Catatan: Masayu Indriaty Susanto
KEMPALAN: Insan pers Indonesia berduka. Margiono, wartawan senior, CEO Rakyat Merdeka Grup, mantan Ketua PWI Pusat 2008-2018, menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Modular Jakarta, kemarin (1/2) di usia 62 tahun.
Meski mengawali karir sebagai generasi awal hingga menjadi Pemimpin Redaksi Jawa Pos Surabaya, namun sosok Margiono atau Pak MG, justru lebih identik dengan Rakyat Merdeka, surat kabar yang didirikannya. Yang terkenal dengan judul-judulnya yang keras dan kartun-kartunnya yang menyengat sampai istana. Juga bikin tegang dua negara.

Jika Jawa Pos mengusung koran nasional rasa suroboyoan, Rakyat Merdeka yang terbit di Jakarta tampil sangat berbeda. Headline-nya selalu dihiasi kata-kata lugas, singkat, bahkan seringkali sarkasme. Dan kartun-kartunnya terkenal nyelekit.
Banyak yang menganggap, Rakyat Merdeka sangat identik dengan seorang Pak MG, sang pendiri. Sosok yang tak ada takutnya, tak suka protokoler, humble, egaliter, dan apa adanya.

Rakyat Merdeka memang memposisikan diri sebagai koran politik. Semula berslogan “Apinya Demokrasi Indonesia”. Tapi kemudian berubah menjadi “Political News Leader”.
Namun yang jelas, lewat Rakyat Merdeka, Margiono membuktikan jika rakyat berhak merdeka dalam menerima informasi yang jujur dan apa adanya. Dia juga menunjukkan jika pers sudah seharusnya berpihak pada kepentingan rakyat. Bukan malah bermesraan dengan penguasa.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi