Panggung Dramaturgi Aprilia Manganang

waktu baca 6 menit

KEMPALAN: Dunia seni panggung tradisional di Jawa Timur terkenal dengan tampilan ludruk yang menjadi ikon khas. Banyolan khas ludruk nenjadi ciri khas orang Jawa Timur yang melahirkan pembanyol-pembanyol legend seperti Markeso dan Cak Kartolo.

Ludruk menjadi sarana hiburan dan pendidikan, sering disebut sebagai tontonan dan tuntunan. Di masa perang kemerdekaan ludruk menjadi alat perjuangan rakyat untuk mengritik politik kolonialisme yang tidak berperikemanusiaan. Kritik itu disuarakan melalui kidungan yang terdengar lucu tapi membawa pesan politik yang kuat, “bekupon omahe doro, melok nipon tambah sengsoro”, artinya bekupon rumah burung dara, ikut Nipon tambah sengsara.

Salah satu ciri khas ludruk adalah tampilnya orang-orang “wandu” di atas panggung yang menari gemulai dan mengidung dengan suara perempuan. Mereka bukan perempuan betulan, mereka adalah wandu, laki-laki yang berperan sebagai wanita. Di atas panggung mereka gemulai seperti perempuan, dan di luar panggung mereka memainkan peran sosialnya yang asli, ada yang menjadi petani, guru, buruh harian, atau tukang becak.

Dunia panggung dramaturgi terus berlangsung sepanjang hidup manusia. Peran di atas panggung berbeda dan bahkan bertolak belakang dengan peran di luar panggung.

Aprilia Manganang selama 28 tahun memainkan peran ganda yang bertentangan. Ia laki-laki yang berperan sebagai perempuan karena tuntutan skenario sosial.

Banyak yang bersimpati kepada Aprilia Manganang yang akhirnya berani “coming out” mengumumkan jatidirinya yang asli sebagai laki-laki. Selama ini Aprilia berperan sebagai perempuan. Dan sekarang dia berani mengumumkan bahwa dirinya adalah laki-laki tulen.

Simpati mengalir kepada Aprilia. Akun Instagramnya kebanjiran pengikut baru. Tampilannya yang mendadak macho menjadi daya tarik tersendiri. Rambutnya cepak, dadanya bidang, dan kedua lengannya kekar. Aprilia begitu maskulin dan jejak-jejak feminitas benar-benar lenyap. Ketika memberi wawancara kepada media suaranya juga terdengar bariton seperti umumnya lelaki. Salah satu sisa keperempuannya terlihat ketika dia sering menutupkan tangan ke bibirnya ketika bicara. Selebihnya macho pol tidak kesan melambai sama sekali.

Tentu pergulatan batin yang dihadapi Aprilia sangat berat. Tapi beruntung KSAD Jenderal Andika Perkasa, bos Aprilia, berbaik hati membantu semua proses transformasi Aprilia mulai dari operasi medis sampai mengubah seluruh administrasi identitas baru Aprilia.

Sersan Aprilia Manganang menderita hipospadia, kelainan alat kelamin bawaan yang membuat organ seksual kelelakiannya lengket tersembunyi sehingga dikira perempuan. Setelah 28 tahun Aprilia bermain dramaturgi yang membuatnya terombang-ambing antara panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage). Di panggung depan Aprilia memainkan peran sesuai dengan tuntutan masyarakat menurut lakon yang diskenariokan sutradara. Di panggung belakang Aprilia menjadi dirinya sendiri.

Dramaturgi, dari bahasa Inggris dramaturgy, sama dengan “drama” yang berarti seni atau teknik panggung dalam bentuk teater. Pertama kali diperkenalkan oleh Aristoteles, filosof Yunani, yang menunjukkan bahwa kehidupan manusia adalah drama yang bisa berakhir menjadi tragedi yang mengurai airmata atau komedi yang bisa mengundang gelak tawa.

Ilmuwan sosial Erving Gofmann kemudian merumuskannya menjadi teori sosial pada 1959.
Dramaturgi adalah sandiwara kehidupan yang disajikan oleh manusia. Situasi dramatik yang seolah-olah terjadi di atas panggung sebagai ilustrasi untuk menggambarkan individu-individu dan interaksi yang dilakukan mereka dalam kehidupan sehari- hari. Dramaturgi merupakan pandangan tentang kehidupan sosial sebagai serentetan pertunjukan drama dalam sebuah pentas. Persis seperti digambarkan lirik lagu “Panggung Sandiwara” Ahmad Albar, peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak, peran bercinta bikin kita mabuk kepayang.

Goffman memperkenalkan dramaturgi pertama kali dalam kajian sosial psikologis dan sosiologi melalui bukunya, “The Presentation of Self In Everyday Life” (1959). Buku tersebut menggali segala macam perilaku interaksi yang kita lakukan dalam pertunjukan kehidupan kita sehari-hari yang menampilkan diri kita sendiri dalam cara yang sama dengan cara seorang aktor menampilkan karakter orang lain dalam sebuah pertunjukan drama. Ada aktor, ada skenario, ada sutradara, ada panggung, dan ada penonton.

Sebagaimana layaknya drama, aktor dramaturgi memperhitungkan setting, kostum, penggunakan kata dialog dan tindakan non verbal lain. Aprilia Manganang memainkan peran sebagai perempuan. Ia berkostum rok, blues, dan lengkap dengan bra. Dalam berdialog Aprilia harus berbicara lembut dan kenes, dalam tingkah polah di panggung ia harus gemulai dan melambai.

Dalam dramaturgi kita dapat menghayati peran menampilkan penampilan, kebiasaan sehingga dapat memberikan feedback sesuai yang dengan skenario. Ada manipulasi peran di dalam dramaturgi karena manusia tidak sepenuhnya bisa memainkan “self” dirinya sendiri.

Akting di front stage dilakukan di depan penonton yang melihat kita dan kita sedang berada dalam bagian pertunjukan. Kita berusaha untuk memainkan peran kita sebaik-baiknya dengan melakukan pengelolaan kesan (impression management).  Yang ditampilkan di panggung depan adalah Penampilan (appearance) dan sikap (manner), pemilihan atribut yang dikenakan, pose atau bahasa tubuh yang dilakukan.

Panggung sandiwara itu bisa terjadi di dunia nyata tapi sekarang banyak terjadi di dunia maya. Setiap orang berlomba-lomba menciptakan panggung sandiwaranya sendiri, memilih skenario dan lakonnya sendiri, dan mendapuk dirinya untuk memerankan peran yang dikehendakinya sendiri.

Pemilihan latar belakang, tempat pengambilan foto, dan juga caption semuanya diatur sesuai dengan skenario yang memberikan citra diri sesuai yang dituntut penonton.

Itulah panggung sandiwara yang ditampilkan para selebgram yang memburu popularitas tiap saat. Kehidupan sehari-hari Awkarin, Young Lex, Rafi Ahmad,  Atta Halilintar, dan lainnya adalah kehidupan panggung yang serba ditata untuk  tampilkan di panggung depan, dan momen-momen di panggung belakang jarang sekali diunggah ke panggung akun medsos mereka.

Setiap orang akan melakukan impression management sesuai dengan apa yang ia ingin tampilkan di panggung depan, dan itu sering berbalik dengan kehidupan nyata di panggung belakang.

Para selebritas panggung sandiwara medsos itu mendapatkan endorsement dari para sponsor mulai dari semua hal yang menempel di badan sampai kendaraan yang mereka naiki dan makanan minuman yang mereka konsumsi. Semua mengalirkan uang yang melimpah.

Panggung depan yang dimainkan Aprilia jauh dari peran glamor seperti itu. Malah bisa jadi pahit bagi Aprilia. Ia menjadi bintang di dunia olahraga bola voli nasional. Ia dipuja-puji dan diberi penghargaan sebagai atlet terbaik yang berprestasi, tetapi ia harus memainkan peran sebagai orang lain yang bertentangan dengan hati nuraninya.

Panggung sandiwara Aprilia Manganang bukan panggung medsos para selebgram yang serba gemerlap, tapi mungkin lebih mirip panggung seni tradisional yang suram. Ludruk, sandur, dan beberapa kesenian tradisional lain menampilkan para wandu sebagai pemanis suasana. Mereka kemayu dan kenes. Tapi di belakang panggung mereka kembali menjalani realitas hidup yang keras.

Aprilia Manganang sudah keluar dari panggung ludruk yang sempit dan pengap lalu sekarang dia sudah memerankan peran baru yang lebih disukainya sebagai laki-laki maskulin. Tapi, Aprilia bukan keluar dari panggung, ia hanya pindah ke panggung sandiwara yang lain.

Sangat mungkin Aprilia tergoda untuk masuk panggung sandiwara dunia maya sebagaimana para selebgram itu. Aprilia punya bakat manggung yang bagus untuk menjadi bintang selebgram, dan godaan itu terlalu berat untuk ditolak. Aprilia tidak benar-benar keluar dari panggung sandiwara, ia hanya bergeser dari panggung ludruk yang reyot menuju panggung selebgram yang moncer. (*)

BACA LAINNYA

Wayang

News Kempalan
0

Haji Metaverse

News Kempalan
0

Margiono (1959-2022)

News Kempalan
0

Sultan Ghozali

News Kempalan
0

Arteria

News Kempalan
0

Lapor, Pak

Dhimam Abror Djuraid
0

Otak Koruptor

News Kempalan
0
0

Bom Makassar

News Kempalan
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *