Tertutup dengan Citra Buruk
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mencatat kekerasan yang dilakukan oleh aparat Kepolisian ada 651 kasus setahun (Juli 2020-Mei 2021). Itu jumlah kasus kekerasan yang tercatat, belum yang luput dari yang dicatat.
Tentu kekerasan yang dilakukan aparat Kepolisian yang bisa jadi akan paling diingat sepanjang zaman, adalah penembakan dan perlakuan sadis, yang menimbulkan kematian 6 laskar eks FPI, di akhir Desember 2020. Penghilangan nyawa anak-anak muda itu, baru di sidangkan setelah hampir setahun dari peristiwanya. Kita akan menyaksikan pengadilan itu benar-benar dilakukan serius, atau pengadilan lip service , yang sekadar sandiwara-dagelan.
Sedang pada bulan Oktober 2021 ini, ada beberapa kasus kekerasan yang dilakukan aparat Kepolisian yang menyita perhatian publik. Dari mulai aksi smack down anggota kepolisian pada aksi demo mahasiswa di Tangerang, kasus mantan Kapolsek Perigi yang memperkosa remaja putri dengan iming-iming mengeluarkan ayahnya yang mendekam di penjara, Kapolres Nunukan yang memukul anak buahnya hingga terkapar, dan penembakan polisi pada rekan polisi lain hingga tewas, di Lombok Timur.
Kekerasan yang dilakukan pihak Kepolisian itu menjadi viral, karena semua kejadian bisa direkam dan lalu disebar. Kasus pemukulan di Nunukan itu diputar berulang-ulang dalam berita televisi, dan itu mencoreng citra Kepolisian. Juga bagaimana represifnya aparat Kepolisian menghajar ramai-ramai satu pengunjuk rasa yang tertangkap dengan kekerasan berlebihan dan sadistis, yang jika dilakukan pada penjahat pun itu perlakuan tidak pantas. Semua itu terekam pada memori publik, dan pastilah itu menutup adanya aparat Kepolisian baik, yang berjalan selalu menjaga citra Kepolisian.
Maka yang muncul pada pemberitaan adalah aparat Kepolisian yang melakukan tindak kekerasan, yang pada akhir-akhir ini diberitakan viral. Diberitakan sebagai bentuk protes, bahwa polisi sebagai pengayom dan pelindung rakyat itu cuma jadi slogan saja. Citra manusiawi kepolisian terasa hilang, dan yang muncul citra buruk.
Padahal masih ada polisi baik, yang jumlahnya pun tidak sedikit. Satu yang ingin disebut disini adalah Aipda Purnomo, di Lamongan. Kisahnya yang dimulai dari 2017, saat bertugas keliling dari desa ke desa ia temui banyak penduduk yang masih berada dalam kesulitan hidup, banyak anak yatim yang terlantar. Ia coba bantu sebisa ia bantu. Dengan seizin sang istri, yang bekerja sebagai bidan, ia sedekahkan semua uang saku yang didapat untuk dibagikan pada orang yang membutuhkan.
Aipda Purnomo punya kebiasaan yang jarang terpikir oleh orang lain. Selalu ia bawa pakaian lebih, pakaian laki-laki dan perempuan, di sepeda motornya. Jika ia temukan gelandangan dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dengan tanpa pakaian atau dengan pakaian yang tidak selayaknya, maka ia pakaikan dengan pakaian yang dibawanya.
Terlalu banyak yang harus dibantunya, termasuk tidak kurang 74 anak yatim dipelihara di rumahnya. Ditanggung pula biaya pendidikannya. Karenanya, ia mendirikan Yayasan Berkas Bersinar Abadi, maka tidak sedikit publik yang ikut berdonasi di yayasannya. Karenanya, gerak Purnomo makin menggeliat, memberikan beasiswa pada siswa yang berprestasi, dan proyek bedah rumah. Sudah lebih dari 50 rumah yang dibedahnya di Jawa Timur. Luar biasa…
Aipda Purnomo, itulah sejatinya polisi yang hadir bersama penderitaan rakyat. Sebenarnya tidak sedikit Purnomo lainnya bisa ditemui, tapi kiprahnya kurang terekspos, meski melakukan pekerjaan-pekerjaan kemanusian luar biasa. Tapi ya itu tadi, citra Kepolisian masih tampak buruk di mata publik, mustahil mampu ditutup oleh perbuatan baik Aipda Purnomo dan lainnya. Sejatinya, polisi itu memang harus berperangai baik. Itu kewajiban semestinya, apapun yang dihadapi. (*)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi