“Ada banyak aturan yang dibuat sendiri malah justru membuat kita terjerat dan membatasi kebebasan kita untuk menjadi lebih mulia dan sejahtera. Sementara, yang seringkali didengungkan pada kita adalah manisan-manisan atau permen yang dipandang sebagai hal yang sangat baik dan harus kita telan bersama,” papar Prof Nasih.
Pada proses pengukuhan guru besar itu, ketiga guru besar memberikan orasi ilmiah terkait kemajuan keilmuan masing-masing bidang. Prof Nurul menyampaikan orasi bertajuk “Fleksibilitas Perjanjian Trips dan Model Inovasi Terbuka sebagai Solusi Global yang Adil untuk Akses untuk Obat-Obatan dan Vaksin Menghadapi Pandemi Covid-19”. Prof Retno menyampaikan orasinya tentang “Potensi dan Aplikasi Kitosan sebagai Biomaterial di Bidang Teknologi Farmasi dan Biomedis”. Dan Prof Yudi menyampaikan orasinya yang bertajuk “Sel Punca Pembuluh Darah: Harapan Baru Terapi Regeneratif Penyakit Jantung Koroner”.

Dengan adanya gagasan tersebut, Prof Nasih mendorong para guru besar untuk bisa tampil menyuarakan dan mengampanyekan ide berupa riset sebanyak-banyaknya dan mendiseminasi hasil riset ke seluruh penjuru dunia agar kesetaraan dan kebebasan yang sebenarnya bisa terwujud secara nyata. Diharapkan para ilmuwan yang dimiliki UNAIR dapat terus menerus mengkampanyekan inovasi yang dimiliki dan diproduksi oleh ilmuwan UNAIR sendiri.
“Kami sangat berharap guru besar baru kita akan segera mengajak kita keluar dari satu zona nyaman ke zona nyaman berikutnya. Intinya kita tidak berada pada satu zona nyaman dengan waktu yang sangat lama. Dibutuhkan adanya inovasi dan riset yang terus berkelanjutan,” tuturnya. (Nani Mashita)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi