Karena gagasan itu memang lahir dari kegelisahan saya. Dari pengalaman hidup saya. Dari apa yang saya lihat, saya dengar, saya renungkan, dan saya perjuangkan.
Oleh: Agus M Maksum, Menulis di Era Mesin AI
KEMPALAN: “AI (Artificial Intelligence) bisa menulis cepat, tapi ruh tulisan tetap harus milik manusia.” Beberapa waktu terakhir saya sering ditanya teman-teman.
“Sampeyan kok produktif sekali menulis Cak?”
“Sehari bisa bikin berapa tulisan?”
Saya biasanya tertawa kecil.
Kadang sehari saya bisa menghasilkan enam sampai delapan tulisan. Kadang lebih. Tetapi yang saya keluarkan ke publik biasanya hanya satu atau dua tulisan saja. Selebihnya saya simpan sendiri.
Bahkan kadang saya sungkan sendiri. Karena terasa terlalu banyak. Padahal sesungguhnya bukan tulisannya yang banyak. Yang banyak tersebut pikiran, kegelisahan, dan ide yang menumpuk di kepala.
Dan hampir selalu setelah pertanyaan itu muncul, akan muncul pertanyaan berikutnya:
“Pakai AI ya?” Saya jawab: “Iya.” Tetapi biasanya setelah itu saya langsung kasih catatan panjang. Karena menurut saya, masalah terbesar hari ini bukan soal AI-nya. Tetapi cara manusia memahami AI.
Banyak orang menganggap AI itu seperti makhluk super pintar yang tahu semua jawaban.
Padahal AI itu sebenarnya hanya mesin yang membaca pola data dalam jumlah sangat besar.
Dia bisa menyusun kata. Bisa merapikan bahasa. Bisa membuat struktur tulisan. Bisa membantu elaborasi.
Tetapi AI tidak punya pengalaman hidup.
AI tidak pernah jatuh bangkrut. AI tidak pernah kehilangan orang tua. AI tidak pernah merasakan pahitnya perjuangan rakyat kecil. AI tidak pernah duduk di desa melihat petani gagal panen. AI tidak pernah merasakan tekanan hidup.
AI hanya membaca pola. Sedangkan manusia memahami makna. Dan di situlah saya melihat perbedaan paling penting.
AI seharusnya menjadi asisten manusia. Bukan pengganti manusia.
Saya Tidak Ingin Ditundukkan AI
Saya sering mengatakan: “Kitalah yang harus menundukkan AI. Bukan kita yang ditundukkan AI.”
Kalimat ini terdengar sederhana. Tetapi sebenarnya sangat filosofis. Karena hari ini banyak orang diam-diam sudah mulai menyerahkan proses berpikir mereka kepada mesin.
Sedikit ide… langsung dilempar ke AI. Sedikit kegelisahan… langsung minta AI membuat kesimpulan.
Bahkan kadang belum memahami masalahnya sendiri… tetapi sudah meminta AI membuat opini.
Akibatnya lahirlah tulisan-tulisan yang terlihat canggih di permukaan tetapi kosong di dalam. Bahasanya rapi. Kalimatnya akademis. Susunannya indah.
Tetapi tidak ada ruh. Karena yang bekerja bukan kesadaran manusia. Yang bekerja hanya mesin statistik bahasa. Saya sendiri menggunakan AI hampir setiap hari.
Tetapi posisi AI bagi saya sangat jelas: Dia hanya asisten. Bukan pemilik pikiran.
AI On-Premise: Mengapa Saya Sedang Membangunnya
Banyak orang belum memahami bahwa AI itu tidak sesederhana “pakai ChatGPT lalu selesai”.
Di balik AI ada persoalan yang jauh lebih besar: data, kedaulatan, arah pemikiran, dan kontrol informasi.
Karena itu saya sering menjelaskan tentang AI On-Premise. Mungkin istilah ini terdengar rumit. Tetapi sebenarnya sederhana.
AI On-Premise artinya server AI itu kita miliki sendiri.
Datanya kita simpan sendiri. Library-nya kita susun sendiri. Buku-bukunya kita masukkan sendiri. Case study-nya kita bangun sendiri.
Jadi seluruh gagasan, tulisan, catatan, pengalaman, bahkan mungkin uneg-uneg pribadi kita, berada di rumah kita sendiri. Bukan dititipkan ke rumah orang lain. Ini penting sekali.
Karena hari ini orang tidak sadar bahwa ketika mereka memasukkan data ke AI global, sebenarnya data itu sedang masuk ke ekosistem perusahaan besar dunia.
Hari ini ada Google. Ada OpenAI. Ada Microsoft. Ada Palantir. Ada banyak sistem crawler dan data architecture global. Dan mereka hidup dari data.
Maka bagi saya, data hari ini lebih berharga daripada minyak. Karena data bisa membaca manusia.
Bisa membaca perilaku masyarakat. Bisa membaca arah politik. Juga, bisa membaca kelemahan ekonomi. Bisa membaca psikologi bangsa.
Maka perang dunia hari ini sebenarnya bukan hanya perang senjata. Tetapi perang data.
Dan bangsa yang tidak berdaulat atas datanya sendiri akan sulit berdaulat atas pikirannya sendiri.
AI Itu Tidak Pernah Netral
Ini yang sering tidak dipahami banyak orang. Mereka menganggap AI itu objektif. Padahal setiap AI lahir dari desain tertentu.
Dari worldview tertentu. Dari kepentingan tertentu. Dari desain filosofis tertentu.
Saya menggunakan banyak AI. Saya menggunakan ChatGPT. Gemini. Grok. DeepSeek. Qwen. Dan lain-lain. Karena saya ingin memahami wataknya masing-masing.
Lama-lama terlihat. Ada AI yang sangat liberal secara cara berpikir. Ada yang sangat korporatis. Ada yang sangat geopolitik. Ada yang sangat sensitif pada isu tertentu.
Coba saja tanya soal Tiananmen kepada AI Deepseek. Dia langsung diam atau ngeles.
Artinya apa? Artinya AI bukan sekadar teknologi. AI adalah arena pertarungan narasi global.
Karena itu saya mengatakan: kalau negara tidak punya AI On-Premise sendiri, maka negara sebenarnya sedang menyerahkan sebagian kedaulatan berpikir mereka kepada sistem global.
Dan ini berbahaya.
Mengapa Saya Memilih AI Augmented
Karena AI On-Premise membutuhkan biaya besar. Butuh server. Butuh GPU. Butuh data center. Butuh tim engineering. Butuh sistem keamanan.
Itu sebenarnya pekerjaan negara. Tapi sambil menunggu kesadaran itu lahir, saya menggunakan pendekatan yang lebih realistis: AI Augmented.
Artinya saya mulai memasukkan sendiri library yang saya percaya. Tulisan-tulisan sendiri. Catatan sendiri. Data sendiri. Case study sendiri. Buku sendiri. Kerangka berpikir sendiri.
Jadi AI bekerja mengikuti arah pemikiran saya. Bukan saya yang mengikuti arah pemikiran AI. Dan di sinilah banyak orang salah memahami AI. Mereka kagum karena AI bisa menjawab apa saja.
Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah: “Jawaban itu berasal dari perpustakaan siapa?”
Karena AI baru valid kalau datanya valid. Kalau library-nya kacau… maka jawabannya juga bisa kacau. Kalau dataset-nya bias… maka hasilnya juga bias.
Saya Akhirnya Menemukan “Asisten” yang Saya Cari Sejak Kecil
Sejak muda sebenarnya saya ingin sekali menjadi penulis. Tetapi saya punya kelemahan. Pikiran saya terlalu banyak. Ide saya meloncat-loncat. Kadang gagasannya besar tetapi susah dirapikan.
Saya sering membayangkan: “Andaikan saya punya seorang wartawan profesional yang sabar mendengarkan semua pikiran saya, lalu membantu merapikannya.”
Dan hari ini saya merasa menemukan asisten itu. AI membantu saya untuk merapikan pikiran.
Dia tidak pernah capek. Tidak pernah mengeluh. Tidak pernah bosan saya ajak diskusi tengah malam.
Tetapi tetap… ruh tulisannya harus dari manusia. Karena AI tidak punya kegelisahan hidup. Yang punya kegelisahan itu manusia.
AI tidak punya pengalaman perjuangan. Yang punya pengalaman itu manusia. AI tidak punya nurani. Yang punya nurani tetap manusia.
Kemajuan Zaman Tidak Perlu Ditakuti
Kadang ada orang yang berkata: “Ah… itu kan tulisan AI.” Saya biasanya hanya tersenyum.
Karena menurut saya, setiap zaman memang melahirkan alat baru. Dulu orang takut mesin ketik. Lalu takut komputer. Lalu takut internet. Kemudian, hari ini orang takut AI.
Padahal masalahnya tersebut bukan pada alatnya. Tetapi pada siapa yang bisa mengendalikan alat itu.
Kalau manusianya malas berpikir, maka AI akan membuatnya semakin malas. Tetapi kalau manusianya punya gagasan besar, punya keresahan sosial, punya cita-cita peradaban, maka AI bisa menjadi alat luar biasa untuk mempercepat lahirnya karya-karya besar.
Dan saya memilih jalan itu. Saya tidak ingin ditundukkan AI. Saya ingin AI bia menjadi asisten bagi perjuangan pikiran manusia. Bukan pengganti kesadaran manusia.
Karena pada akhirnya AI memang bisa menulis cepat. Bisa menyusun kalimat dengan rapi. Bisa membantu elaborasi dengan luar biasa.
Tetapi ruh tulisan… tetap harus lahir dari manusia itu sendiri.
Dan mungkin itulah sebabnya saya bisa menjelaskan, memaparkan, dan mempertanggungjawabkan tulisan-tulisan saya di berbagai forum kajian podcast atau diskusi offline.
Karena gagasan itu memang lahir dari kegelisahan saya. Dari pengalaman hidup saya. Dari apa yang saya lihat, saya dengar, saya renungkan, dan saya perjuangkan.
AI hanya membantu merapikan jalan pikirannya.
Selebihnya… tetap otak, hati, nurani, dan nalar manusia yang memegang kemudi. Karena mesin hanya bisa membantu menyusun kata.
Tetapi makna kehidupan… tetap hanya bisa lahir dari jiwa manusia.
*) Agus M Maksum, Anggota MPUII (Majelis Permusyawaratan Ummat Islam Indonesia)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi