Selasa, 12 Mei 2026, pukul : 21:50 WIB
Surabaya
--°C

Citra Metafora ‘Celeng’ di Kandang Banteng

Kholid A.Harras

Mahasiswa Program Doktoral Linguistik Pascasarjana UPI

KEMPALAN: Dalam memori masyarakat kita, babi hutan (Sus scrofa Linnaeus),   memiliki  citra diri atau imaji yang buruk.  Hewan yang dalam bahasa Jawa disebut celeng  ini saat dewasa berat badannya bisa mencapai 200 kg. Seluruh tubuhnya dipenuhi bulu hitam seperti ijuk; tajam dan kasar. Kedua bola matanya tampak kecil dan menyipit. Pada moncongnya bertengger kokoh dua taring runcing. Itu semua membuat tampilan fisik celeng tampak sangar, mistis dan menyeramkan.  

Celeng merupakan pemakan segala: buah-buahan, padi-padian, hingga umbi-umbian. Dengan moncongnya mereka biasa mengendus dan menyosor tanah becek berlumpur. Berburu semut, cacing hingga orong-orong. Saat usahanya gagal,  tidak jarang ia akan memakan kotorannya sendiri atau  kotoran hewan lain. Akibat  prilakunya tersebut celeng kerap dipersepsi hewan oportunistik lagi menjijikkan.

Celeng,  yang konon moyang dari spesies babi ternak (sus domesticus) saat kondisi terdesak  akan menunjukkan  prilakunya yang super nekad.  Saat diburu atau dikejar predator, mereka langsung berhamburan. Tanpa perduli akan berlari  ke segala arah.   Karena tidak bisa berbelok, apapun akan diterabas dan diterjangnya. Boleh jadi  mengacu pada sikap nekad celeng itulah  yang melahirkan istilah ‘membabi-buta’, untuk menggambarkan manusia para pelaku penghalal segala cara.

Dalam cerita mitos mistik-pesugihan, celeng juga dipercaya bisa menjadi hewan jelmaan  penggasak uang masyarakat.  Karena modusnya memepet-mepetkan  tubuhnya ke tembok rumah sasaran, mereka dinamai ‘babi ngepet’. Sedangkan di Jawa Timur, karena aksinya menimbulkan suara ‘kresek-kresek’ disebut ‘celeng kresek’.

Dalam bahasa Sunda  babi hutan  disebut ‘bagong’. Pada sejumlah daerah di  Jawa Barat dikenal kegiatan ‘moro bagong’ dan pertunjukan ‘ngadu bagong’‘Moro bagong’ adalah aktivitas masal berburu ‘bagong’ di hutan yang menjadi habitat mereka. Tujuan aksi perburuan yakni untuk membatasi populasi hewan yang dikenal perkembangbiakannya sangat cepat, dan ulahnya sangat merugikan para  petani.

Adapun ‘ngadu bagong’ merupakan pertunjukan memperkelahikan secara brutal, bahkan sampai mati,  antara ‘bagong-bagong’ liar dengan anjing-anjing terlatih (umumnya anjing ras jenis Pitbull)  yang memiliki naluri menggigit yang sadis. Pertunjukan ‘ngadu bagong’ biasanya dilakukan di sebuah lahan yang dipersiapkan seara khusus. Pertunjukan  ‘ngadu bagong’  pada sejumlah wilayah Priangan Jabar ini konon sudah berlangsung sejak tahun 1960-an.

Menjelang akhir tahun 1990-an…

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.