
KEMPALAN: Untuk sampai pada capaian ideal biasanya selalu saja ada kendala, tak terkecuali capaian dalam pembangunan ekonomi. Kendala sendiri yang sering dipahami sebagai pembatas terhadap keputusan yang akan diambil, pengaruhnya sangatlah besar terhadap sebuah capaian.
Situasi dan keberadaan kendala yang demikianlah yang pada gilirannya menjadikan angka-angka capaian tidak serta merta menjadi gambaran sebuah capaian kinerja. Lebih dari setahun sejak 2020, sebagian kita terbiasa memperbandingkan indikator-indikator makro ekonomi secara yoy (year-on-year), bahasa kuantitatif untuk memperbandingkan data tahun tertentu terhadap data tahun sebelumnya. Sudah barang tentu angka-angka capaian indikator makro ekonomi 2020 tidak lebih baik dibanding tahun sebelumnya, 2019.
Pertumbuhan ekonomi Kuartal 1-2020 sebesar 2,97% yoy. Kuartal 1-2019 sebesar 5,07% yoy. Secara gampang dapat dipahami bahwa angka capaian pertumbuhan ekonomi kuartal 1-2020 tidak lebih baik dari pertumbuhan ekonomi kuartal 1-2019. Pertumbuhan ekonomi Kuartal 2-2020 mencatatkan perolehan -5,32% yoy.
Tentu saja angka ini adalah capaian terburuk sejak periode 1998 saat Indonesia terseret krisis finansial Asia. Kuartal 3-2020 kembali minus di angka -3,49% yoy. Perolehan ini yang akhirnya menempatkan Indonesia di jurang resesi karena mengalami pertumbuhan ekonomi kuartalan negatif dua kali. Kuartal terakhir di 2020 boleh dikatakan membaik dibanding kuartal sebelumnya, namun secara yoy tidak.
Dengan capaian kembali minus di angka -2,19% yoy, pertumbuhan ekonomi ini tidaklah lebih baik dibanding kuartal yang sama tahun sebelumnya, 4,97%. Capaian-capaian yang boleh dikatakan memburuk pada tiap kuartal di tahun 2020 jika dibandingkan dengan tahun 2019 ini, sejatinya tidak dapat begitu saja digunakan untuk penarikan sebuah kesimpulan bahwa kinerja pengambil keputusan di 2020 memburuk.
Situasinya berbeda, di 2020 seluruh elemen bangsa berkarya dengan banyak keterbatasan. Pandemi Covid-19 adalah faktor kendala utama yang berimplikasi pada pelambatan ekonomi dan penurunan capaian berbagai target indikator ekonomi. Mencermati fakta yang demikian sebenarnya adalah sebuah perilaku analisis yang kurang ideal jika harus memperbandingkan capaian kinerja ekonomi antara tahun 2020 dengan 2019.
Tahun 2019 sering dikatakan sebagai tahun politik tahun dengan kemeriahan pesta demokrasi lima tahunan pemilihan presiden. Tentu saja para calon, pendukung, simpatisan, sukarelawan atau apapun namanya menunjukkan karya dan prestasi terbaiknya untuk merebut hati masyarakat.
Akibatnya dapat ditebak, hasil-hasil positif pembangunan ekonomi dapat diraih. Capaian-capaian positif kinerja pelaku ekonomi tampak nyata. Sebuah situasi yang sangat mendukung untuk dapat diraihnya capaian maksimal pembangunan ekonomi. Fakta tersebut tentu saja berbeda dengan 2020 yang diliputi berbagai bentuk batasan dan kecemasan sebagai sebuah kendala tersendiri dengan adanya Pandemi Covid-19. Berangkat dari pemikiran demikian inilah yang seharusnya dengan ikhlas harus dapat diterima semua pihak bahwa kurang ideal memperbandingkan 2020 dengan 2019.
Pelan tapi pasti, 2 bulan terakhir penanganan Covid-19 mulai menunjukkan hasilnya meskipun diwarnai kehadiran virus-virus varian baru. Perpanjangan PPKM mingguan mulai menampakkan hasilnya. Penurunan level, pergeseran kearah kuning, dimulainya sekolah Pertemuan Tatap Muka, pelolanggaran aktivitas, adalah indikator-indikator lain yang menunjukkan bahwa penanganan Covid-19 berhasil.
Di samping tentu saja adalah indikator dari angka-angka penurunan kematian, penularan, terkonfirmasi, dan lain-lain. Situasi yang demikian apabila mampu dipertahankan, tidak mustahil ketika memasuki kuartal terakhir 2021 semuanya sudah kembali pulih. Tanpa penyekatan dan penutupan jalan, tanpa pembatasan mobilitas dan aktivitas.
Normal. Jika ini yang terjadi maka dapat dikatakan bahwa Kuartal 4-2021 sejatinya capaian indikator ekonominya sudah dapat dan layak untuk diperbandingkan. Kalau dianggap sebagai sebuah pertarungan zona ekonomi, tentu saja memperbandingkan capaian zona Kuartal 4-2021 tidaklah dengan Kuartal 4-2020, tapi dengan dengan Kuartal 4-2019. Setujukah ? Mengapa demikian? Mari kita pikirkan bersama. Salam.
(Bambang Budiarto–Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya, Redaktur Tamu Kempalan.com)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi