Rabu, 10 Juni 2026, pukul : 17:07 WIB
Surabaya
--°C

Mengungkap Keajaiban Fungsi Otak Kanan: “Spontan” Si Dahsyat Yang Sering Diabaikan

Sepanjang bisa lakukan, maka lakukan segera. Sebab, pada saat itu Allah sedang membuka pintu “keajaiban”, yakni pertolongan, kemudahan, percepatan mencapai tujuan.

Oleh: Hamka Suyana

KEMPALAN: Ada 5 fungsi otak kanan yang berguna untuk menemukan pencarian segala macam solusi permasalahan kehidupan.

Sesuai kodratnya, bahwa fungsi otak kanan adalah untuk Eksplorasi atau mencari. Sedangkan fungsi otak kiri untuk Eksekusi atau untuk melaksanakan atau untuk menggunakan.

Sesuai kodratnya itu pula, ibarat salat berjamaah, fungsi otak kanan sebagai imam dan fungsi otak kiri sebagai makmum.

Siapa pun yang akan menggunakan fungsi otak sesuai kodratnya, yakni otak kanan untuk mencari dan otak kiri untuk menggunakan, niscaya apa pun yang diinginkan gampang menjadi kenyataan.

Tapi waspadalah. Jangan sampai terbalik saat menggunakan fungsi otak. Mencari dengan otak kiri dan menggunakan juga dengan otak kiri, dijamin deh, pasti gagal total apa pun yang diinginkan.

Ketahuilah bahwa semua kegagalan yang dialami setiap orang disebabkan keliru menggunakan otak pada saat eksplorasi mencapai tujuan.

Berikut ini penjelasan salah satu fungsi otak yang sangat dahsyat kemampuannya, tapi belum digunakan dengan baik dan benar oleh pemiliknya.

Sebelum mengupas lebih dalam fungsi otak kanan yang dahsyat, lebih dulu perlu disampaikan 5 fungsi otak tersebut yakni Emosional, Imajinatif, Spontan, Implisit, Acak yang disingkat menjadi EMASPIMA.

Mari kita bahas dahsyatnya reaksi Spontan ketika ada masukan ke pikiran.

Meskipun Spontan sudah terakui dan terbukti dahsyat, tetapi pada umumnya ketika ada masukan ke pikiran justru reaksinya menggunakan fungsi otak kiri Terencana.

Akibatnya, kesulitan seringkali terjadi, bahkan bisa timbul persoalan baru. 

Para Penemu, Menemukan Temuannya Secara Spontan

Para penemu dunia menemukan temuannya secara Spontan. Semuanya terjadi secara tiba-tiba (spontan). Tak satu pun mendapat temuan yang direncanakan.

Misalnya:

– Archimides menemukan Hukum Berat Jenis Benda (Hukum Archimides) berupa inspirasi Spontan berupa air yang tumpah dari bak mandi.

– Newton menemukan Hukum Gravitasi, dari inspirasi Spontan buah apel yang jatuh dari pohonnya.

– Sediatmo penemu Fondasi Cakar Ayam, yang mendapat inspirasi Spontan melihat ayam yang berdiri di tanah becek.

– Para Nabi ketika menerima wahyu dari Allah, tak satu pun yang direncanakan. Semua terjadi dengan Spontan.

– Dan semua penemu dunia lainnya, menemukan temuannya berkat inspirasi Spontan

Spontan Adalah Pintu Masuknya Impian ke Bawah Sadar dan Pintu Keluarnya Simpanan Impian dari Bawah Sadar Menjadi Kenyataan

Mengapa Spontan menjadi luar biasa? Karena, Spontan adalah petunjuk Tuhan, sedangkan lawannya yang berada pada otak kiri yakni Rencana adalah kelemahan kita sebagai manusia.

Agar kehidupan Anda dipenuhi dengan “keajaiban”, maka jangan abaikan bisikan (gagasan) Spontan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran.

Jangan terlalu banyak pertimbangan dan banyak perhitungan kemudian memilih waktu dan kesempatan yang dianggap baik untuk melaksanakan bisikan pikiran.

Sepanjang bisa lakukan, maka lakukan segera. Sebab, pada saat itu Allah sedang membuka pintu “keajaiban”, yakni pertolongan, kemudahan, percepatan mencapai tujuan.

Segera melaksanakan petunjuk Spontan, yang akan diterima adalah keajaiban. Tetapi kalau direspons dengan otak kiri terlalu mempertimbangkan, sehingga menunda melaksanakan, maka Allah mencabut kesempatan emas yang akan diberikan.

Selamat memanfaatkan fungsi otak kanan Spontan, niscaya kehidupan akan dipenuhi kemudahan di luar dugaan.

Salam Sasyuik. Semoga bahagia sukses selalu.

*) Hamka Suyana, Motivator Cahaya Sasyuik

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Usai Kantongi SKT, Gerakan Rakyat Jawa Timur Serahkan Berkas Legalitas Parpol ke Pimpinan Pusat

KEMPALAN: Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Gerakan Rakyat Provinsi Jawa Timur resmi menyerahkan berkas verifikasi administrasi lengkap tingkat provinsi kepada Dewan Pimpinan Pusat (DPP) di Sidoarjo, Sabtu (6/6/2026).

Serah terima berkas tersebut menandai Jawa Timur sebagai provinsi ketiga belas dalam menyerahkan dokumen legalitas partai politik ke pusat, setelah Nusa Tenggara Barat (NTB), Jambi, Kalimantan Barat (Kalbar), Sumatera Barat (Sumbar), Bangka Belitung, Kalimantan Selatan (Kalsel), Banten, Sulawesi Selatan (Sulsel), Lampung, DKI Jakarta, Riau, dan Yogyakarta.

Ketua DPW PGR Jawa Timur, Tatik Jamiati menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh jajaran pengurus tingkat wilayah hingga daerah atas dedikasi mereka dalam menyelesaikan syarat permohonan Surat Keterangan Terdaftar (SKT) di Kantor Wilayah Kementerian Hukum (Kanwil Kemenkum).

“Kami menyampaikan terima kasih atas perjuangan seluruh DPW dan DPD serta DPC Partai Gerakan Rakyat se-Jawa Timur, sehingga SKT dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum Jawa Timur ini akhirnya terbit,” ujar Tatik.

Sementara itu, Ketua Umum PGR, Sahrin yang hadir langsung bersama jajaran DPP, menyatakan Jawa Timur menjadi provinsi dengan kesiapan administrasi secara masif dengan mencakup 29 DPD dan 254 DPC.

“Alhamdulillah, walaupun 29 DPD termasuk DPD yang paling terbanyak di satu provinsi dan 254 kecamatan, tapi ternyata Jawa Timur dapat menyelesaikannya dengan sempurna sehingga mendapatkan surat keterangan terdaftar dari pemerintah provinsi,” ucap Sahrin.

Sahrin menargetkan sisa belasan provinsi lainnya akan rampung pada bulan Juni 2026 sebelum mendaftarkan Gerakan Rakyat secara resmi ke Kemenkum RI demi mendapatkan status badan hukum partai politik.

“Maka diperkirakan bulan Juli atau paling lama Agustus 2026 Partai Gerakan Rakyat telah berbadan hukum resmi sebagai partai politik,” jelasnya.

Seperti diketahui, DPW Gerakan Rakyat Jawa Timur telah menerima SKT partai politik tingkat provinsi dari Kanwil Kemenkum di Surabaya pada Selasa, 2 Juni 2026.

Dari 38 DPW, tercatat sudah 20 wilayah mengantongi SKT, meliputi Jawa Barat, NTB, NTT, Jambi, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Bangka Belitung, Sulawesi Selatan, Banten, Papua Barat Daya, DKI Jakarta, Lampung, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Riau, Yogyakarta, Aceh, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

Pemimpin Berwatak Maling (Bag-1)

Persoalan lain yang sering dikritik adalah lemahnya proses rekrutmen politik dalam sistem demokrasi modern. Partai politik idealnya berfungsi sebagai lembaga kaderisasi yang menghasilkan pemimpin berkualitas.

Oleh: Dr. H. Ahmad Sastra, MM

KEMPALAN: Korupsi merupakan salah satu persoalan paling serius yang dihadapi Indonesia sejak era reformasi. Hampir setiap tahun publik disuguhi berita-berita penangkapan pejabat negara oleh aparat penegak hukum.

Mulai dari menteri, gubernur, bupati, walikota, anggota legislatif, hakim, hingga pejabat berbagai lembaga negara, silih berganti tersandung kasus korupsi.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa kasus korupsi terus berulang meskipun sistem demokrasi diklaim sebagai sistem politik yang paling mampu melahirkan pemerintahan yang bersih dan akuntabel?

Kasus demi kasus menunjukkan bahwa persoalan korupsi tidak lagi hanya sekadar menyangkut moral individu, melainkan telah menjadi suatu gejala yang bersifat struktural dan sistemik.

Banyak pejabat yang sebelumnya tampil sebagai sosok santun, religius, dan dekat dengan rakyat, ternyata terjerat praktik penyalahgunaan kekuasaan setelah menduduki jabatan publik.

Fenomena tersebut menimbulkan kritik bahwa sistem politik demokrasi modern yang berbiaya tinggi justru menciptakan lingkungan yang subur bagi lahirnya pemimpin yang berorientasi pada kekuasaan dan keuntungan ekonomi, bukan pengabdian kepada rakyat.

Kasus terbaru yang menyeret pejabat dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), meski proses hukumnya harus tetap dihormati sesuai asas praduga tak bersalah, semakin memperkuat ada kekhawatiran publik mengenai masih kuatnya budaya korupsi dalam birokrasi dan politik Indonesia.

Peristiwa tersebut menambah panjang daftar pejabat yang tersandung kasus penyalahgunaan kewenangan dalam pengelolaan anggaran publik.

Data dari Komisi Pemberantasan Korupsi menunjukkan bahwa sejak lembaga tersebut berdiri pada tahun 2002, ratusan kepala daerah telah diproses dalam perkara korupsi. Fenomena ini menunjukkan bahwa korupsi tidak hanya terjadi pada tingkat pusat, tetapi juga telah mengakar pada pemerintahan daerah.

Ironisnya, sebagian besar pejabat tersebut memperoleh kekuasaan melalui proses pemilu yang dianggap demokratis. Mereka dipilih rakyat melalui mekanisme yang secara teoritis dirancang untuk menghasilkan pemimpin terbaik.

Namun kenyataannya, tidak sedikit yang kemudian menyalahgunakan amanah publik untuk kepentingan pribadi, keluarga, kelompok politik, atau jaringan bisnis tertentu.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah persoalannya terletak pada individu semata, atau terdapat masalah yang lebih dalam pada sistem politik yang melahirkan para pemimpin tersebut?

Dalam teori demokrasi modern, pemilu dipandang sebagai mekanisme untuk memilih pemimpin yang mendapat legitimasi rakyat. Namun dalam praktiknya, proses pemilu sering kali membutuhkan biaya politik yang sangat besar.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa biaya kampanye politik terus meningkat dari waktu ke waktu.

Bahwa kandidat harus membiayai pemasangan alat peraga, kegiatan kampanye, konsolidasi tim, survei politik, operasional saksi, promosi media, hingga berbagai aktivitas politik lainnya. Akibatnya, dalam kontestasi politik seringkali lebih mudah dimenangkan oleh mereka yang memiliki akses terhadap modal besar.

Kondisi tersebut melahirkan apa yang oleh para ilmuwan politik disebut sebagai politik oligarkis, yaitu situasi ketika kekuasaan politik semakin dipengaruhi oleh kelompok pemilik modal.

Pemikir politik Indonesia Richard Robison dan Vedi R Hadiz dalam berbagai kajiannya menjelaskan bahwa oligarki dapat berkembang ketika kekayaan ekonomi mampu memengaruhi proses politik dan pengambilan keputusan negara.

Dalam situasi demikian, kualitas moral, integritas, dan kapasitas intelektual sering kali kalah oleh kekuatan finansial.

Bukan rahasia lagi bahwa banyak kandidat harus mengeluarkan biaya sangat besar untuk memperoleh jabatan politik. Ketika jabatan berhasil diraih, muncul godaan untuk mengembalikan modal politik yang telah dikeluarkan selama proses pemilu.

Jabatan sebagai Investasi Politik

Salah satu kritik terhadap demokrasi berbiaya tinggi adalah kecenderungannya mengubah jabatan publik menjadi instrumen investasi politik. Jabatan tidak lagi dipandang sebagai amanah untuk melayani rakyat, melainkan sebagai aset yang dapat menghasilkan keuntungan ekonomi.

Dalam perspektif ekonomi politik, bahwa kondisi ini dikenal sebagai rent-seeking behavior, yaitu upaya memperoleh keuntungan melalui akses terhadap kekuasaan politik, bukan melalui produktivitas ekonomi yang sehat.

Ketika jabatan dipersepsikan sebagai investasi, maka muncul dorongan untuk memanfaatkan kewenangan demi memperoleh keuntungan finansial. Bentuknya bisa berupa suap, gratifikasi, mark-up anggaran, proyek fiktif, pengaturan tender, jual beli jabatan, hingga berbagai bentuk korupsi lainnya.

Akibatnya, rakyat yang seharusnya menjadi penerima manfaat pembangunan justru menjadi korban dari praktik penyalahgunaan kekuasaan tersebut.

Persoalan lain yang sering dikritik adalah lemahnya proses rekrutmen politik dalam sistem demokrasi modern. Partai politik idealnya berfungsi sebagai lembaga kaderisasi yang menghasilkan pemimpin berkualitas.

Namun dalam praktiknya, banyak partai lebih menekankan aspek elektabilitas dibandingkan integritas. (Bersambung Bag-2)

*) Dr. Ahmad Sastra, MM, Akademisi di Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor dan Pengasuh di Pesantren Darul Muttaqien

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Neo Pop

Hanya bahasa Prancis yang Daniel tidak mau belajar. Ia tidak suka dengan bahasa yang mengandung kesombongan. Karena itu ia tidak pernah jatuh cinta dengan wanita Prancis.

Oleh: Dahlan Iskan

KEMPALAN: “Pelukisnya ini anak umur berapa?” tanya seorang pengusaha yang melihat tiba-tiba ada banyak lukisan di kantor Harian Disway.

“Lukisan ini mengingatkan saya ke pelukis wanita damar kurung dari pedalaman Gresik,” ujar Dhimam Abror, mantan pemred Jawa Pos di masa lalu.

Memang ada pameran lukisan di Disway. Temanya pameran ndugHalndugal adalah bahasa Jawa untuk anak yang semau-maunya yang kalau melakukan sesuatu tidak mempertimbangkan apakah orang lain bisa menerima atau tidak. Predikat ndugal sering juga dikenakan untuk anak yang kurang ajar, tidak tahu sopan santun.

Nama pelukis ndugHal itu Anda sudah tahu: Daniel Kho, bukan anak-anak lagi. Anaknya sudah tujuh orang dari lima perkawinannya dengan wanita dari lima negara.

Kantor Disway sendiri dulunya memang galeri lukisan Emmitan. Ada beberapa wartawan Disway masih ingat sering ke galeri itu untuk meliput pameran lukisan.

“Pameran ndugHal” itu sendiri memang diadakan oleh Hendro Tan, pemilik Emmitan Contemporary Art Gallery untuk mengenang mendiang istrinya yang meninggal karena kanker lebih 10 tahun lalu.

Saya pun senang ketika Hendro, pengusaha yang juga penggemar lukisan itu, ingin mengadakan pameran di Disway.

Saya ingat: gelar ndugHal untuk pelukis Daniel Kho diberikan kali pertama oleh Harian Kompas sekitar 10 tahun lalu. Rasanya predikat ndugHal itu tidak berlebihan.

Daniel sendiri tidak keberatan dengan predikat itu. Di dunia wayang ada dua tokoh hebat yang mendapat gelar ndugal: Ontoseno dan Wisanggeni. Dua tokoh itu sakti semua. Pembela kebenaran semua. Pemberani melawan siapa pun yang bersalah –termasuk ke bapak mereka.

Istri terakhir Daniel adalah orang Jawa dari Indonesia. Sang istri adalah adik dalang kondang dari Jogjakarta: almarhum Seno Nugroho. Seno, Anda sudah tahu, telah berhasil mengubah tokoh wayang Bagong dari dulunya hanya tokoh lucu menjadi lucu nan ndugal.

Istri terakhirnya itu kini tinggal di Jerman – menjadi guru tari di sana. Status Daniel pun menjadi duda setelah dalam 18 tahun perkawinan itu memiliki dua anak – dua-duanya ikut ibu mereka di Jerman.

Aliran lukisan Daniel disebut Neo Pop Art. Tidak hanya dua dimensi, ada juga yang empat dimensi.

Di pembukaan Jumat sore lalu Daniel mengenakan kacamata seperti Batman. Banyak pelukis Surabaya hadir. Konsul Tiongkok di Surabaya Ye Su, ikut memberi sambutan. Management Advisor Wisma Jerman Mike Neuber juga hadir.

Setelah puas melihat lukisan ini baiknya Anda minta petugas untuk mematikan lampu. Lalu lihatlah lukisan Daniel di kegelapan. Lukisan itu lebih indah. Ada juga pantulan warna-warninya. Cat yang dipakai melukis memang khusus, yaitu: jenis fluorescent molotow.

Warna yang bisa terlihat dalam kegelapan itu datang dari bebatuan tambang yang disebut fluorescent yang dicampurkan ke dalam cat. Bebatuan tambang itu bisa menyimpan cahaya yang bisa muncul dalam kegelapan. Tentunya tetap harus ada bantuan sedikit cahaya dari jauh, pun bila cahayanya hanya sedikit – apalagi kalau cahaya itu dari UV.

Orang awam menyebut warna seperti itu warna “neon” meski sebutan tersebut sebenarnya kurang pas. Bagi yang hobi mancing warna itu juga sudah familiar: ditaruh di dekat umpan. Polisi juga biasa pakai rompi dengan warna fluorescent.

Bahwa lukisan Daniel sempat disangka karya anak-anak itu karena pop art-nya itu. Warna-warninya sangat mencolok. Pop art lahir dari pengakuan atas karya-karya komersial dalam bentuk iklan, anime, komik, dan sebangsanya.

Karya itu kemudian menjadi inspirasi bagi seni lukis dan pelukis mengangkatnya menjadi karya seni. Aliran pop art kali pertama muncul di Jepang dan negara Asia timur lainnya.

Kian lama unsur seninya kian dominan sehingga rasa komersialnya lenyap: jadilah neo pop art seperti yang dilakukan Daniel. Datanglah sendiri ke Disway di Jalan Walikota Mustajab 76, Surabaya.

Meski mulai dibuka kemarin, hari ini masih buka –sampai dua minggu mendatang (19 Juni 2026).

Saya pun ingin tahu lebih banyak siapa si nDugHal. Saya ajak Daniel makan malam. Perjalanan ke-ndugal-annya pun ia ceritakan semua. Termasuk dari negara mana saja mantan-mantan istrinya.

Kok orang-orang bule itu bisa jatuh cinta dengan pelukis dari Indonesia ya?” tanya saya bernada iri.

“Saya kan ganteng….,” jawabnya.

Itu tidak benar. Rasanya saya lebih ganteng. Kemarin itu saya tidak melihat kegantengannya sama sekali. Rambutnya awut-awutan meski sudah dikuncir di belakang kepala. Badannya ceking. Kalau berjalan kurang tegak. Lama saya memandang wajahnya yang seperti kurang tidur.

Rupanya ia merasa bahwa saya meragukan kegantengannya. Maka ia keluarkan kaca mata seninya. Ia pakai. Wow! Benar. Dengan kacamata itu ia ganteng sekali. Saya pun tidak merasa iri lagi. Ia memang lebih ganteng dari saya. Dengan pakai  kacamata itu saya pun ingat penyanyi shuffle LMFAO.

Ternyata Daniel mulai ndugal sejak remaja. Mungkin karena ayahnya meninggal saat ia masih SD. Sang ayah seorang pedagang. Di kota Klaten, Jateng.

Marganya Guo – yang kalau di Fujian disebut Khoe dan di Indonesia jadi Kho. Daniel 8 bersaudara, sebelum bungsu. Kakak sulungnya kuliah di ITB, jurusan farmasi. Ibunda Daniel berarti wanita luar biasa. Harus mengurus delapan anak. Sukses semua.

Si anak sulung, kelak, setamat ITB jadi orang sangat sukses. Anda tahu namanya. Anda juga sering menggunakan jasanya: Andi Wijaya, pendiri Prodia – lab terbesar di Indonesia yang sudah melantai di pasar modal.

Adik bungsunya juga jadi pelukis terkenal: Antonius Kho. “Awalnya saya justru kenal adiknya itu,” ujar Wahyudin, kurator pameran ndugHal itu. Tentu Hendro Tan juga kenal Daniel. Hendro sering ke Bali. Ke Ubud. Ke rumah Daniel yang sekaligus sanggar lukisnya. Daniel sekarang memang menetap di Bali.

Setelah suami meninggal, sang ibu pindah ke Bandung. Semua anaknya dibawa pindah ke Bandung. Daniel menamatkan SMA-nya di SMA Kristen BPPK Bandung. Suasana politik tahun 1970-an belum stabil. Sebagai Tionghoa ia merasa kurang nyaman.

“Tapi kakak Anda kan justru bisa kuliah di ITB?”

“Iya. Saya saja yang merasa tidak nyaman,” katanya.

Maka di usia remajanya itu, 18 tahun, Daniel berkelana. Ingin ke Australia dengan cara terjangkau. Ia melakukan perjalanan darat ke arah timur: Jateng, Jatim, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Kupang, Makassar, Ambon, Sorong, Jayapura, Papua New Guinea, Darwin, Sydney.

Sambil berkelana ia juga bekerja apa saja. Termasuk cuci piring di restoran. Begitu punya uang secukupnya ia pindah lagi. Yang penting cukup untuk transportasi ke tujuan berikutnya. Tidak ada target waktu.

Tiba di Australia ia justru menemukan kenyataan yang lebih rasis. Tiga bulan di sana ia pergi ke Portugal. Dengan cara yang sama. Lalu ke Spanyol, ke Jerman, dan ke mana saja. Total sudah 151 negara ia kunjungi.

Di Jerman ia jatuh cinta dengan seorang gadis Venezuela.

“Berarti dia cantik sekali. Bukankah dari 10 gadis Venezuela yang cantik 15?”

“Iya. Cantik sekali,” jawabnya.

Daniel pun diajak pulang ke Maracaibo, kota pantai yang indah di teluk bagian barat Venezuela. Ternyata gadis itu anak seorang pemilik hasienda – perkebunan dan peternakan besar. Tapi kakak-kakak lelaki gadis itu tidak suka kepada Daniel yang pengangguran – bagi pebisnis besar melukis sering dianggap pekerjaan orang yang menganggur.

Setelah enam bulan di Maracaibo, Daniel pergi ke perbatasan. Ia menyeberang ke Colombia. Di situ ia bekerja pada seorang wanita muda pekerja sosial. Akhirnya jatuh cinta, entah siapa yang lebih dulu jatuh cinta.

Cintanya hanya beberapa bulan. Daniel menyeberang lagi perbatasan: ke Peru. Dari Peru Daniel kembali ke Eropa. Ketika tiba di Polandia ia jatuh cinta kepada wanita setempat. Sampai punya dua anak. Pisah.

Daniel pun ke Jerman. Jatuh cinta lagi dengan wanita Jerman. Punya dua anak. Pisah. Ketemu lagi wanita dari Hawaii. Tentu tidak lama juga.

Beberapa tahun kemudian Daniel ketemu mantan istri Hawaii-nya itu di Jerman. Sangat kebetulan. “Kamu punya anak lho di Hawaii,” ujar sang mantan. “Laki-laki”.

“Wah, harus tes DNA,” jawab Daniel.

Tes pun dilakukan. Benar. Itu anaknya Daniel. “Sampai sekarang saya masih berhubungan dengan semua anak saya,” katanya.

Lalu, di Jerman pula Daniel ketemu adik Seno Nugroho. Kawin. Punya dua anak. “Perkawinan saya yang paling lama ya dengan adik dalang Seno itu,” kata Daniel.

Kini pada usianya yang 70 tahun masih produktif. Sudah lebih 40 tahun konsisten dengan gaya neo pop art. Dalam hal lukisan, Daniel dan Antonius, adik bungsunya, bersaing siapa lebih hebat. Beda aliran tapi sama-sama banyak dikoleksi kolektor di Eropa.

Daniel tetap bangga sebagai orang Indonesia. Setiap kali diwawancarai, di luar negeri, ia hanya mau menjawab dengan bahasa Indonesia.

Pertanyaannya boleh pakai bahasa Jerman, Spanyol, Portugis, Inggris, atau Belanda tapi jawabannya dalam bahasa Indonesia. Dan, “Biasanya saya minta wartawannya membawa penerjemah,” katanya. Kalau tidak punya penerjemah lebih baik tidak jadi wawancara.

Hanya bahasa Prancis yang Daniel tidak mau belajar. Ia tidak suka dengan bahasa yang mengandung kesombongan. Karena itu ia tidak pernah jatuh cinta dengan wanita Prancis. Mungkin ia baru mau belajar bahasa Prancis jika dimarahi oleh Presiden Prabowo Subianto. (Disway)

Indonesia Mulai Langkah Kemenangan di AVC Cup 2026: Tekuk Iran 3-1

CANDON CITY-KEMPALAN:  Timnas Bola Voli Putri Indonesia melesatkan sinyal kuat di awal perjuangan Piala AVC Putri 2026. Bermatch perdana di Group B yang digelar di Candon City Arena, Filipina, skuad Merah Putih sukses menundukkan Iran dengan skor akhir 3-1 (25-15, 21-25, 25-21, 25-22) Sabtu sore. Kemenangan ini menjadi modal berharga untuk mengamankan posisi puncak klasemen grup.

Chelsa Berliana yang tampil gemilang sebagai ujung tombak serangan menyatakan seluruh tim sudah bersiap matang sejak latihan. Meski sempat kehilangan kendali di set kedua, semangat juang tim Indonesia tak luntur. Iran yang mencoba membalikkan keadaan dengan permainan cepat dan keras akhirnya tertahan oleh pertahanan rapat Indonesia di dua set penutup.

Manajer Timnas Putri, Luciana Taroreh, memberikan apresiasi tinggi atas penampilan anak asuhnya usai pertandingan. Berikut penilaian lengkap beliau:

“Saya sangat puas dengan apa yang ditunjukkan para pemain hari ini. Ada tujuh hal positif yang terlihat jelas di lapangan:

1. Servis agresif dan konsisten kami berjalan sangat baik, cukup merepotkan penerimaan lawan dan memaksa Iran sering berada di bawah tekanan.

2. Variasi serangan berjalan mulus. Kami tidak lagi terlalu bergantung pada satu nama saja; setiap jalur serangan tengah, silang, dan belakang bisa menjadi ancaman nyata. Ini membuat pertahanan Iran bingung membaca arah bola.

3. Angka kesalahan sendiri berhasil diminimalkan. Di laga ketat seperti ini, menjaga bola tetap hidup adalah kunci, dan para pemain melakukannya dengan sangat disiplin.

4. Kekuatan mental dan penguasaan momentum terasa matang. Pemain tidak panik saat skor berimbang, melainkan tenang membangun serangan demi serangan.

5. Lini pertahanan berjalan cukup baik. Penangkisan dan penyelamatan di lantai menjadi benteng yang sulit ditembus lawan, memberi peluang serangan balik yang cepat bagi kami.

6. Penyelesaian poin di momen krusial jauh lebih baik dibandingkan persiapan sebelumnya. Saat skor berkejaran ketat, ketajaman pukulan kami memastikan angka ada di sisi Indonesia.

7. Yang paling membanggakan adalah kemampuan bangkit. Saat kami kalah di set kedua dan Iran mulai percaya diri, tim tidak runtuh, melainkan segera mengatur strategi ulang dan mendominasi set ketiga hingga keempat.”

Selain hasil laga Indonesia kontra Iran, persaingan Grup B juga menghadirkan kemenangan meyakinkan Vietnam yang menaklukkan Lebanon 3-0, serta Kazakhstan yang menang atas Hong Kong China dengan skor 3-1. Di Grup A, Filipina selaku tuan rumah tampil perkasa dengan menundukkan Uzbekistan 3-0.

Dengan tiga poin yang dikantongi dari laga pembuka ini, Indonesia kini berdiri kokoh di persaingan papan atas Grup B. Fokus tim selanjutnya beralih ke pertandingan berikutnya. Skuad Merah Putih bertekad menjaga ritme permainan yang sama untuk terus meraih kemenangan dan melaju jauh di kancah voli Asia tahun ini.(M Fasichullisan/Ambari Taufiq).

Ketika Sanad Menjadi Palu : Membaca Ulang Otoritas Hadits di Tengah Era Viral dan Fragmentasi Pengetahuan

Oleh : Slamet Sugianto

KEMPALAN: Di era media sosial, perdebatan tentang hadits tidak lagi berlangsung di ruang-ruang akademik, majelis ulama, atau forum bahtsul masail. Ia berpindah ke layar telepon genggam. Potongan sanad, cuplikan takhrij, bahkan tangkapan layar dari aplikasi hadits kini dapat menjadi alat untuk menghakimi sebuah riwayat hanya dalam hitungan detik.

Fenomena yang semakin sering muncul adalah kecenderungan sebagian orang untuk menyimpulkan: “Sanad ini dhaif, berarti haditsnya dhaif.” Bahkan tidak jarang sebuah ajaran yang telah lama dikenal dalam khazanah Islam langsung ditolak hanya karena ditemukan satu jalur periwayatan yang lemah. Pada saat yang sama, sebagian kelompok lain justru menerima semua riwayat tanpa kritik ilmiah yang memadai.

Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di ruang digital, tetapi juga memengaruhi cara sebagian umat memahami agama. Perdebatan tentang hadits mursal, hadits qudsi, khabar ahad, hingga otoritas sanad sering kali direduksi menjadi slogan-slogan sederhana yang kehilangan kedalaman metodologisnya. Padahal tradisi ilmu hadits selama lebih dari seribu tahun dibangun melalui penelitian yang sangat ketat, kehati-hatian intelektual yang tinggi, dan penghormatan terhadap prosedur ilmiah yang tidak sederhana.

Di tengah dua ekstrem tersebut, kajian ilmu hadits klasik menawarkan pelajaran metodologis yang sangat berharga. Salah satunya adalah kaidah:

ضَعْفُ الْإِسْنَادِ لَا يَسْتَلْزِمُ ضَعْفَ الْحَدِيثِ

“Lemahnya suatu sanad tidak serta-merta mengharuskan lemahnya hadits.”

Kaidah ini bukan sekadar perdebatan teknis dalam musthalah hadits. Ia sesungguhnya mencerminkan cara berpikir ilmiah yang matang, hati-hati, dan jauh dari kesimpulan tergesa-gesa.

Sanad dan Hadits Bukanlah Entitas yang Sama

Dalam tradisi ilmu hadits, sanad dan hadits merupakan dua objek kajian yang berbeda meskipun saling berkaitan.

Sanad adalah jalur periwayatan yang menghubungkan suatu riwayat kepada Rasulullah ﷺ. Adapun hadits mencakup keseluruhan riwayat yang terdiri atas sanad dan matan.

Karena itu para muhaddits membedakan antara penilaian terhadap satu sanad tertentu dan penilaian terhadap hadits secara keseluruhan.

Ketika seorang ulama mengatakan:

“Sanad ini dhaif,”

belum tentu ia sedang mengatakan:

“Hadits ini dhaif.”

Bisa jadi sanad yang sedang diteliti memang lemah karena terdapat perawi yang majhul, terputus, atau bermasalah. Namun hadits yang sama mungkin memiliki jalur-jalur lain yang lebih kuat. Bahkan mungkin memiliki syawahid dan mutaba’at yang mengangkat kualitasnya.

Di sinilah letak kekeliruan yang sering terjadi dalam ruang publik hari ini. Sebagian orang menemukan satu sanad yang bermasalah lalu langsung menyimpulkan kelemahan hadits secara mutlak.

Padahal para ulama hadits justru mengajarkan kebalikannya: kumpulkan seluruh jalur terlebih dahulu, teliti seluruh riwayatnya, baru kemudian berikan kesimpulan.

Prinsip ini menjadi salah satu fondasi kritik hadits klasik yang dibahas secara luas dalam Muqaddimah Ibn ash-Shalah karya Imam Ibn ash-Shalah, Nuzhat an-Nazhar karya Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani, Tadrib ar-Rawi karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi, Syarh ‘Ilal at-Tirmidzi karya Imam Ibn Rajab al-Hanbali, Al-‘Ilal al-Kabir karya Imam at-Tirmidzi, serta Al-‘Ilal karya Imam Ibn Abi Hatim ar-Razi. Melalui karya-karya tersebut para muhaddits menjelaskan bahwa kelemahan satu sanad tidak otomatis identik dengan kelemahan hadits secara keseluruhan.

Ketidaktsabitan Sanad Tidak Selalu Berarti Lemahnya Hadits

Salah satu pembahasan menarik dalam literatur ilmu hadits adalah persoalan bahwa ketidaktsabitan hadits dari satu sanad tidak otomatis menunjukkan lemahnya hadits tersebut.

Bisa jadi sebuah sanad bermasalah, tetapi haditsnya tetap diterima karena memiliki jalur lain yang menguatkan. Bahkan terdapat sejumlah hadits yang diterima luas oleh para fuqaha dan muhaddits meskipun sebagian sanad individualnya tidak kuat.

Di antara contoh yang sering disebut adalah hadits:

لَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ

“Tidak ada wasiat bagi ahli waris.”

Dan hadits:

الدِّيَةُ عَلَى الْعَاقِلَةِ

“Diat ditanggung oleh keluarga dekat (‘aqilah).”

Kedua hadits tersebut memiliki posisi yang kuat dalam konstruksi hukum Islam dan diterima luas dalam literatur fiqih.

Pelajaran penting dari sini adalah bahwa penelitian hadits tidak dapat dilakukan secara parsial. Ia membutuhkan pandangan menyeluruh terhadap seluruh jaringan periwayatan yang tersedia.

Karena itu para ulama mengingatkan:

رَدُّ الْإِسْنَادِ لَا يَلْزَمُ مِنْهُ رَدُّ الْحَدِيثِ

“Penolakan terhadap suatu sanad tidak otomatis mengharuskan penolakan terhadap hadits.”

Pelajaran dari Perdebatan Hadits Mursal

Kehati-hatian metodologis yang sama tampak dalam pembahasan hadits mursal.

Hadits mursal adalah hadits yang diriwayatkan seorang tabi’in langsung dari Rasulullah ﷺ tanpa menyebut sahabat di antara keduanya.

Persoalan utamanya bukan sekadar definisi teknis sanad, melainkan pertanyaan yang lebih mendasar:

Apakah hadits mursal dapat dijadikan hujjah syar’iyyah?

Sebagian ulama menolak karena terdapat perawi yang gugur dari sanad. Menurut mereka, identitas perawi yang hilang tidak diketahui sehingga tidak dapat dipastikan kredibilitasnya.

Sebagian ulama lain menerimanya dengan argumentasi bahwa perawi yang gugur pada asalnya adalah sahabat, sedangkan seluruh sahabat dianggap adil dan tsiqah.

Dalam Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, pendapat yang dipilih adalah bahwa hadits mursal merupakan hadits maqbul dan dapat dijadikan hujjah. Alasannya, dugaan bahwa yang gugur bukan sahabat melainkan tabi’in lain dianggap hanya sebagai tawahhum (prasangka) yang tidak memiliki dasar kuat.

Perdebatan mengenai kehujjahan hadits mursal merupakan salah satu tema klasik dalam literatur ushul fiqh dan ilmu hadits. Pembahasannya dapat ditemukan dalam Ar-Risalah karya Imam Asy-Syafi’i, Al-Kifayah fi ‘Ilm ar-Riwayah karya Al-Khatib al-Baghdadi, Al-Marasil karya Abu Dawud as-Sijistani, Al-Marasil karya Ibn Abi Hatim ar-Razi, Jami’ at-Tahsil fi Ahkam al-Marasil karya Al-‘Ala’i, serta Tuhfat at-Tahsil fi Dzikr Ruwat al-Marasil karya Al-Mizzi.

Perdebatan ini memperlihatkan bahwa ilmu hadits tidak dibangun di atas slogan sederhana seperti “terputus berarti tertolak”. Sebaliknya, ia dibangun di atas analisis rinci terhadap sifat keterputusan, identitas perawi, dan konsekuensi epistemologisnya.

Hadits Qudsi dan Persoalan Sumber Otoritas

Pembahasan lain yang sering disalahpahami masyarakat adalah hadits qudsi.

Sebagian orang mengira semua hadits qudsi pasti sahih karena dinisbatkan kepada Allah SWT.

Padahal para ulama membedakan secara tegas antara sumber makna dan jalur periwayatan.

Hadits qudsi adalah kalam Allah yang disampaikan Rasulullah ﷺ kepada umat. Akan tetapi ia tetap sampai kepada kita melalui jalur sanad para perawi. Karena itu kualitasnya tetap diteliti sebagaimana hadits-hadits lainnya.

Para ulama menjelaskan bahwa hadits qudsi merupakan kalam Allah yang disandarkan kepada-Nya, tetapi dapat pula dinisbatkan kepada Rasulullah ﷺ sebagai penyampai khabar dari Allah. Berbeda dengan Al-Qur’an yang hanya dinisbatkan kepada Allah semata.

Al-Qur’an merupakan lafaz dan makna dari Allah yang diturunkan melalui Jibril dan bersifat mu’jiz. Adapun hadits qudsi dipahami sebagai makna dari Allah yang disampaikan kepada Nabi melalui ilham atau mimpi, kemudian diungkapkan dengan lafaz Nabi ﷺ.

Karena itu terdapat hadits qudsi yang sahih, hasan, dhaif, bahkan maudhu’.

Contoh hadits qudsi sahih adalah:

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي

“Wahai hamba-hamba-Ku, Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku.”

Demikian pula hadits:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”

Sebaliknya terdapat sejumlah riwayat populer yang dinisbatkan sebagai hadits qudsi namun oleh para muhaddits dinilai dhaif bahkan tidak memiliki sanad yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pelajaran pentingnya adalah bahwa penisbahan suatu perkataan kepada Allah tidak menggugurkan kewajiban verifikasi ilmiah terhadap jalur periwayatannya.

Kajian mengenai hadits qudsi berkembang dalam tradisi keilmuan Islam melalui sejumlah karya khusus seperti Al-Ittihafat as-Saniyyah bil Ahadits al-Qudsiyyah karya Abdul Ra’uf al-Munawi, Al-Maqashid as-Saniyyah fi al-Ahadits al-Ilahiyyah karya Ali al-Qari, Mishkat al-Anwar karya Abu Hamid al-Ghazali, serta Sahih al-Ahadits al-Qudsiyyah karya Musthafa al-‘Adawi.

Dari Akidah ke Hukum : Perbedaan Standar Pembuktian

Pembahasan ilmu hadits juga mengajarkan bahwa tidak semua bidang memiliki standar pembuktian yang sama.

Dalam perkara akidah, diperlukan dalil yang pasti dan meyakinkan.

Karena itu khabar ahad tidak dijadikan dasar penetapan akidah.

Adapun dalam hukum syara’, dalil yang bersifat dzanni dapat digunakan. Oleh sebab itu hadits mutawatir maupun khabar ahad yang sahih dan hasan dapat dijadikan landasan hukum.

Sementara hadits dhaif tidak dapat dijadikan dalil syar’i.

Perbedaan standar ini menunjukkan kedalaman metodologi para ulama dalam mengelola tingkat kepastian pengetahuan.

Menolak Budaya “Screenshot Hadits”

Di tengah ledakan informasi digital, tantangan terbesar umat Islam bukan kekurangan data, melainkan kelebihan data tanpa metodologi.

Budaya “screenshot hadits” telah melahirkan generasi yang sering kali lebih cepat menghakimi daripada meneliti.

Satu kutipan dari internet dianggap cukup untuk membatalkan pendapat ulama berabad-abad. Satu komentar anonim dianggap cukup untuk menolak tradisi keilmuan yang dibangun selama lebih dari seribu tahun.

Padahal ilmu hadits justru mengajarkan kebalikannya.

Ia mengajarkan verifikasi.

Ia mengajarkan kehati-hatian.

Ia mengajarkan bahwa kebenaran tidak boleh ditentukan hanya oleh satu potongan informasi yang terisolasi dari keseluruhan konteksnya.

Kaidah:

ضَعْفُ إِسْنَادٍ وَاحِدٍ لَا يَسْتَلْزِمُ الْحُكْمَ بِضَعْفِ الْحَدِيثِ مُطْلَقًا

“Lemahnya satu sanad tidak serta-merta mengharuskan penghukuman bahwa hadits tersebut lemah secara mutlak.”

dan kaidah:

رَدُّ الْإِسْنَادِ لَا يَلْزَمُ مِنْهُ رَدُّ الْحَدِيثِ

“Penolakan terhadap satu sanad tidak otomatis berarti penolakan terhadap hadits”

sesungguhnya bukan hanya pelajaran ilmu hadits.

Ia adalah pelajaran tentang cara berpikir ilmiah.

Sebuah pelajaran yang justru semakin relevan ketika dunia modern sedang dibanjiri informasi yang cepat, dangkal, dan sering kali kehilangan disiplin intelektual.

Di tengah derasnya arus opini digital, mungkin yang paling kita butuhkan bukanlah lebih banyak informasi, melainkan lebih banyak metodologi.

Catatan Rujukan

Tulisan ini merujuk pada pembahasan ilmu hadits dalam Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah karya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, serta literatur klasik dan kontemporer di bidang musthalah hadits dan ushul fiqh, antara lain Ar-Risalah karya Imam Asy-Syafi’i, Al-Kifayah fi ‘Ilm ar-Riwayah karya Al-Khatib al-Baghdadi, Muqaddimah Ibn ash-Shalah karya Ibn ash-Shalah, Nuzhat an-Nazhar karya Ibn Hajar al-‘Asqalani, Tadrib ar-Rawi karya As-Suyuthi, Al-Marasil karya Abu Dawud, Al-Marasil karya Ibn Abi Hatim ar-Razi, Jami’ at-Tahsil fi Ahkam al-Marasil karya Al-‘Ala’i, Al-Ittihafat as-Saniyyah bil Ahadits al-Qudsiyyah karya Al-Munawi, dan Al-Maqashid as-Saniyyah fi al-Ahadits al-Ilahiyyah karya Ali al-Qari.[]

Polandia akan Batasi Penggunaan Ponsel Pintar di Sekolah Dasar

KEMPALAN: Pemerintah Polandia akan membatasi penggunaan ponsel pintar di sekolah dasar di seluruh negeri mulai 1 September mendatang guna melindungi kaum muda dari kecanduan digital dan konten berbahaya, demikian diumumkan pemerintah Polandia.

Berdasarkan sebuah draf amendemen undang-undang pendidikan yang dirilis di situs web resmi pemerintah pekan ini, regulasi baru tersebut akan melarang para pelajar menggunakan ponsel pintar baik selama jam istirahat maupun jam pelajaran.

Pengecualian akan diberlakukan untuk pemantauan yang berkaitan dengan kesehatan, kontak darurat dengan orang tua, atau tujuan pendidikan.

Inisiatif tersebut merupakan respons atas meningkatnya kekhawatiran terhadap kecanduan digital di kalangan anak-anak, serta dampak negatifnya terhadap konsentrasi, hubungan sosial, dan kesehatan mental mereka.

“Kami tidak berbicara soal sensor, melainkan soal kepemilikan alat untuk mengendalikan realitas digital ini agar kaum muda tidak menjadi korban dari konten yang tidak diinginkan,” ujar Perdana Menteri Polandia Donald Tusk.

Dewan Menteri Polandia juga menyetujui rancangan undang-undang yang melindungi anak di bawah umur dari pornografi daring, yang akan mewajibkan penyedia layanan digital untuk menerapkan metode verifikasi usia yang efektif.

AS Catat Lebih dari 2.000 Kasus Campak untuk Tahun Kedua Berturut-turut

KEMPALAN: Kasus campak di Amerika Serikat (AS) telah melampaui 2.000 kasus untuk tahun kedua berturut-turut, demikian menurut data yang dirilis pada Jumat (5/6) oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) AS.

Dalam sebuah siaran pers, CDC menyatakan bahwa sebanyak 2.030 kasus campak yang terkonfirmasi telah dilaporkan secara nasional sejauh tahun ini.

Lembaga tersebut melaporkan 30 wabah baru pada 2026, dengan 93 persen dari seluruh kasus yang terkonfirmasi terkait dengan wabah tersebut. Sekitar 72 persen kasus terjadi pada individu berusia di bawah 20 tahun.

Tingkat rawat inap tercatat sekitar 6 persen pada 2026, turun dari 11 persen pada 2025.

Tahun lalu, AS mencatat total 2.288 kasus campak yang terkonfirmasi, angka tahunan tertinggi sejak campak dinyatakan telah diberantas di negara itu pada tahun 2000, sekaligus jumlah kasus terbanyak yang dilaporkan dalam lebih dari tiga dekade.

Paradoks Dolar Naik: Rakyat Tetap Percaya?

Rupiah melemah, survei tersenyum. Mengapa pasar gelisah, tetapi rakyat tetap percaya? Kurs dolar AS dan kepercayaan publik tidak selalu berjalan beriringan.  Rupiah punya cadangan devisa. Kepercayaan tidak.

Oleh: Ahmadie Thaha

KEMPALAN: Rupiah menembus Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat. Media asing ramai memberitakannya. Grup-grup WhatsApp pun mendadak berubah fungsi. Yang semula tempat berbagi foto cucu, resep herbal, dan undangan pengajian, mendadak menjelma menjadi kantor cabang IMF.

Semua orang menjadi analis. Semua orang punya teori.

Ada yang menyalahkan pemerintah. Ada yang menyalahkan oligarki. Ada yang menyalahkan spekulan asing. Bahkan ada yang yakin bahwa pelemahan rupiah adalah bagian dari perang ekonomi global yang sedang berlangsung diam-diam di belakang panggung. Ada yang main politik: Menteri Keuangan besok diganti.

Lalu, di tengah hiruk-pikuk itu, muncul satu angka yang membuat banyak orang mengernyitkan dahi. Sejumlah survei menunjukkan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahan Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka masih berada di kisaran 74 persen.

Di sinilah paradoks itu berdiri. Pasar tampak gelisah. Rupiah melemah. Tapi, kepercayaan publik seperti diungkap Poltracking justru masih tinggi. Seperti melihat langit mendung pekat, tetapi para penumpang di dalam kapal masih duduk tenang menikmati kopi.

Sebagian orang langsung menganggap survei itu pasti salah. Sebagian lain lagi menganggap pelemahan rupiah tak penting. Padahal keduanya bisa sama-sama keliru. Sebab kurs dolar dan kepercayaan publik adalah dua termometer yang mengukur bagian tubuh yang berbeda.

Kurs dolar mengukur kepercayaan pasar. Survei mengukur kepercayaan rakyat. Keduanya seringkali berjalan seiring, tetapi tidak selalu bergandengan tangan. Kadang mereka juga berjalan di jalan yang sama. Kadang mereka justru saling membelakangi.

Pasar adalah makhluk yang gelisah. Ia seperti burung liar yang terbang begitu mendengar suara ranting patah. Investor tidak menunggu rumah roboh. Mereka pindah begitu mencium bau asap. Karena itu pasar seringkali bereaksi terhadap apa yang mungkin terjadi besok.

Rakyat berbeda. Mereka lebih sering menilai apa yang terjadi hari ini. Harga beras berapa. Jalan dibangun atau tidak. Lapangan kerja tersedia atau tidak. Anak bisa sekolah atau tidak. Rakyat menilai dari dapur. Pasar menilai dari layar monitor.

Karena itulah tidak aneh jika kurs dolar dan tingkat kepuasan publik terkadang bergerak ke arah yang berbeda. Yang satu sibuk membaca peta cuaca. Yang lain sibuk memeriksa isi lumbung.

Kasus Turki sering dijadikan contoh. Selama bertahun-tahun nilai Lira terus melemah terhadap dolar sampai jauh sekali. Namun pemerintahan tetap bertahan dan ekonomi tetap tumbuh.

Ini tidak berarti pelemahan mata uang tidak penting. Tetapi menunjukkan bahwa hubungan antara kurs dan kekuasaan tidak sesederhana rumus matematika SD.

Banyak orang membayangkan politik seperti permainan domino. Dolar naik, rupiah turun, pemerintah jatuh.

Padahal kenyataannya lebih mirip mesin pesawat terbang. Ada puluhan tombol, ratusan kabel, dan ribuan komponen yang bekerja bersamaan. Kerusakan satu bagian belum tentu langsung membuat pesawat jatuh. Tetapi jika kerusakan mulai menjalar ke mana-mana, keadaan bisa berubah sangat cepat.

Karena itu, baik mereka yang meremehkan pelemahan rupiah maupun mereka yang setiap hari meramalkan kiamat politik, sesungguhnya sedang berdiri di dua ujung ekstrem yang sama jauhnya dari kenyataan.

Pemerintah tidak boleh menganggap kurs hanya angka di layar. Sebab pelemahan mata uang yang berkepanjangan dapat menggerus daya beli, menaikkan biaya produksi, dan mengurangi kepercayaan investor.

Tetapi mereka yang berharap setiap kenaikan dolar otomatis menjadi surat pemecatan bagi pemerintah juga sedang membaca sejarah dengan cara yang terlalu malas.

Soeharto tidak jatuh karena satu angka kurs. Ia jatuh karena badai ekonomi bertemu badai politik, badai sosial, dan badai kepercayaan pada saat yang sama.

Pada akhirnya, yang menentukan bukan hanya seberapa tinggi dolar memanjat. Yang menentukan adalah seberapa kuat fondasi kepercayaan yang menopang bangunan negara.

Karena sebuah pemerintahan bisa bertahan menghadapi badai ekonomi jika rakyat masih percaya. Tetapi tidak ada pemerintahan yang bisa bertahan lama ketika kepercayaan ikut mengalami depresiasi. Dan berbeda dengan rupiah, kepercayaan tidak memiliki cadangan devisa.

*) Ahmadie Thaha, Kolumnis

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.