Mungkin sudah saatnya kita berhenti mengirim ekonom ke luar negeri untuk bisa belajar kebijakan moneter. Cukup kirim mereka ke pesantren atau biro perjalanan umrah untuk mempelajari kapan kira-kira kurs akan hancur lagi.
Oleh: Dr. Kholid Abdul Harras
KEMPALAN: Ada sebuah pencapaian intelektual luar biasa dari kantor Menko Perekonomian di tahun 2026 ini. Ketika Rupiah terjun bebas hingga mencium level Rp 17.455 per Dolar AS, pemerintah tidak menyalahkan manajemen utang yang ugal-ugalan atau fundamental ekonomi yang keropos.
Tidak, itu terlalu teknis. Mereka memilih jalan yang lebih spiritual: menyalahkan para calon jemaah haji. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dengan sangat tenang menyebut pelemahan ini hanyalah “faktor musiman”.
Seolah-olah nilai tukar mata uang kita adalah tanaman hias yang layu karena ada perubahan cuaca, dan “cuaca” kali ini bernama ibadah haji.
Sungguh sebuah logika yang membagongkan; kita seolah dipaksa percaya bahwa doa-doa suci di depan Ka’bah itu memiliki korelasi negatif dengan indeks harga saham di Jakarta.
Mari kita bedah secara sadis betapa “jeniusnya” narasi ini.
Menjadikan haji sebagai biang kerok anjloknya kurs adalah bentuk kreativitas birokrasi tingkat dewa. Ini adalah strategi “Kambing Hitam yang Saleh”.
Jika pemerintah menyalahkan kebijakan “The Fed“, maka publik mungkin akan menuntut strategi lindungi nilai yang lebih baik. Tapi, kalau menyalahkan haji?
Siapa yang berani protes? Mendebat pemerintah berarti seolah-olah menghalangi orang pergi ke Tanah Suci. Ini adalah taktik cuci tangan yang paling religius dalam sejarah moneter kita.
Bayangkan betapa rapuhnya ekonomi sebuah negara jika nasib mata uangnya bisa ditentukan hanya karena rakyatnya ingin menjalankan rukun Islam kelima.
Jika permintaan valas dari segelintir jemaah saja sudah membuat Rupiah tiarap, lalu apa gunanya cadangan devisa yang selama ini dipamerkan dalam infografis estetik di media sosial pemerintah?
Apakah devisa kita itu sebenarnya hanya tumpukan koin di celengan ayam yang langsung kosong begitu musim haji tiba?
Secara satir, kita bisa melihat pola baru dalam tata kelola ekonomi nasional: “Manajemen Berbasis Kalender”.
Besok-besok, kalau harga beras meroket, biang keroknya pasti karena “musim kondangan”. Saat itu konsumsi nasi dituduh akan banyak terserap ke piring prasmanan orang-orang yang hajatan .
Kalau nanti angka pengangguran naik, itu pasti “musim rebahan”. Dan, jika kelak Rupiah menyentuh Rp 20.000, mungkin alasannya karena “musim layangan”. Saat itu karena banyak angin yang meniup Dolar terlalu tinggi ke angkasa. Absurd kan? Tentu saja.
Narasi “Rupiah Haji” ini sebenarnya adalah pengakuan dosa yang terselubung. Pemerintah secara tidak langsung mengakui bahwa struktur ekonomi kita begitu ringkih, sehingga sedikit gejolak permintaan musiman saja sudah cukup untuk membuat nilai tukar kita megap-megap seperti ikan di kolam kering.
Dolar sedang asyik tawaf, sementara Rupiah sedang sibuk melempar jumrah ke arah nasibnya sendiri.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti mengirim ekonom ke luar negeri untuk bisa belajar kebijakan moneter. Cukup kirim mereka ke pesantren atau biro perjalanan umrah untuk mempelajari kapan kira-kira kurs akan hancur lagi.
Akhir kata, mari kita doakan para jemaah agar mabrur ibadahnya, dan kita doakan para pejabat kita agar mabrur logikanya – meskipun yang kedua sepertinya butuh mukjizat yang jauh lebih besar.
*) Dr. Kholid Abdul Harras, Dosen Universitas Pendidikan (UPI) Bandung

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi