Menjelang akhir tahun 1990-an, Djoko Pekik sempat menghebohkan jagat seni rupa kita setelah meluncurkan tiga lukisannya yang dijuduli “Trilogi Celeng”; yakni “Susu Raja Celeng”(1996); “Indonesia Berburu Celeng” (1998); dan “Tanpa Bunga dan Telegram Duka” ( 1999). Lukisan “Trilogi Celeng” yang laku dibandrol 1 milyar tersebut dianggap menggambarkan tahapan pra, saat dan pasca berakhirya kekuasaan rezim otoriter Soeharto. Di mata Djoko Pekik yang notabene mantan aktivis Lekra tersebut, Soeharto dengan rezim Orde Barunya seperti celeng: serakah, rakus, dan otoriter luar biasa.
Gegara menyajikan karikatur seorang polisi sedang memegang kendali tali pengikat tiga ‘celengan’ (tempat menyimpan uang berbentuk babi), redaksi Tempo sempat diadukan Mabes Polri. Korps baju cokelat meradang dirinya digambarkan seperti itu pada edisi Tempo 28 Juni-4 Juli 2010. Apalagi secara eksplisit dilengkapi teks: “Rekening Gendut Perwira Polisi”. Untunglah setelah dimediasi oleh Dewan Pers, keduanya sepakat menempuh jalan perdamaian. Tuntutan hukum dicabut dan Tempo bersedia melayani hak jawab Mabes Polri.
Beberapa pekan lalu ‘celeng’ kembali ramai menjadi pembicaraan publik politik tanah air. Ketua DPP sekaligus Ketua DPD PDIP Jateng, Bambang Wuryanto menjuluki sohibnya, Albertus Sumbogo dan kawan-kawan, bukan lagi sebagai bagian “barisan banteng’, tetapi telah menjadi “barisan celeng”. Penisbatan tersebut akibat Albertus Sumbogo yang merupakan Wakil Ketua DPC PDIP Kabupaten Purworejo, bersama teman-temannya mendeklarasikan Ganjar Pranowo sebagai Capres Pemilu 2024. Padahal menurut aturan main partai ‘moncong putih’, penentukan capres atau cawapres merupakan hak prerogatif Ketum, Megawati Soekarnoputri.
Dalam kegiatan komunikasi, penggunaan berbagai bentuk metafora memang akan dapat membantu dalam menggambarkan hal-hal yang dimaksud dengan lebih jelas dan tepat. Sebagaimana dinyatakan Ullman (2007:265), saat seseorang menggunakan metafora dalam suatu kegiatan pertuturan, ia sesungguhnya sedang membandingkan suatu bentuk dengan bentuk yang lain dengan memiliki ciri-ciri dan sifat yang sama, namun dalam wujudnya yang singkat dan padat.
Termasuk dalam hal ini penggunaan metafora hewan (animal metaphors). Melalui metafora hewan seseorang berupaya menginformasikan kepada orang lain tentang kesamaan antara sifat dan prilaku manusia dengan sifat dan prilaku hewan. Metafora hewan juga dapat ditujukan untuk menunjukkan kesetaraan antara seseorang dan hewan dimaksud. Penggunaan metafora hewan juga menunjukkan kekayaan dan kompleksitas suatu bahasa.
Dalam bahasa-bahasa Nusantara, termasuk Jawa, terdapat sejumlah idiom berwujud metafora yang menggunakan nama binatang. Misalnya, orang Jawa yang pemalas, akan digambarkan sederajat dengan sifat dan perilaku ular kadut (ula kadut). Sedangkan orang yang sikapnya berubah-ubah digambarkan belut (welut). Lantas apa dan bagaimana makna dibalik heboh penggunaan metafora celeng dari kandang banteng saat ini? Dari narasi di atas saya kira pembaca sudah bisa menyimpulkannya. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi