Demokrasi di Mesir juga seringkali diwarnai ketegangan antara kelompok nasionalis dan islamis.
Para bangsa penjajah, baik Portugis, Jepang, Belanda, maupun Sekutu, berkepentingan untuk memelihara konflik antara kalangan islamis dan nasionalis di Indonesia demi melanggengkan kekuasaan. Namun rakyat Indonesia beruntung memiliki tokoh-tokoh Islam yang berwawasan kebangsaan. Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari adalah figur pemimpin Islam yang menekankan pentingnya komitmen kebangsaan. Bahkan sejak Negara Indonesia masih belum berdiri.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi