Gayung bersambut. KH Hasyim Asyarii segera berijtihad. Di Surabaya yang panas pada akhir Oktober 1945, para kiai berkumpul. Mereka mantap berdiri di belakang Republik Indonesia. Menurut Martin van Bruinessen dalam “NU: Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru (1994: 52)”, wakil-wakil cabang NU di seluruh Jawa, Madura, dan ulama dari berbagai daerah berkumpul di Surabaya.
Di antara yang hadir adalah KH Kamil Sholeh (Sumatera Selatan), KH Romli (Makassar), Abdul Qodir Hasan (Banjarmasin), KH. Faishal (Lombok Tengah), KH Abdurrahman (Pandeglang), KH Abdul Hamid (Bogor), KH Abdul Halim (Majalengka), KH Abbas (Buntet Cirebon), KH. Amin (Babakan Cirebon), KH Ridwan (Semarang), KH Maksum (Lasem), KH. KH Asnawi (Kudus), KH Mahfudh Shiddiq (Jember), KH Usman (Cepu) dan lainnya.
Saat itulah lahirlah fatwa yang terkenal dengan nama Resolusi Jihad. Yang menyatakan perjuangan kemerdekaan sebagai jihad (perang suci). Hukumnya wajib bagi umat Islam yang berjarak 94 km. Sebuah fatwa yang segera membakar semangat juang para santri untuk keluar dari pesantrennya masing-masing. Tanggal 22 Oktober itulah yang kini ditetapkan Presiden Jokowi sebagai Hari Santri dan diperingati secara nasional setiap tahun.
Aksi heroik santri dan masyarakat dipimpin para kiai merebak di mana-mana. Laskar-laskar yang tumbuh di pondok-pondok pesantren keluar “sarang” nya melakukan aksi perlawanan. Suhu perlawanan pun terbentuk dan tidak ada yang bisa mengendalikan heroisme massal kecuali para kiai itu sendiri.
Saat itu, para santri banyak bergabung dalam Laskar Hizbullah yang dipimpin KH Zainal Arifin. Laskar ini sebelumnya memang sudah dibentuk dan bahkan sudah mendapat pelatihan oleh Jepang di Cibarusa, Bogor. Sehingga para santri pada laskar ini sudah mengenal senjata. Sedangkan Laskar Sabilillah yang dipimpin KH Masykur berpusat di Malang, dan berisikan para kyai.
Para santri ini berduyun-duyun datang ke Surabaya, dengan membawa senjata seadanya. Yang mereka bawa hanya satu, semangat untuk berjuang. Menegakkan amar maruf nahi munkar. Hidup mulia atau mati syahid.
Komandan perang 10 November 1945 Kiai Abbas Abdul Jamil dari Pesantren Buntet Cirebon dikisahkan menggunakan bakiak menghadang hujan peluru Belanda.
“Bakiak tersebut yang digunakan oleh Kiai Abbas untuk memimpin peperangan 10 November,” ujar penulis buku “Kisah-kisah dari Buntet Pesantren”, Munib Rowandi, seperti dirilis Liputan6.com, 10 November 2016.
Selain menggunakan bakiak, lanjutnya, ternyata Kiai Abbas juga menggunakan alu (alat penumbuk padi) dan tasbih untuk melawan para penjajah dalam peristiwa besar tersebut.
Berkobarkan perang sengit yang menyentak dunia itu, di Surabaya, pada 10 November 1945. Hanya beberapa pekan setelah kemerdekaan Indonesia dikumandangkan. Pemuda Sutomo alias Bung Tomo bahkan diketahui meminta nasihat kepada Kiai Hasyim Asy’ari.
Dikutip dari Ensiklopedi NU, Bung Tomo kerap bertandang ke Pesantren Tebu Ireng, Jombang, untuk menemui dan meminta restu Kiai Hasyim Asy’ari. Bung Tomo dikenal sebagai orator dalam Pertempuran 10 November 1945 yang membakar semangat arek-arek Surabaya, salah satunya dengan pekikan “Allahu Akbar”!!!

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi