KEMPALAN: Singapura, menyebut kata ini yang terbayang adalah keindahan, kenyamanan, dan keamanan, namun berbiaya tinggi. Akhirnya, memunculkan pemahaman para traveller “jalan-jalanlah di Singapura tapi minumnya di Malaysia.”
Negara kecil berpenduduk di kisaran 6 juta jiwa dengan luas wilayah 721,5 km2 ini sering membuat tidak nyaman negara Asia Tenggara yang lain, karena selalu menjadi perbandingan dalam banyak hal. Sebelum pandemi Covid-19 bisa dilihat betapa senang dan bangga-nya milenial kita jika travelling ke “surga” Asia Tenggara ini, yang tentu saja diikuti dengan memamerkan foto-foto di sosial media.
Kalahkah Indonesia? Tunggu dulu. Singapura punya Universal Studio, kita pun ada Trans Studio. Mereka ada Orchad Road yang hiruk pikuk, kita memiliki Malioboro. Merlion Park dengan kecantikan Patung kepala singa berbadan ikan, bisa dibandingkan dengan kemegahan Patung GWK yang menjulang di ketinggian 263 meter di hamparan Pulau Bali.
Pulau Sentosa boleh dibandingkan indahnya dengan Pulau Kumala. Singapura Zoo? Silahkan disandingkan dengan Taman Safari. Apa lagi, Esplanade Theatres? Kita punya Balai Sarbini di kawasan Plaza Semanggi.
Tidak kalah. Pendek kata yang Singapura punya, Indonesia juga punya. Justru sebaliknya yang kita punya, Singapura tidak mungkin memiliki; eloknya Raja Ampat, Pulau Komodo yang khas, atau Bromo dengan lautan pasir yang diselimuti suhu beku yang dingin. Semua ini adalah fakta, maka bangga-lah ber-Indonesia.
Namun sayang, satu dua hari ini juga ada fakta baru. Sejak pandemi covid-19 tahun lalu, Singapura yang terperosok di jurang resesi bersama sejumlah negara yang lain termasuk Indonesia, sudah berhasil menaiki jurang tersebut, dan kini sudah sah lolos dari kubangan resesi. Sejatinya capaian-capaian kita dalam beberapa bulan terakhir sudah positif, namun besarannya masih berada di bawah Singapura.
Release terkini Badan Pusat Statistik (BPS) atas perdagangan internasional periode Maret 2021, dilaporkan melebihi ekspektasi pasar. Nilai ekspor yang US$ 18,35 miliar, naik 30,47% year-on-year (yoy) yang berarti pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, naik 20,31% month-to-month (mtm), capaian ini adalah salah satu indikator positif makro ekonomi.
Capaian lain dari sisi komoditas, harga minyak mentah mengalami kenaikan 5,2% dari Februari ke Maret. Performa positif ekspor yang lain ada di batu bara, minyak kernel, minyak kelapa sawit, juga timah. Peningkatan-peningkatan permintaan dari berbagai negara telah menggeser ekspor kita ke arah yang lebih baik.
Dengan beberapa capaian tersebut ternyata masih belum mampu menempatkan Indonesia untuk bisa keluar dari zona resesi. Singapura dengan catatan Pertumbuhan Kuartal I-2021 0,2% yoy, kini sudah boleh menepuk dada karena sudah terbebas dari resesi. Kontraksi sepanjang 2020 seperti hal-nya Indonesia sudah dilewati.
Keberhasilan Singapura diikuti Vietnam dengan capaian lebih mencengangkan. Pertumbuhan Kuartal I-2021 mencapai 4,48%. Vietnam pun sudah boleh melambaikan tangan pada resesi, selamat tinggal resesi. Bukan sekedar lepas dari resesi, Vietnam juga diyakini telah sukses menahan laju penyebaran kasus covid-19.
Dengan pertumbuhan kuartal II-2020 sebesar -5,4%, kontraksi ekonomi Singapura sebenarnya lebih dalam dibanding Indonesia yang -5,32%. Situasinya saat ini masih belum nyaman, ada tantangan besar bagi Indonesia setelah diprediksi pertumbuhan Kuartal I-2021 masih berada dikisaran -1% sampai -0,1%. Artinya Indonesia masih kebulet di zona resesi di saat negara Asia Tenggara yang lain sudah berlarian mengejar capaian-capaian baru yang lain.
Setahun sejak berurusan dengan Corona, cukup banyak negara berjatuhan di jurang resesi. Hal ini ditandai dengan negatifnya catatan pertumbuhan ekonomi kuartalan selama dua kuartal atau lebih dengan nilai negatif.
Sejatinya, dalam persepsi masyarakat, status masuk jurang resesi tidak terlalu menakutkan meskipun berdampak pada berkurangnya lapangan pekerjaan dan peningkatan angka kemiskinan. Pemerintah juga telah membuat beberapa stimulus untuk meringankan beban masyarakat disamping juga sebagai bagian dari agenda pemulihan ekonomi nasional.
Sesuai konsep dasarnya, resesi memang tidak semengerikan krisis ekonomi yang ditandai dengan rapuhnya fundamental ekonomi yang tercermin pada laju inflasi yang tinggi, macetnya pertumbuhan ekonomi, utang pemerintah yang melebihi kemampuan bayarnya, in-efisiensi investasi, juga defisit neraca pembayaran.
Di samping resesi dan krisis ekonomi, satu jurang lagi adalah depresi yang ditandai dengan capaian pertumbuhan negatif untuk angka waktu yang lebih lama dari resesi. Selanjutnya, jika kemegahan Universal Studio, Merlion dan lain-lain tadi dapat kita imbangi, tampaknya masih belum untuk penanganan resesi ini.
Akhirnya, mari bekerja lebih keras lagi, mari berkonsumsi lebih banyak lagi, mari membuat ekonomi lebih bergerak lagi. Resesi, cepatlah pergi dan jangan kau datang lagi. Salam.(Bambang Budiarto–Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi