
KEMPALAN: Jika saat ini kita menikmati kemerdekaan, itu bukan sesuatu yang dulu mudah diraih. Sungguh suatu hasil perjuangan yang berangkai dan berantai dari para pejuang, umara, dan ulama. Juga tetes darah dan air mata para santri. Namun sayangnya, kisah heroik mereka samar dalam sejarah. Padahal kaum sarungan itulah yang memerangi keserakahan para penjajah menggerogoti rakyat. Seperti lintah darat. Rakyat menjadi buruh di rumah sendiri. Merekalah yang sudah mengangkat senjata bahkan saat negara ini belum memiliki angkatan bersenjata. Hanya bermodalkan semangat jihad untuk terjun ke medan perang. Hidup mulia atau mati syahid. Allahu akbar!
Bung Karno suatu ketika pernah menerima tamu yang “aneh” di Istana Negara. Para tamu itu tidak mengenakan busana sopan seperti layaknya tamu lain ketika diterima seorang kepala negara. Mereka malah mengenakan sarung, berpeci, bahkan hanya bersandal jepit!

Megawati Soekarnoputri kecil pun terheran-heran dan bertanya kepada ayahnya. Mengapa sang ayah yang seorang presiden membiarkan tamunya berpakaian seperti itu. Bung Karno menjawab, ”Mereka adalah para ulama dan santri. Kalau tidak ada mereka sebagai garda terdepan yang berjuang untuk bangsa kita, mungkin sampai sekarang kita masih dijajah.”
Sang proklamator menjelaskan, dirinya banyak berdiskusi dan meminta masukan dari para ulama dalam perjuangan kemerdekaan bangsa. Para ulamalah yang memberinya petunjuk bagaimana membentuk suatu pemerintahan yang bisa mempersatukan semua elemen bangsa dan sesuai dengan syariat Islam. Karena itulah, seorang Bung Karno, tidak berani mengatur gaya berpakaian para ulama meski di dalam istananya sendiri.


Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi