Sabtu, 25 April 2026, pukul : 22:58 WIB
Surabaya
--°C

Belajar dari Siswa Sekolah Alam, Berdamai dengan Pagebluk

KEMPALAN: Bagi siswa sekolah alam, belajar tanpa penyejuk udara atau AC itu biasa. Begitu juga dengan mengenakan masker dan sarung tangan. Hampir setiap hari mereka akan mandi keringat.

Mereka bersahabat dengan sinar matahari dan hembusan angin. Mereka sering belajar di kelas luar ruang. Suasana belajar yang membuat anak jadi lebih sehat dan kreatif. Karena itulah, saat pandemi Covid 19 merebak, konsep sekolah alam dinilai lebih aman dan sehat di masa pagebluk ini.

Pada 1905, saat wabah tuberculosis (TBC) menjangkiti Amerika Serikat, dan warga AS hidup dalam horor dan ketakutan, bagaimana cara aman bagi anak-anak untuk tetap belajar adalah isu yang krusial. Tidak mungkin sekolah ditutup terus menerus. Para ahli khawatir akan terjadi lost generation.

Namun jika sekolah dibuka, resiko tinggi anak-anak akan tertular TBC pastilah membuat semua orang tua ciut nyalinya. Apalagi, penyakit yang dulu belum ada obatnya itu, adalah jenis airborne disease, menular melalui udara.

Sekolah Alam Palembang

Di Eropa, saat wabah TBC membunuh 1 dari 7 orang di sana, sekolah luar ruang menjamur.

Kenormalan baru pun kemudian disusun. Untuk menghilangkan semua kemungkinan penyebab yang bisa membuat seorang anak rentan terhadap serangan TBC selama di sekolah.

Tiap jendela di kelas-kelas yang awalnya bergaya amerika, dengan hanya setengah jendela yang terbuka, diganti dengan french style yang besar dan memungkinkan udara kotor keluar dan udara bersih masuk dua kali lipat jumlahnya. Anak-anak diajak belajar menyukai udara segar.

Setiap sekolah harus memiliki taman dan area hijau yang besar. Sekolah-sekolah juga diharuskan untuk mengadopsi kurikulum yang mereka sebut “kurikulum yang bijaksana”. Karena harus menjalankan sebanyak mungkin jam pelajaran open air class (di luar ruangan).

Open air class ini kemudian berkembang menjadi konsep pembelajaran baru yang disebut nature school atau sekolah alam. Di Skotlandia, Amerika, dan Britania Raya banyak menggunakan istilah forest school. Juga farm school. Suatu konsep pendidikan yang menitikberatkan pada pembelajaran bersama alam.

Para siswa diajak belajar semua pelajaran yang diberikan oleh sekolah konvensional, namun dengan bersentuhan langsung dengan unsur-unsur alam; hewan, tumbuhan, air, dan tanah. Bukan hanya dengan melihat dan membaca di buku teks.

Pada wabah TBC 1905, siswa di Eropa belajar di kelas luar ruang

Anak Bandel yang Cerdas

Konsep sekolah alam di Indonesia dibawa pertama kali oleh Lendo Novo pada 1998 dengan mendirikan sekolah alam di Ciganjur, Jakarta Selatan. Latar belakang pendiriannya juga unik. Lendo Novo mengaku, semasa kecil dia sering dilabel sebagai anak yang nakal di sekolahnya. Dia merasa tidak tertarik dengan pelajaran yang disampaikan di kelasnya.

Sehingga sering bosan. Tidak menyimak pelajaran. Dan akhirnya dia dilabel sebagai anak yang bandel dan under archiever alias bodoh. Dia juga sering sekali dihukum di sekolah.

Padahal, Lendo Novo sendiri merasa dia bukan anak nakal dan bodoh, kok. Tapi dia mengakui jika dia termasuk anak yang hiperaktif. Dan hal itu justru dirasakannya sebagai sebuah anugerah. Bukan kelemahan.

Setelah lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB), barulah Lendo Novo yang wafat pada akhir Agustus lalu, menemukan jawaban. Bagi anak-anak seperti dirinya, belajar di dalam ruang kelas berjam-jam itu terasa menyiksa. Aktivis lingkungan yang juga seorang social entrepreneur ini lalu mendirikan Sekolah Alam Indonesia dan kemudian School of Universe di Parung, Bogor.

Dia berharap sekolah alam bisa menjadi model pendidikan yang sesuai untuk anak-anak yang terlahir dengan kreatifitas tinggi. Dan lebih suka menyerap pelajaran dengan subyek yang nyata daripada melihat di buku teks.

Konsep sekolah alam ini ternyata mendapat sambutan luar biasa. Pada awal pendiriannya, para orang tua rebutan untuk mendaftarkan anak mereka ke sekolah alam. Untuk mendapatkan formulir pendaftarannya saja, mereka harus antre panjang. Antrean menjadi tidak lazim karena malam sebelum jadwal pembukaan pendaftaran, banyak orang tua sampai menginap di halaman sekolah demi mendapatkan formulir.

Fenomena ini mendapat liputan luas media waktu itu. Saat ini sekolah alam sudah bisa ditemui di berbagai kota di seluruh Indonesia.

Ilustrasi

Tetap Belajar Selama Pandemi

Di Palembang, Sekolah Alam Palembang (SaPa) bahkan tetap melakukan pembelajaran selama pandemi merebak. Founder SaPa Prof Dr dr Yuwono Jogoboyo M.Biomed mengungkapkan, sekolahnya telah memulai pembelajaran tatap muka sejak awal tahun ajaran Juli 2020 lalu.

Namun sebelumnya, pihak sekolah melakukan parenting workshop untuk para orang tua tentang pandemi virus covid 19, bagaimana penularan dan pencegahannya.

Prof Yuwono yang juga tim ahli Satgas Covid Sumatera Selatan ini mengungkapkan, ada beberapa penyesuaian selama pandemi merebak. Misalnya harus mengenakan masker, dan pengaturan tempat duduk antar siswa yang semula berdekatan, kini diatur berjarak 1,5 meter. Semua siswa, guru dan staf sekolah juga diukur suhu tubuhnya sebelum diperbolehkan memasuki area sekolah.

Sekolah yang terletak di kawasan Jakabaring, Palembang ini menempati areal sekitar 1,2 ha. Dan bangunan berupa ruang tertutup hanya 25 persen saja. Sisanya adalah ruang terbuka hijau, taman sekolah, sampai kolam ikan. Ruang kelas nya sendiri memang cukup luas, lega, dan berlimpah cahaya matahari. Luasnya sekitar 48 meter persegi dan hanya diisi 16 siswa. Para siswa pun melakukan pembelajaran seperti biasa.

“Setelah belajar tatap muka selama satu tahun lebih pandemi ini, kami bersyukur tidak terjadi penularan infeksi di sekolah. Pernah ada siswa kami yang terjangkit, namun setelah di-tracing, penularan infeksi terjadi saat siswa dan keluarganya liburan,” ujar Prof Yuwono.

Kelas luar ruang tampaknya menjadi solusi pembelajaran yang aman untuk anak-anak di masa pandemi belum usai. Selain itu, belajar langsung di alam akan menstimulasi rasa ingin tahu anak terutama di usia belia.

Smiley Blanton, psikiater anak Amerika Serikat mengatakan, menumbuhkan rasa keingintahuan alami anak-anak lah yang justru menjadi tujuan utama pendidikan. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.