Kisah panjang perjuangan kemerdekaan bangsa ini banyak sekali diisi nama-nama ulama besar Islam dan para santrinya. Namun rantai sejarah memang mengaburkan peran mereka. Belanda dan penjajah lainnya berkepentingan untuk menutupi kegigihan mereka demi melanggengkan kekuasaan. Order Baru lebih mengedepankan peran militer. Jadilah kisah-kisah perjuangan para ulama dan santri itu makin tertelan zaman.
Jauh sebelum kebangkitan nasional yang ditandai dengan berdirinya Boedi Oetomo, ulama Islam sudah melakukan perlawanan dengan membentuk serikat dagang bernama Syarikat Dagang Islam (SDI). Yang kemudian menjadi Syarikat Islam (SI). Ini adalah gerakan melawan keserakahan dan kesewenang-wenangan penjajah melalui kongsi dagang VOC. Yang dengan dalih bisnis, namun justru memonopoli bahkan melakukan kerja paksa kepada rakyat. Seperti lintah darat.
Menjelang kemerdekaan, para ulama Islam jugalah yang mengkonsep sila-sila dalam Pancasila. Yang kemudian menjadi dasar dari negara Republik Indonesia. Kelima sila yang saling berkelindan, yang mempersatukan Indoensia sebagai rumah bagi semua agama. Yang mempersatukan semua elemen bangsa. Sehingga persatuan itu berbuah kemerdekaan. Indonesia bukan lagi bangsa jajahan. Melainkan sebuah negara yang rakyatnya bebas menentukan nasibnya sendiri.
Setelah Indonesia merdeka, resolusi jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Azhari yang mengobarkan semangat para santri untuk angkat senjata, mempertahankan kemerdekaan yang baru berusia dua bulan. Mempertahankan Kota Surabaya dari pasukan sekutu berbendera NICA yang diboncengi Belanda untuk kembali menjajah Indonesia.
Perang besar yang kemudian menjadi pemantik simpati dunia internasional. Para santri sarungan bertempur dengan senjata seadanya. Bambu yang diruncingkan, batu, pisau, pedang, golok, juga senjata hasil rampasan.
Mereka sadar yang mereka lawan adalah pasukan bersenjata modern. Namun hal itu tidak membuat mereka gentar. Seruan jihad dari ulama yang mereka hormati, sudah cukup bagi mereka untuk bergerak. Mereka berdatangan ke Surabaya dari berbagai daerah di Jawa. Sebagian berjalan kaki, lengkap dengan peci dan pakaian seadanya. Ada yang bahkan bertelanjang kaki.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi