TEL AVIV-KEMPALAN: Israel akan memberikan izin kepada turis yang divaksin dengan menggunakan Sputnik V Rusia untuk memasuki Israel. Pernyataan itu diumumkan hanya beberapa hari setelah Perdana Menteri Naftali Bennett bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Sebelumnya, Perdana Menteri Israel, Naftali Bennet mengatakan bahwa hanya wisatawan yang menggunakan vaksin yang telah diakui oleh US Food and Drug Administration (US FDA), World Health Organization (WHO), atau the European Medicines Agency (EMA) untuk dapat masuk ke Israel. Namun, vaksin Sputnik V tidak disetujui oleh badan-badan tersebut sehingga siapapun yang mendapatkan vaksin tersebut tidak diperbolehkan memasuki Israel.
Dalam sebuah laporan N12, saat tiba di Israel, wisatawan yang divaksinasi dengan Sputnik V masih perlu melakukan tes serologis. Semua wisatawan harus melakukan tes PCR dalam waktu 72 jam sebelum melakukan penerbangan ke Israel.
Sejak musim gugur tahun lalu, ketika hasil uji coba sementara, Vaksn buatan Rusia memiliki klaim bahwa vaksinnya 92% telah efektif melindungi terhadap COVID-19. Rusia telah meminta untuk mendapatkan persetujuan vaksinnya dari Uni Eropa dan beberapa negara lainnya termasuk Israel
Pada Februari 2021, Rusia mengajukan permohonan persetujuan dari WHO untuk vaksinnya. Namun, permohonan tersebut ditunda oleh WHO karena proses pembuatannya tidak memenuhi standar yang ditentukan.
Para analis mengantisipasi pengumuman Israel yang mengatakan bahwa perdana menteri dapat mengizinkan orang yang divaksinasi dengan Sputnik V memasuki Israel untuk keuntungan diplomatik.
Menteri Kesehatan Nitzan Horowitz mengumumkan kesepakatan dengan Uni Emirat Arab dan Bahrain untuk saling mengakui sertifikat vaksin serta green pass masing-masing pada awal pekan ini.
Profesor Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Bar-llan, Michael Edelstein, mengatakan bahwa Rusia masih mendorong Israel untuk menyetujui vaksinnya dan Bennett telah mendiskusikan masalah tersebut dengan Putin.
“Negosiasi ini tidak semata-mata tentang efektivitas vaksin, ini digunakan sebagai alat tawar-menawar dan menjadi bagian dari diplomatik,” kata Michael.
Direktur dan wakil prediksi global untuk The Economist Charitable Trust, Agathe Demarais, mengatakan bahwa sejak awal tahun Rusia telah mengirim jutaan vaksinnya ke negara-negara berkembang sebagai bagian dari program “Diplomasi vaksin”.
“Kesulitan produksi telah menunda pengiriman suntikan kedua vaksin Sputnik V yang dikembangkan Rusia menyebabkan kebencian pada warga lokal. Di Argentina, penundaan pengiriman ini telah menyebabkan pertikaian diplomatik antara kedua pemerintah. Selain itu, kurangnya transparansi atas data klinis meningkatkan keraguan terhadap vaksin buatan Rusia,” kata Demarais.
(JerusalemPost, Muhamad Nurilham)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi