KEMPALAN: Sepertinya sangat sulit menemukan orang di negeri ini yang tidak mengenal Raffi Ahmad. Sekalipun muncul nama Arya Saloka yang sedang meroket bersama Aldebaran-nya, tapi popularitas Raffi Ahmad, Sang Sultan dari Andara ini tetaplah tidak tergeser.
Penguasa hampir separo perumahan di kawasan Andara ini secara mengejutkan mengakuisisi Klub Liga 2 Cilegon United melalui Rans Entertainment bersama Prestige Motocars. Lahir Rans Cilegon United dan hingar bingarlah cerita kasta Liga 2 yang sebelumnya sepi berita juga jarang diberitakan oleh media.
Kemeriahan berita Liga 2 semakin seru dengan kehadiran Kaesang mengomandani Persis Solo, kehadiaran Dewa United dan Muba Babel yang penuh inovasi. Deretan pemain kelas satu pun tidak ragu bergabung di Liga 2, ada Sahar Ginanjar, Asri Akbar, juga sosok naturalisasi Beto Gonsalves dan yang lain.
Jika hitung-hitungannya benefit-cost ratio, Sultan Andara tentu sudah berpikir jauh bahwa dengan anggaran awal kurang lebih Rp300 miliar sangatlah mustahil akan bisa segera mendapatkan keuntungan ataupun sekadar balik modal.

Sepak bola memang meriah dan digemari di negeri ini sekalipun minim prestasi, sejak tahun 1977 keikutsertaannya dalam Sea Games, baru 2 kali meraih emas cabang sepak bola, 1989 dan 1991. Per 1 Januari 2012, berdasar Permendagri No. 1 Tahun 2011 semua Kub Profesional dilarang menggunakan APBD untuk membiayai operasional klub, maka sejak saat itulah era pengelolaan klub secara profesional dimulai.
Dikelola dalam bentuk badan usaha, dan bermunculan Perseroan Terbatas (PT) sebagai pemilik/pengelola klub. Cerita sedih klub menunggak gaji pemain, sewa stadion belum lunas, pajak tontonan terhutang dan lain-lain adalah indikator bahwa mengelola klub sepak bola sepertinya masih lebih pada sebuah penyaluran hobi ataupun cita-cita luhur anak bangsa yang ingin berbuat untuk negeri tercinta melalui sepak bola meskipun secara finansial babak belur.
Demikian pula dengan Sultan Andara ini, yang gagal meraih cita-cita sebagai pemain bola akhirnya membeli klub sepak bola. Disadari sejak awal sesuai yang dinyatakan bahwa jika dalam hitungan bisns tentu masih belum kelihatan, sehingga fokusnya menanamkan infrastruktur Sekolah Sepak Bola (SSB), Akademi juga tim yang dapat menyalurkan bakat melalui seleksi yang terakreditasi.
Mencermati hal tersebut berarti dapat dipahami bahwa tidak boleh berharap banyak untuk mendapatkan profit sekalipun pengelolaannya sudah sangat profesional. Jangankan profit, untuk sampai pada Break Even Point (BEP) saja tentu harus berpikir seribu kali, karena hal ini pasti sangat sulit diperoleh.
Dalam tataran teori, BEP memiliki metode pengkuruan dengan berbagai asumsi dan ide dasarnya sendiri. Namun, secara sederhana dapat dinyatakan bahwa BEP atau titik impas ini adalah situasi pada saat biaya operasional yang digunakan sama besarnya dengan pendapatan yang didapat.
Kondisi keuangan dalam posisi tidak untung dan tidak rugi, seimbang. Layaknya sebuah perusahaan, jika memang pengelolaannya dalam bentuk PT, seharusnya memang harus profit oriented dengan Input-Proses-Output (IPO) yang terukur untuk keperluan monitoring dan evaluasinya.
Hampir semua klub profesional di Indonesia dikelola oleh PT, bisa dilihat ada PT Persib Bandung Bermartabat yang mengelola Persib Bandung, PT Kediri Djajati Perkasa yang menaungi Persik Kediri, juga PT Arema Indonesia, dan lain-lain. Semua memiliki Input yang jelas, Proses yang jelas, hanya Output-nya yang masih membuat bias.
Seringkali pengelola klub mencanangkan target-nya adalah juara atau meraih promosi ke kasta yang lebih tinggi dan bukan keuntungan klub. Sebenarnya ada empat capaian ideal yang dapat dijadikan sebagai target klub yang dikelola PT; Raihan Kemenangan, Perolehan Keuntungan, Kelancaran Pertandingan, dan Keamanan.
Belajar dari cerita sedih klub-klub profesional sebelumnya yang akhirnya berguguran seperti Warna Agung, Arseto, atau Niac Mitra, yang pastinya memiliki ketidakseimbangan dari sisi penerimaan dan pengeluaran, akan lebih baik jika diantisipasi sejak dini pos-pos pengeluarannya. Harus disadari bahwa meraih profit dalam mengelola klub belumlah sebuah tradisi.
Jangankan profit, untuk sampai pada BEP saja masih setengah mati. Mental, tentu saja ini juga yang harus dipersiapkan. Di sepak bola cukup banyak faktor non teknis yang dapat menjadikan putus asa. Sesultan-sultannya Raffi Ahmad kalau terus merugi hadir di Cilegon mau tidak mau akan berpikir dua kali untuk menghidupi klub ini.
Harapan mulia menjadikan Rans Cilegon United tentu hanya akan menjadi sebuah mimpi. Pertanyaannya, mau-kah Rans Cilegon United dikelola oleh badan usaha berbentuk koperasi, seperti hal-nya Barcelona FC klub yang menggaji Lionel Messi?
Ayo dipikir bareng-bareng biar koperasi juga punya eksistensi. Salam. (Bambang Budiarto–Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi