Sebagai wartawan bidang politik dan militer penulis juga menjadi saksi bagaimana keberanian, ketegasan, dan kepemimpinan Ryamizard ketika membentuk Yonif Raider serta Ton Taipur Kostrad.
Oleh: Dr. Selamat Ginting
KEMPALAN: Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya di bidang pertahanan keamanan negara.
Jenderal TNI Purn. Ryamizard Ryacudu wafat pada usia 76 tahun dan dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMPNU) Kalibata, Jakarta, pada 1 Juni 2026.
Sebelum diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhir, jenazah almarhum disemayamkan di Kementerian Pertahanan sebagai bentuk penghormatan negara atas pengabdiannya yang panjang kepada bangsa dan Tentara Nasional Indonesia.
Berpengaruh pada Era Transisi
Kepergian Ryamizard bukan hanya sekadar wafatnya seorang mantan Menteri Pertahanan atau mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Ia juga pernah menjadi Panglima Kostrad, Panglima Kodam Jaya, Panglima Kodam Brawijaya.
Setelah sebelumnya meniti karier pada golongan perwira tinggi TNI sebagai Kepala Staf Kostrad, Panglima Divisi Infanteri 2 Kostrad, dan Kepala Staf Kodam Sriwijaya. Indonesia kehilangan salah satu figur militer paling berpengaruh pada masa transisi dari era konflik internal menuju era reformasi keamanan nasional.
Lahir dari keluarga militer, Ryamizard merupakan putra almarhum Mayjen TNI Purn. Musannif Ryacudu dan menantu almarhum Jenderal TNI Purn. Try Sutrisno. Ryamizard menikahi putri sulung Try Sutrisno, Nora Tristyana.
Namun, kariernya tidak dibangun semata karena garis keluarga. Ia membangun reputasi melalui jalur tempur, komando lapangan, dan kepemimpinan yang keras terhadap ancaman yang dianggapnya mengganggu keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Raider dan Ton Taipur
Dalam sejarah TNI Angkatan Darat modern, nama Ryamizard akan selalu dikaitkan dengan lahirnya Batalyon Infanteri Raider di berbagai Komando Daerah Militer dan satuan Kostrad.
Konsep Raider bukan sekadar perubahan nama satuan, melainkan transformasi kemampuan tempur infanteri menjadi lebih cepat, lebih agresif, dan lebih efektif dalam menghadapi perang gerilya.
Pada awal 2000-an, ketika konflik bersenjata dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) masih berlangsung, TNI menghadapi tantangan operasi yang tidak mudah. Medan pegunungan, hutan lebat, dan taktik hit-and-run yang dilakukan kelompok separatis menuntut kemampuan khusus yang sangat berbeda dari pola operasi konvensional.
Di sinilah Ryamizard melihat kebutuhan membangun pasukan yang mampu bergerak cepat, memiliki daya tahan tinggi, dan mampu melakukan pengejaran dalam operasi anti-gerilya.
Dari pemikiran tersebut lahirlah penguatan satuan Raider dan pembentukan Peleton Intai Tempur (Tontaipur) Kostrad, yang kemudian menjadi salah satu elemen penting dalam operasi tempur TNI AD.
Ancaman Eksistensi Negara
Bagi Ryamizard, separatisme bukan sekadar perbedaan pandangan politik. Ia memandangnya sebagai ancaman langsung terhadap eksistensi negara. Karena itu, pendekatan yang ia yakini adalah penegakan kedaulatan melalui kekuatan negara, termasuk instrumen militer.
Pandangan tersebut membuatnya memiliki posisi yang berbeda dengan sebagian kalangan sipil dan politik pada masa itu.
Ketika pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memilih jalur perundingan yang berujung pada Perjanjian Helsinki tahun 2005, Ryamizard termasuk tokoh yang sejak awal lebih percaya pada penyelesaian melalui tekanan keamanan dan operasi militer.
Sejarah mencatat, Ryamizard pernah diusulkan menjadi calon Panglima TNI oleh Presiden Megawati Soekarnoputri di ujung masa pemerintahannya.
Tetapi usulan itu dianulir Presiden SBY dengan cara memperpanjang masa jabatan Jenderal TNI Endriartono Sutarto sebagai Panglima TNI. Ujungnya, Presiden SBY menunjuk KSAU Marsekal Djoko Suyanto (AKABRI 1973) sebagai Panglima TNI.
Perbedaan pandangan dengan pemerintah Presiden SBY menunjukkan satu hal penting: Ryamizard adalah prajurit yang konsisten pada keyakinan strategisnya. Ia tidak selalu sejalan dengan keputusan politik pemerintah, tapi tetap menghormati supremasi sipil sebagai panglima tertinggi dalam sistem demokrasi.
Sejarah kemudian mencatat bahwa perdamaian Aceh tercapai melalui kombinasi berbagai faktor, mulai dari operasi keamanan, tekanan politik, bencana tsunami 2004, hingga diplomasi internasional.
Tapi, , tidak dapat dipungkiri bahwa posisi tawar pemerintah dalam perundingan juga dibangun oleh kemampuan negara menjaga kendali keamanan di lapangan.
Dalam konteks tersebut, peran TNI dan para komandannya, termasuk Jenderal Ryamizard, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan menuju arah perdamaian.
Sebagai KSAD dan kemudian pada Oktober 2014, Ryamizard dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pertahanan.
Ia juga dikenal sebagai figur yang mempertahankan doktrin nasionalisme yang kuat. Baginya, ancaman terhadap Indonesia tidak selalu datang dari luar negeri. Ancaman bisa muncul dari disintegrasi bangsa, konflik identitas, radikalisme, maupun melemahnya semangat kebangsaan.
Oleh karena itu, ia sering menekankan pentingnya bela negara sebagai fondasi pertahanan nasional. Pandangan tersebut menuai dukungan sekaligus kritik. Sebagian menilai gagasan bela negara penting untuk memperkuat ketahanan nasional.
Sementara yang lain menganggapnya terlalu berorientasi pada pendekatan keamanan. Namun terlepas dari perdebatan itu, Ryamizard tetap konsisten memperjuangkan apa yang diyakininya sebagai kepentingan negara.
Bukan Sekadar Jenderal
Kini, ketika peti jenazahnya telah diturunkan ke liang lahat di TMPNU Kalibata dengan penghormatan militer penuh, bangsa Indonesia tidak hanya melepas seorang jenderal.
Bangsa ini melepas salah satu representasi generasi perwira yang dibentuk oleh pengalaman konflik, operasi militer, dan keyakinan kuat terhadap persatuan nasional.
Prosesi pemakaman militer dipimpin Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin setelah sebelumnya almarhum disemayamkan di Kementerian Pertahanan.
Sjafrie Sjamsoeddin, Ryamizard, dan Prabowo sama-sama lulusan AKABRI (kini disebut Akademi Militer) 1974. Mestinya Ryamizard dan Prabowo lulus 1973 bersama SBY.
“Maklum kami sangat pemberani dan nakal, akibatnya mendapatkan hukuman disiplin. Ini jangan ditiru taruna,” ujar Prabowo sambil tersenyum mengenang masa taruna itu, ketika pidato serah terima jabatan Menteri Pertahanan dari Ryamizard kepada Prabowo pada akhir Oktober 2019 lalu.
Lima tahun berikutnya pada Oktober 2024, Sjafrie menggantikan Prabowo sebagai Menteri Pertahanan. Itu artinya selama tiga periode, posisi Menhan ditempati lulusan AKABRI 1974.
Setiap zaman melahirkan tipe pemimpin militernya sendiri. Ryamizard Ryacudu adalah produk dari zaman ketika ancaman utama yang dihadapi negara adalah pemberontakan bersenjata dan separatisme.
Karena itu, karakter kepemimpinannya dibentuk oleh kebutuhan untuk bertindak tegas, cepat, dan tanpa keraguan.
Generasi TNI masa kini mungkin menghadapi tantangan yang berbeda: perang siber, kecerdasan buatan, persaingan teknologi militer, dan konflik kawasan yang semakin kompleks.
Namun satu warisan Ryamizard yang tetap relevan adalah keyakinan bahwa negara harus memiliki kemampuan mempertahankan dirinya sendiri dan tidak boleh ragu menjaga kedaulatannya.
Jenderal Ryamizard kini telah pergi. Tapi jejaknya masih tertinggal dalam doktrin, satuan, dan tradisi tempur TNI Angkatan Darat yang ikut ia bentuk.
Dalam sejarah militer Indonesia, nama Ryamizard Ryacudu akan dikenang sebagai jenderal lapangan yang percaya bahwa keutuhan negara adalah harga mati, dan bahwa tugas seorang prajurit adalah memastikan republik tetap berdiri kokoh di tengah segala ancaman.
Sebagai wartawan bidang politik dan militer penulis juga menjadi saksi bagaimana keberanian, ketegasan, dan kepemimpinan Ryamizard ketika membentuk Yonif Raider serta Ton Taipur Kostrad.
Termasuk di medan daerah operasi militer serta tsunami di Aceh. Saya bersama lulusan AKABRI 1973 dan 1974 serta para pelayat lainnya turut mengantarmu dalam apel persada di TMPNU Kalibata, Jakarta.
Mendengarkan tembakan salvo terakhir untukmu dan menabur bunga duka di pusaramu. Selamat jalan, Jenderal. Pengabdianmu telah menjadi bagian dari sejarah pertahanan Indonesia.
*) Dr. Selamat Ginting, Analis Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS)
Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi