Menu

Mode Gelap

Kempalpagi · 29 Okt 2021 08:54 WIB ·

Potong Kepala


					Kapolri Jenderal Listyo Sigit ketika dilantik oleh Presiden Jokowi. Perbesar

Kapolri Jenderal Listyo Sigit ketika dilantik oleh Presiden Jokowi.

KEMPALAN: Ikan membusuk dari kepala. Aktivis anti-korupsi sangat paham adagium itu. Emak-emak yang suka belanja di pasar juga sangat faham akan hal itu. Untuk membedakan ikan yang segar dari yang busuk tidak perlu mencium dan memeriksa seluruh badan ikan, cukup buka insangnya, kalau menghitam dan berbau busuk sudah pasti seluruh tubuh ikan busuk.

Adagium itu sekarang menjadi viral karena dikutip oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, yang mengancam akan memecat anak buahnya yang tidak bertindak tegas terhadap berbagai pelanggaran bawahannya. Tidak tangung-tanggung, Kapolri menggunakan narasi yang seram, ‘’potong kepala’’.

Ancaman potong kepala berarti ancaman hukuman mati. Potong kepala dilakukan oleh para algojo, tukang jagal berdarah dingin, yang bisa memutus leher dengan sekali tebas. Aksi algojo ini banyak dijumpai di masa lalu ketika hukuman mati masih diterapkan pada masa feodal.

Tapi, hukuman potong kepala masih banyak terjadi sekarang di tengah situasi perang di Timur Tengah maupun di wilayah-wilayah lain yang sedang bergolak. Hukum potong kepala atau hukum pancung juga masih menjadi bagian dari eksekusi hukuman mati di negara-negara yang menerapkan syariat Islam.

Di abad pertengahan Eropa hukuman pancung dilakukan oleh algojo dengan menebaskan pedang ke leher. Di Prancis, sampai dengan abad ke-18, hukuman pancung diterapkan oleh raja-raja monarki absolut dengan menggunakan mesin pembunuh ‘’guillotine’’ yang bisa memotong leher dengan sekali gerakan.

Guillotine menjadi mesin pembunuh yang paling efektif dan mengerikan yang menjadi simbol kekerasan berdarah selama Revolusi Prancis 1789. Ribuan orang menjadi korban potong kepala selama revolusi yang berlangsung sepuluh tahun. Raja Louis XVI dan istrinya Marie Antoinette yang dikenal korup dan zalim mati dihukum potong leher dengan guillotine.

Tapi, para aktivis revolusioner mempunya dalil yang mengatakan bahwa revolusi akan memakan anaknya sendiri. Mereka yang menjadi inisiator revolusi berdarah akan menjadi korban kekerasan revolusi. Itulah yang dialami oleh Robespiere, salah satu tokoh utama Revolusi Prancis, yang akhirnya harus mengalami nasib tragis mati dipancung oleh guillotine.

Narasi potong kepala yang mengerikan itu sekarang disuarakan oleh Jenderal Listyo Sigit, bukan dalam konteks revolusi fisik seperti Revolusi Prancis, tapi dalam konteks revolusi mental di kalangan kepolisian. Kapolri rupanya gerah oleh serangkaian ulah indisipliner anak buahnya yang beberapa minggu terakhir ini menjadi viral nasional.

Kasus polisi yang melakukan bantingan smackdown terhadap mahasiswa yang melakukan demontrasi di Tangerang menjadi sorotan nasional. Polisi menjadi sasaran kecaman luas secara nasional karena dianggap tidak profesional dalam menangani kasus demonstrasi.

Seorang Kapolsek di Sulawesi Selatan melakukan pencabulan seksual terhadap seorang wanita yang ayahnya menjadi tersangka sebuah kasus pidana. Sang Kapolsek meminta layanan seksual dari si wanita dengan janji akan membebaskan ayahnya dari jeratan pidana. Mudah diduga bahwa jurus rayuan buaya darat yang dilancarkan Si Kapolsek adalah palsu belaka. Tapi, wanita sudah telanjur teperdaya.

Polisi mengayomi dan melindungi. Itulah tugas utama polisi. Tapi hal itu seolah menjadi jargon kosong yang hanya sekadar menjadi hiasan mobil patroli. Kasus pelecehan seksual itu bukan sekadar pagar makan tanaman, tapi pagar makan tanaman sekalian menguntal tanahnya. Kapolsek itu bukan mengayomi dan melindungi tapi menunggangi.

Episode keji lainnya terjadi di sebuah polsek di Deli Serdang. Seorang wanita istri tersangka kasus narkoba dihamili oleh beberapa oknum polisi di polsek tempat suami si wanita ditahan. Bukan hanya satu polisi yang diduga terlibat, tapi beberapa orang sekaligus. Si wanita menjadi budak nafsu karena iming-iming hukuman ringan oleh oknum-oknum polisi itu.

Di Kalimantan Utara, seorang kapolres memamerkan keterampilan smackdown terhadap anak buahnya. Pada suatu acara sang kapolres mengampiri anak buahnya , dan tanpa babibu sang kapolres melayangkan tendangan keras ala tarung bebas UFC. Setelah itu disusul dengan tendangan dan satu kali pukulan yang membuat sang anak buah terjengkang KO.

Di tempat lain, seorang polisi yang kalap mendatangi rumah koleganya sesama anggota polisi. Lalu dor, ia menembakkan senjata dan membunuh sang teman. Penyebabnya, sang teman dianggap bertindak kurang ajar suka mengirim pesan mesra ke istri tersangka. Cemburu buta berakhir dengan pencabutan nyawa.

Kasus-kasus asusila…

Artikel ini telah dibaca 30 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Preman

28 November 2021 - 09:25 WIB

Toilet

27 November 2021 - 09:14 WIB

Sapujagat

26 November 2021 - 09:31 WIB

Presiden Satu Jam

25 November 2021 - 08:42 WIB

‘’Nerror’’ di Istana

24 November 2021 - 09:07 WIB

Lockdown (Lagi)

23 November 2021 - 09:13 WIB

Trending di Kempalpagi