KEMPALAN: KH Abdurrahman Wahid, atau yang akrab dipanggil Gus Dur, memang punya sense of humor tinggi. Rasanya tiada hari tanpa canda dalam hari-harinya. Itu setidaknya yang diceritakan beberapa kawan yang hadir sebagai orang dekatnya. Humor Gus Dur itu khas, yang tidak bisa diserupakan apalagi ditiru orang lain.
Maka di akhir ’90 an banyak muncul buku humor Gus Dur, terbit khususnya saat ia diangkat sebagai Presiden RI ke-4. Hampir semua penerbit yang menerbitkan kumpulan humor Gus Dur, merasa mendapatkan “berkah” tersendiri. Berkah buku yang diterbitkan, berbagai penerbit itu, penjualannya laku keras. Dari semua buku humor yang terbit, semuanya semacam koor memuat humor Gus Dur tentang polisi. Entah kenapa, selain humor tentang polisi itu memang menarik.
Canda Gus Dur:
“Hanya ada 3 polisi baik. Pertama, polisi tidur. Kedua, patung polisi. Ketiga, Pak Hoegeng.”
Tentu ini hanya candaan Gus Dur, yang itu bisa jadi cambuk buat institusi polisi. Terkadang cambuk cukup diberikan dengan candaan, yang itu mampu memecut aparat kepolisian untuk menjadi lebih baik. Candaan Gus Dur memang berkelas. Yang disasar tidak sampai wajahnya jadi merah merona, tanda marah.
Disebut Gus Dur nama Pak Hoegeng, itu adalah Jenderal Polisi, yang sekaligus sebagai Kapolri. Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso, nama komplitnya, adalah Kapolri di awal Orde Baru, (1968-1971). Masyhur sebagai pribadi sederhana, yang jauh dari hingar bingar khas pejabat kepolisian dengan pangkat tinggi. Ia pun bukan jenis jenderal polisi sebagaimana pernah disebut media, jenderal (dengan) rekening gendut.
Hoegeng pastilah jenderal dengan rekening tipis, seperti juga badannya yang memang kurus kerempeng. Kehidupannya pun jauh dari kemewahan. Secara ekonomi, ia bisa disebut jenderal “kerempeng” yang sebenarnya.
Dalam lintas zaman, orang terus mengenal Pak Hoegeng sebagai jenderal jujur. Konon saat ia menjabat sebagai Kapolri, tidak ada pengusaha yang coba-coba berani menawarkan fasilitas atau menyuapnya. Ia tidak mengenal kamus hengki pengki. Karenanya, kisah Pak Hoegeng itu mampu melintasi zaman, yang terus dikisahkan pada generasi ke generasi, dan itu akan sikap kejujurannya. Bagus juga jika di institusi Kepolisian ada mata pelajaran semacam “Mengenal Jenderal Hoegeng”, yang pastinya ini bisa jadi sumber inspirasi yang bisa nulari tentang hidup bersahaja dan jujur. Setidaknya agar para prajurit bisa mengambil ibrah dari polisi baik satu ini.
Maka memang jadi pantas jika Gus Dur menyebut namanya sebagai perlambang polisi baik. Sedang polisi tidur dan patung polisi, yang juga disebutnya sebagai polisi baik, itu sekadar candaan atau bisa jadi sentilan, bahwa polisi baik itu terlalu sedikit. Dan jika ada, itu ibarat polisi dalam adegan sinetron yang hadir sebagai pelindung dan pengayom masyarakat.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi