Kritik ala Pantun Politik, Renyah tapi Nyelekit
KEMPALAN: Rakyat selalu punya cara untuk menyampaikan isi hati. Salah satunya dengan pantun. Gaya bahasa ini, meski kuno dan dianggap jadul, terbukti ampuh menyalurkan aspirasi.
Menyampaikan kritik kepada pemimpin dan pemerintah dengan pantun, meski nyelekit, tapi tetap saja membuat yang membaca cengar- cengir.
Orang hulu membeli pukat,
Minum obat bacakan ayat.
Kalau Pemilu sudah dekat,
Para pejabat jadi merakyat
Penjual soto pendekar silat
Kaki dilipat membaca ayat.
Beredar foto pejabat sholat
Supaya dapat simpati rakyat.
(fb: Mardigu WP)
Situasi politik yang riuh belakangan membuat pantun bernuansa politik bermunculan di mana-mana. Apalagi jagat media sosial dikukung jeratan UU ITE, membuat para netizen mencari jalan lain untuk menyalurkan aspirasi.
Pantun-pantun lucu pun berseliweran. Ada yang mengkritik calon presiden, calon kepala daerah, maupun kelakuan para wakil rakyat.
Yang paling banyak dibidik tampaknya perilaku para calon pemimpin yang mendadak merakyat, atau bergaya sederhana pada masa kampanye.
Hal ini memancing kejengkelan netizen, seperti pantun di atas.
Banyak juga yang membuat pantun untuk menyentil para pemimpin yang banyak menjual janji palsu selama kampanye. Namun (pura-pura) lupa saat sudah terpilih jadi pejabat.
Sejarah lama kaisar Parsi
Tentang prajurit di balik jeruji
Kalau sudah duduk di kursi
Pejabat lupa dengan janji
Pejabat korup paling sering jadi bulan-bulanan dalam pantun-pantun sindiran para netizen. Juga soal banyaknya partai yang bermunculan, namun dirasa tidak membuat rakyat sejahtera.
Hanya menghasilkan politisi-politisi yang berjamaah merampok uang rakyat. Termasuk kekesalan karena hukum di negara kita dirasa bisa terbeli.
Pergi mudik memakai taksi
Pulangnya naik motor
Ada partai kampanye berantas korupsi
Eh tahu-tahu kadernya koruptor
Pergi jalan-jalan di pinggir pantai Pantainya, pantai carita Banyak didirikan partai-partai Namun rakyat makin menderita
Pisang ambon susah dibeli
Dicari ke sana- ke mari
Hukum di Indonesia bisa dibeli
Yang penting uang dapat selemari
(kuswari miharja)
Warisan Tak Benda
UNESCO
Baru dua bulan lalu, pantun ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda pada sesi ke-15 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Kantor Pusat UNESCO di Paris, Prancis.
Pantun diajukan secara bersama oleh Indonesia dan Malaysia. Dan menjadi tradisi budaya Indonesia ke-11 yang diakui UNESCO. Sebelumnya, Pencak Silat diinskripsi sebagai Warisan Budaya Takbenda pada Desember 2019.
UNESCO menilai pantun memiliki arti penting bagi masyarakat melayu. Bukan hanya sebagai alat komunikasi sosial, namun juga kaya akan nilai-nilai budaya dan agama yang menjadi panduan moral.
Pantun adalah puisi lama berima yang sudah ada sejak lima abad lalu di nusantara. Dan dipakai di banyak daerah meski dengan sebutan yang berbeda-beda.
Di Jawa, pantun dikenal dengan parikan. Dalam bahasa sunda pantun disebut paparikan, sebagian menyebutnya sisindiran. Dan dalam bahasa batak, pantun dikenal dengan sebutan umpasa (baca: uppasa). Sedangkan orang minang memahami pantun sebagai patuntun, atau penuntun. Di India, pantun juga mirip dengan umpama dan seloka.
Ciri lain dari sebuah pantun adalah pantun tidak memberi nama penggubahnya. Karena penyebaran pantun dilakukan secara lisan, untuk bercanda atau berkelakar.
Pantun juga dianggap sebagai simbol kecerdasan dan kecepatan berpikir dan bermain kata. Gaya bahasa berpantun biasanya dimunculkan pada acara-acara adat untuk menyegarkan suasana. Pantun jenaka adalah yang paling popular.
Komunikasi Politik
yang Membumi
Namun belakangan, pantun banyak digunakan dalam permainan kata dalam politik. Dari netizen, pendemo, seniman, sampai tokoh politik level atas kerap menggunakan pantun. Kebanyakan digunakan sebagai cara menyampaikan sindiran. Tapi banyak pula sebagai alat promosi diri.
Seperti yang dilakukan seniman Butet Kertaradjasa. Dia membacakan pantun nyelekit, yang menyindir Presiden Jokowi. Pantunnya seperti ini,
Hujan emas di negeri orang
Panen rejeki hatinya girang
Presiden bilang kriminalisasi dilarang
Tapi bawahannya tetap membangkang
Hujan akik di negeri sendiri,
Hidup tercekik sudah menjadi ciri.
Presiden mimpi jadi bangsa mandiri,
Eh, import komoditi tetap jadi mainan menteri.
Pantun ini dibacakannya di tengah aksi demo mahasiswa di kampus Universitas Indonesia. Dan langsung disambut tepuk tangan yang ramai. Demo itu dilakukan mahasiswa untuk menolak kriminalisasi KPK.
Pada masa pemilihan presiden (pilpres) pun, perang pantun banyak terjadi di dunia maya. Rakyat netizen membuat pantun-pantun yang membuat para pembacanya terpingkal-pingkal.
Belajar akhlak budi pekerti
Dari kecil hingga mati
Daripada milih Megawati
Mending nggak nyoblos sama sekali
Kata SBY, BBM turun itu prestasi
Dijadiin iklan di televisi
Sayang, rakyat sudah pada ngerti
Tipuan lo kaga berarti
Buah duku buah semangka
Banyak dijual di semarang
Wajahnya lugu suka naik sepeda
Baru terpilih sudah sibuk berhutang
Makan roti sama keju
Keju kentangnya makan di gunung
Bersama Jokowi Indonesia maju
Maju hutangnya rakyat yg nanggung
Kalau pergi ke Pasuruan Pakai baju jangan terbalik Negri makin tidak karuan Ada capres mantan penculik
Pantun Politik
Itu Seni
Ada juga pantun ala Tifatul Sembiring, Majelis Syuro PKS yang juga menteri komunikasi dan informatika di era SBY.
Saat itu, PKS menolak kenaikan BBM. Sikap ini membawa dampak, banyak partai politik anggota koalisi berpandangan supaya tiga menteri PKS dicopot dari kabinet. Termasuk dirinya. Karena dianggap tidak mendukung keputusan pemerintah.
Pantun ini terkenal dengan sebutan pantun ombak.
Siapa takut dilamut ombak
Jangan berumah di tepi pantai
Siapa takut jantungnya bergolak
Jangan masuk ke dalam partai
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, juga mengundang senyum warga Desa Hegarmanah, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung, sebagai penerima bantuan. Warga desa tertawa saat membaca pantun yang tertulis di selembaran paket bansos Jabar Juara.
Upin Ipin suka ikan asin
Mari disiplin menanti vaksin.
Politik adalah seni. Seni seharusnya menghadirkan keindahan. Namun, yang seringkali nampak, bukanlah gurauan-gurauan gurih antar para tokoh politik yang menyejukkan.
Lebih banyak aksi sindir-sindiran sampai caci mencaci. Termasuk aksi sarkasme para buzzer yang agresif, yang makin mengundang kejenuhan dan kejengkelan rakyat. Tapi mau bagaimana lagi. Untuk itulah para buzzer dibayar.
Apalagi jika hukum dan aparat hukum digunakan sebagai mainan berpolitik. Suara rakyat dikebiri, kebebasan berpendapat dipasung. Hal ini bukan hanya melahirkan antipasti rakyat terhadap politik. Namun juga membawa negara menuju kehancuran sistemik.
Wajar jika mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla baru-baru ini melontarkan pertanyaan menggelitik. Bagaimana cara mengkritik pemerintah sekarang tanpa dipanggil polisi? Sindiran keras seorang tokoh bangsa.
Nah…mungkin…pantun adalah jawabannya. Kritikan yang renyah, meski nyelekit, tetapi tetap akan mengundang senyum. Yang penting pesannya sampai bukan? (*)









