Dan korannya Pak MG ini, beraninya itu yang luar biasa. Pada 2013, surat kabar Australia Herald Sun memuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono sebagai karikatur. Pak SBY digambarkan berbatik biru dan berpeci sedang menelepon PM Australia Tony Abbot dengan wajah tegang. Sedangkan Bu Ani versi kartun digambarkan bersanggul, berkebaya, dan bermake up lengkap.
Wajah Bu Ani tampak sebal. Sedangkan PM Tony Abbott sendiri digambarkan santai saja dengan kostum kaus kuning, bahkan cengengesan.
Kartun ini diterbitkan media itu berkaitan dengan terbongkarnya penyadapan yang dilakukan intelijen Australia terhadap Presiden SBY dan 9 lingkaran terdekatnya. Termasuk first lady Ibu Ani Yudhoyono.
Dokumen rahasia berbentuk slide presentasi tersebut memang dibocorkan oleh pembocor intelijen Amerika Serikat, Edward Snowden dan membuat hubungan kedua negara tegang.
Penyadapan terhadap kepala negara kita tentulah suatu penghinaan besar. Apalagi Presiden SBY digambarkan seperti itu. Penyadapan dan kartun itu menjadi topik pemberitaan yang ramai di tanah air.
Empat hari kemudian, koran Rakyat Merdeka membuat kejutan. Mereka membalas kartun Pak SBY dengan sebuah kartun yang menggambarkan Tony Abbot, perdana menteri Australia saat itu. Tidak tanggung-tanggung, Abbot digambarkan hanya bercelana pendek dengan celana dalam bendera Australia. Sedang mengintip dari balik pintu bertuliskan “Indonesia” sembari berbuat cabul. Upssss…. !
Kartun bertuliskan “Ssst! Oh my God Indo … So Sexy” itu menjadi ilustrasi berita berjudul “Alat Sadap Dipasang di Handel Pintu, Atap Ruang Rapat dan Sekering Listrik” yang mengutip keterangan Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg).
Kartun itu tentulah membuat gempar negara di Benua Kanguru itu. Berita tentang kartun cabul bergambar Tony Abbot itu dirilis sejumlah media di Australia, seperti Sydney Morning Herald dan The Age dengan judul “Abbott cartoonist recalled to ridicule PM”.
Media di sana menilai perdana menteri mereka sudah dicitrakan pada titik terendah dengan perbuatan cabul.
Pembuat kartun itu adalah kartunis Fonda Lapod. Saat itu, Fonda bukan lagi kartunis di Rakyat Merdeka. Dia sudah pensiun sejak 2006.
Namun rupanya redaksi Rakyat Merdeka kembali mendatangkan dia untuk membuat kartun itu.
The Adventure of Two Dingos
Pada 2006, Fonda dan Rakyat Merdeka juga pernah perang kartun yang juga bikin heboh. Juga dengan media Australia.
Saat itu Rakyat Merdeka memuat kartun menggambarkan Howard, yang kala itu perdana menteri Australia, dan Alexander Downer yang menjabat Menteri Luar Negeri, sebagai dua dingo yang sedang “saling menunggangi”.
Dingo adalah jenis anjing liar yang hidup di negara itu. Kartun berjudul “The Adventure of Two Dingos” itu dilatari protes pemberian visa oleh Australia untuk 43 aktivis Papua Merdeka.
Suatu tindakan yang dirasakan melukai kedaulatan Indonesia. Dan sebagai negara tetangga, Australia dinilai tidak sopan dengan melindungi dan membuka pintu untuk para aktivis Papua yang mengancam kesatuan negara kita.
Surat kabar Australia The Weekend Australian, beberapa hari kemudian menerbitkan kartun balasan. Giliran Presiden SBY digambarkan sebagai seekor anjing yang secara seksual mendominasi seorang pria berkulit hitam dan berambut keriting.
SBY yang mengenakan peci hitam dan tersenyum dengan ekor bergoyang. Kemudian ada pria yang merupakan simbol warga Papua yang hidungnya dihiasi tulang.
Kartun itu bertuliskan “Don’t take this the wrong way…”
Sementara caption kartun itu tertulis “No Offence Intended”.
Kartun tersebut dibuat oleh kartunis terkenal di Australia, Bill Leak.
Perang kartun antar media ini membuat hubungan Indonesia dan Australia kian memanas. Meski kemudian, dalam pernyataan resminya, kedua negara menyatakan menyesalkan kartun-kartun tersebut dan menyebutnya dengan produk jurnalistik berselera rendah.
Mulut Mega Bau Solar

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi