Kamis, 18 Juni 2026, pukul : 10:46 WIB
Surabaya
--°C

Margiono, Rakyat Merdeka, dan Perang Kartun dengan Australia

Sengatan Rakyat Merdeka juga menuju istana negara. Pada 2002, giliran Rakyat Merdeka membuat kehebohan berulang saat koran itu menurunkan tajuk berjudul “Mulut Mega Bau Solar”.

Judul itu diterbitkan sebagai protes atas kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM di saat rakyat sedang susah. Saat itu, Megawati Soekarnoputri menjabat sebagai Presiden RI.

Dan keberanian itu berujung dengan Redaktur Eksekutif Harian Rakyat Merdeka, Supratman divonis enam bulan penjara dengan masa percobaan 12 bulan dalam kasus pencemaran nama baik Presiden Megawati Sukarnoputri. Tapi Supratman tidak ditahan.

Pada masa orde baru menjelang reformasi, Pak MG melalui salah satu malah D&R miliknya juga bikin gempar. Pasalnya, majalah itu memuat cover story tentang Pak Harto,

Bahkan pada cover depan, Pak Harto diilustrasikan dengan mengenakan aksesori “king” dalam kartu remi.

Cover itu sontak membuat heboh. Pemunculan sampul muka itu adalah suatu keberanian luar biasa. Pasalnya, saat itu Pak Harto masih berkuasa.

Tentu saja banyak pihak yang langsung kebakaran jenggot. Dan aksi nekat itu harus ditebus dengan ditutupnya majalah D&R. Tamatlah riwayat majalah yang anggota redaksinya kebanyakan eks Majalah Tempo itu.

BACA JUGA  Mampukah Muktamar NU Steril dari Intervensi Kekuasaan?

Keberanian Pak MG dan Rakyat Merdeka menyampaikan suara rakyat memang sempat membuat mereka repot karena sering sekali dipolisikan. Banyak pihak yang tentunya tidak suka diusik kepentingannya.

Sampai-sampai Rakyat Merdeka dikenal sebagai satu-satunya media di dunia yang pernah memiliki 11 pemimpin redaksi. Ini karena media itu harus mengirim wartawan-wartawan hebat mereka bolak balik ke pengadilan meladeni berbagai tuntutan. Namun Pak MG sepertinya cuek saja.

Obrolan Terakhir

Margiono.

Rekam jejak Pak MG dalam jurnalistik di tanah air memang sangat panjang. Dia sudah jadi wartawan sejak zaman orde baru, tepatnya tahun 1980 an, dengan menjadi wartawan Jawa Pos di Surabaya.

Karirnya kemudian membawanya menjadi pemimpin redaksi Jawa Pos di Surabaya menggantikan Dahlan Iskan. Selanjutnya, Margiono merambah Jakarta dan mendirikan surat kabar Rakyat Merdeka.

Terakhir, Margiono adalah direktur utama Rakyat Merdeka Group yang membawahi beberapa media. Di antaranya Lampu Merah (pada 2008 berubah menjadi Lampu Hijau), Banten Pos, Non Stop, Bollywood, Haji, Satellite News, Tangsel Pos, Tangerang Pos, Job Vacancies (Loker), RM Books Publisher, dan Majalah Biografi Politik Rakyat Merdeka berikut versi online nya.

BACA JUGA  Mundur Selangkah, Maju Seribu Langkah

Obrolan terakhir saya dengan Pak MG berlangsung sekitar Januari tahun lalu. Saat itu, saya meminta Pak MG menceritakan kisahnya tentang Pak Soeparno Wonokromo, CEO Sumatera Ekspress Group Palembang yang baru saja wafat.

Pak MG dan Pak Parno memang dekat. Sama-sama merintis karir di Jawa Pos bersama Pak Dahlan Iskan. Keduanya juga dikenal sebagai dua dari The Seven Samurai, tujuh “pendekar” di jajaran Jawa Pos Grup yang sukses dan tangguh mengembangkan media di area masing-masing.

Namun dengan Pak Parno, Pak MG memang ada kedekatan khusus. Keduanya suka mendalang dan sangat suka dengan kisah-kisah perwayangan.

Namun saat itu, Pak MG mengaku dia tidak seserius Pak Parno yang belajar dalang sampai ke masternya, Ki Manteb.

”Saya sih karena dalangnya main-main saja,” ujarnya sambil tertawa.

Kini, wartawan yang tidak ada takutnya itu telah berpulang. Semoga beliau berdua kini bisa mendalang bersama lagi di Swarga Loka.

Selamat Jalan Pak Margiono..
Innalillahi wainnailaihirojiun..(*)

Editor: Freddy Mutiara

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.