EVA yang Harus Dijanjikan, Dipamerkan, dan Direalisasikan

waktu baca 4 menit

KEMPALAN: Bonek Bentrok di Perbatasan Lamongan, Bobotoh Hadang Jackmania Masuk Bandung, Aremania Dikawal Aparat Pulang Ke Malang, Polisi Pisahkan Tribun Persikmania dan LA Mania, Bus Tim Mutiara Hitam Dilempari Batu. Itu semua adalah beberapa jenis penggalan-penggalan berita yang biasanya menghiasi media cetak ataupun media online saat bergulirnya  Kompetisi Liga Indonesia.

Namun apa daya, karena pandemi Covid-19 kompetisi harus berhenti. Tak ada selebrasi Ivan Dimas di lapangan, tak ada gol tercipta, pun tak ada hingar bingar terompet ataupun nyanyian supporter membahana di sudut-sudut stadion. Dan seakan-akan Pak Polisi kehilangan satu tugas mulianya di sepanjang tahun 2020 kemarin, yaitu mengatur kegaduhan supporter ataupun bentrok supporter.

Kompetisi harus berhenti ketika pertandingan baru memasuki minggu ketiga dan seketika itu juga pukulan telak dirasakan oleh semua. Pemain, pelatih, sponsor, pengelola stadion, sektor perhubungan dan perhotelan, juga ribuan sektor informal yang terlibat di dalamnya. Empat kali pengajuan PSSI, empat kali pula menemui jalan buntu.

Kepolisian memandang pergelaran kompetisi sepak bola tanah air belum bisa digelar karena berpotensi mempertinggi angka penularan Covid-19. Berakhirlah kompetisi 2020 tanpa juara dan tanpa juru kunci.

Kini, di awal 2021 ada lampu hijau dari Kepolisian untuk pergelaran Piala Menpora sebagai turnamen pramusim. Sepertinya ini adalah ujian, jika pergelaran dapat berjalan lancar dengan protokol kesehatan dan beberapa syarat juga ketentuan yang  ketat, tidak menutup kemungkinan Kepolisian akan meneruskan dengan memberikan izin perhelatan Liga Indonesia.

Namun jika terjadi beberapa pelanggaran, sepertinya semua harus siap-siap gigit jari untuk tidak atau belum bisa menikmati lagi kompetisi kasta tertinggi di tanah air ini. Masalahnya sekarang, semua terlanjur optimis dan sudah menyiapkan dengan baik turnamen pramusim ini untuk kemudian lanjut dengan Putaran Kompetisi 2021.

Hal ini dapat dimaklumi, sebab kompetisi ini tidak sekedar mengolah bola di lapangan dan hiruk pikuk supporter di pinggir lapangan. Lebih dari itu ada Nilai Tambah Ekonomi (Economic Value Added/EVA).

EVA sering dipahami sebagai cara mengukur kinerja perusahaan dengan mengintegrasikan biaya modal yang dilakukan dengan memasukkan biaya hutang dan biaya ekuitas. Ada pula yang mengartikan bahwa EVA adalah suatu sistem manajemen keuangan untuk mengukur laba ekonomi dalam suatu perusahaan, dengan keyakinan kuat bahwa kesejahteraan hanya dapat tercipta jika perusahaan mampu memenuhi semua biaya operasi dan biaya modal. Dalam opini ini penulis mencoba untuk melihat dari perspektif yang sedikit berbeda, mengkaji EVA dari sudut pandang ekonomi.

Dalam tataran makro ekonomi, setiap ada putaran uang pasti diikuti dengan pergerakan pertumbuhan ekonomi. Liga Indonesia, gelaran kompetisi ini  sangat nyata putaran uangnya, dan nyata pula perannya dalam menggerakkan ekonomi. Multiplier effect-nya sangat sempurna, baik multiplier economy, multiplier income, ataupun multiplier employment. Itu semua adalah nilai tambah ekonomi (EVA) dari industri sepak bola ini.

Artinya, kompetisi ini mampu menggerakkan pertumbuhan ekonomi nasional, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan menciptakan lapangan pekerjaan.  Memahami keberadaannya yang demikian sebenarnya dapat dikatakan bahwa pergelaran Kompetisi Liga Indonesia ini sesungguhnya adalah salah satu instrumen altenatif yang dapat dijadikan sebagai push factor program pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Pertengahan tahun lalu terbit Permenaker No. 14/2020 yang merupakan payung hukum pemberian Bantuan Subsidi Upah. BSU sebesar Rp 600.000 per bulan yang diberikan selama empat bulan kepada masyarakat berpenghasilan di bawah Rp 5.000.000 per bulan dengan berbagai syarat dan ketentuan penerimaannya.

Jika dihitung-hitung kontribusinya  dalam menggerakkan ekonomi nasional sebagai media PEN, sepertinya EVA Liga Indonesia masih lebih besar. Meskipun ada satu variabel yang harus dipertimbangkan juga yaitu risiko penyebaran Covid-19.

Begitulah Liga Indonesia, yang  mampu menunjukkan fungsinya lebih dari sekadar sebuah pertandingan sepak bola, tapi memiliki sebuah EVA. Dan untuk bisa berkontribusi lebih dalam PEN, EVA harus dijanjikan kepada para pengambil keputusan, dipamerkan, dan direalisasikan keberadaannya.

Tunjukkan bahwa Liga Indonesia mempunyai EVA yang mampu berkontribusi dalam agenda PEN, dan bukan merupakan bagian dari masalah penyebaran dan penularan Covid-19. Akhirnya, selamat datang Turnamen Pramusim Piala Menpora, harap-harap cemas untuk Kompetisi Liga Indonesia 2021. (Bambang Budiarto–Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *