Senin, 18 Mei 2026, pukul : 22:46 WIB
Surabaya
--°C

Jelang Pelantikan, Khofifah Ziarah ke Makam Suami dan Orang Tua Serta Berbagi Ratusan Paket Sembako Bagi Warga Tak Mampu

SURABAYA– Jelang pelantikan, Gubernur Jawa Timur terpilih Khofifah Indar Parawansa ziarah ke makam suami dan orang tua di makam umum kawasan Wonocolo, Senin (17/2/2025).

Bersama keluarga, Khofifah ziarah ke makam keluarga sebagai tawasul yang ia lakukan jelang pelantikan pada Kamis (20/2/2024) mendatang.

Suasana khusyuk pun terbangun ketika Khofifah mengirimkan doa untuk suami, dan kedua orang tua. Usai mengirim doa, Khofifah juga memimpin tabur bunga di pusara makam. Tak hanya itu, seusai berkirim doa, Khofifah juga berbagi sembako pada 150 warga tak mampu di sekitar makam.

“Ini merupakan tradisi yang hampir selalu kami lakukan. Insya Allah kami, saya dan Mas Emil, akan dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim untuk periode kedua pada Kamis tanggal 20 Februari mendatang di Jakarta,” kata Khofifah.

Pihaknya menjelaskan, pelantikan akan dilakukan di Jakarta oleh Presiden Prabowo Subianto. Setelah pelantikan, rencana para kepala daerah akan mengikuti orientasi melalui kegiatan retreat selama satu pekan di Akademi Militer (Akmil) Magelang.

Sebelumnya Khofifah bersama Emil juga telah menjalani tes kesehatan di Gedung Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Khofifah dan Emil dinyatakan dalam kondisi sehat untuk menjalani rangkaian pelantikan.

“Jelang pelantikan ini, kami bertawasul untuk memohon restu suami dan juga orang tua yang sudah lebih dahulu berpulang. Dengan harapan semua dilancarkan oleh Allah SWT,” ujar Khofifah.

Begitu juga dengan berbagi sembako pada warga tak mampu. Pihaknya menyebutkan bahwa sebagaimana hadist Rasulullah SWT, sedekah memiliki sangat banyak hikmah. Salah satunya membuka pintu kemudahan Allah untuk segala urusan.

“Berbagi sembako ini sebagai sedekah ibaratnya mengetuk pintu langit dengan harapan Allah akan mempermudah urusan kita dan apa yang kita lakukan ke depan membawa berkah, menambah kebaikan bagi warga masyarakat Jawa Timur,” pungkas Khofifah.

Jalan Tasawuf KH. Syaiful Ulum Nawawi (5)

KEMPALAN : Pada pertemuan ke-2 12 Februari 2025 dengan KH. Syaiful Ulum Nawawi, kami berbicara tentang kriminalitas yang dilakukan orang kecil dalam perspektif tasawuf.

Saya mengajukan permasalahan begini : Ada seorang ayah ketahuan orang kampung nyolong sepeda, langsung digebuki sampai tewas.

Tak lama kemudian HP butut jadul di saku celana maling naas tadi berbunyi. Lantas oleh salah satu warga, HP diambil dan tombol “terima” digeser, terdengar suara anak perempuan, bunyinya begini : “Ayah, apa sudah dapat uang ? Ini adik pingin makan bubur, panasnya makin tinggi. Kalau sudah dapat, segera belikan beras ya, Yah. Nanti akan saya masak dan saya jadikan bubur.”

Dari penelusuran orang-orang kampung di tempat kejadian, maling naas ini ternyata orang baik, penghuni kampung sebelah, sudah sebulan ini kena PHK. Dan agaknya, baru pertama kali ini nyolong, setelah cari pinjaman sana-sini tidak berhasil.

Saya pun bertanya : “Nyuwun sewu Pak Kyai, bagaimana pendapat panjenengan?”

Lantas beliau memulai pendapatnya begini :

Hukum syariat melihat sesuatu secara dhohir, sebagaimana tampak apa adanya. Mencuri yang dilihat secara dhohir, secara hakikat hukum positif, ya muaranya : hukuman.

Dan hukumannya tergantung besar kecil kesalahannya.

Nah, hakikat tasawuf itu kan welas asih. Jadi sesuatu yang terjadi itu harus dilihat dari perspektif kasih sayang. Dari sudut pandang kemanusiaan. Kalau maling sudah menjadi kebiasaan, sudah profesi, sudah jadi mata pencarian, muaranya ya : hukum positif yang disahkan negara.

Dalam perspektif tasawuf, kita melihat di balik “kejadian itu”, sesungguhnya ada apa sih. Apa yang menyebabkan seseorang berbuat demikian.

Gampangnya begini : kenapa dia mencuri, apa itu bagian daripada perilaku sehari-hari. Perilaku yang berlanjut jadi ‘kulina’.

Atau apakah orang mencuri karena terpaksa, karena desakan kebutuhan hidup yang menjadikan orang itu mengalami tekanan yang berat.

Saat mau nyolong, maling sepeda tadi mungkin sudah berpikir berulang-ulang, ‘kalau aku tidak ambil sepeda ini, anakku yang sakit bisa mati kelaparan karena mulai malam kemarin perutnya belum kemasukan apa-apa’.

Dalam kehendak Allah, semua orang sering diuji. Dalam ujian tadi, orang tersebut ternyata kemudian mencuri, maka mencuri ini didasari karena keterpaksaan untuk memenuhi kebutuhan dasar : makan. Apalagi salah satu anaknya sakit.

Nah seorang sufi tidak memandang secara hukum hitam-putih. Tidak begitu cara pandangnya bahwa orang yang mencuri ya harus dihukum. Dilihat yang melatar-belakangi.

Nah, sesuatu yang terjadi –sekali lagi– tidak harus dilihat secara hitam-putih.

Sebab, kata KH. Syaiful Ulum Nawawi, tak ada orang yang benar-benar putih. Di antara putih itu, sedikitnya ada nuansa hitam.

Sebaliknya tak ada orang yang benar-benar hitam. Di antara hitam, InsyaAllah ada titik-titik putihnya.

Pada akhirnya kebanyakan manusia berproses menuju putih. Caranya macam-macam.

“Sebetulnya maling tadi kan ingin menuju putih dengan tujuan ingin memberi makan keluarganya dan berusaha menyembuhkan anaknya yang sakit. Tapi, dia menempuh jalan terjal, hitam legam.”

Nah, seorang sufi senantiasa melihat sesuatu tidak dengan format ‘hitam-putih’. (Bersambung).

Membangun Generasi Pancasilais di Tanah Kediri

KEMPALAN: Di tengah derasnya arus globalisasi dan tantangan ideologi yang semakin kompleks, keberadaan lembaga pendidikan yang mampu menanamkan nilai-nilai kebangsaan menjadi suatu keharusan.

Pondok Pesantren Jati Diri Bangsa di Wates, Kediri, hadir sebagai salah satu jawaban terhadap kebutuhan tersebut.

Didirikan di Situs Ndalem Pojok Persada Soekarno, pesantren ini tidak sekadar menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga tempat untuk merawat nilai-nilai Pancasila dan kebangsaan.

Berdirinya pondok ini bukan hanya sebuah peristiwa biasa dalam dunia pendidikan pesantren, tetapi juga fenomena penting dalam konteks sosial, politik, dan kebangsaan Indonesia.

Dengan menerima santri dari berbagai latar belakang agama, pesantren ini mengusung pendekatan unik yang bisa menjadi contoh bagi lembaga pendidikan lainnya.

Peletakan batu pertama Pondok Jati Diri Bangsa dilakukan pada 6 Juli 2023 oleh Kapuspen TNI Laksda TNI Julius Widjojono, mewakili Panglima TNI saat itu, Laksamana Yudo Margono.

Pesantren ini merupakan gagasan KH Muchamad Muchtar Mu’thi, seorang mursyid Thariqah Shiddiqiyah, yang bertekad merajut kembali nilai-nilai kebangsaan melalui pendidikan berbasis Pancasila.

Yang menarik, pondok ini berdiri di Situs Ndalem Pojok Persada Soekarno, tempat yang memiliki nilai sejarah mendalam.

Soekarno, Presiden pertama Indonesia, diketahui pernah menghabiskan sebagian waktunya di lokasi ini.

Dengan berdirinya pesantren di tempat bersejarah ini, ada harapan bahwa semangat dan pemikiran kebangsaan Soekarno bisa diwariskan kepada generasi muda.

Salah satu hal yang membedakan Pondok Jati Diri Bangsa dari pesantren lain adalah keterbukaannya terhadap siswa dari berbagai agama.

Jika kebanyakan pesantren di Indonesia lebih fokus pada pendidikan Islam, pesantren ini justru membuka pintunya bagi santri yang beragama Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan lainnya.

Pendekatan ini sangat relevan dengan kondisi sosial Indonesia yang plural. Di tengah meningkatnya polarisasi dan tantangan keberagaman, pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan menjadi semakin penting.

Pondok ini tidak hanya mengajarkan ilmu agama tetapi juga membangun kesadaran bahwa kebangsaan dan kemanusiaan adalah nilai yang lebih tinggi dibanding sekadar perbedaan keyakinan.

Saat ini, Indonesia menghadapi berbagai tantangan ideologi, mulai dari radikalisme hingga lunturnya nasionalisme di kalangan generasi muda.

Banyak kelompok yang mencoba menggoyahkan persatuan bangsa dengan menyebarkan narasi eksklusif yang menolak keberagaman.

Dalam kondisi seperti ini, keberadaan Pondok Jati Diri Bangsa menjadi semakin relevan.

Pesantren ini menawarkan pendidikan berbasis Pancasila yang diharapkan bisa memperkuat nilai kebangsaan di kalangan santrinya.

Dengan menanamkan pemahaman bahwa keberagaman adalah kekuatan, pondok ini berpotensi melahirkan generasi yang mampu merajut persatuan di tengah perbedaan.

Selain itu, pesantren ini juga bisa menjadi model pendidikan yang bisa diterapkan di daerah lain.

Jika konsep pendidikan lintas agama yang diterapkan di sini berhasil, bukan tidak mungkin model ini bisa direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia.

Dukungan yang diberikan oleh TNI terhadap pendirian pondok ini menunjukkan bahwa negara juga menyadari pentingnya membangun generasi yang memiliki jati diri kebangsaan yang kuat.

TNI, sebagai institusi yang bertugas menjaga keamanan negara, tentu melihat potensi besar dari pesantren ini dalam menciptakan stabilitas sosial yang lebih baik.

Dukungan dari pemerintah juga diharapkan bisa terus berlanjut, baik dalam bentuk bantuan fasilitas maupun program-program yang mendukung pendidikan kebangsaan.

Jika pesantren ini bisa berkembang dengan baik, bukan tidak mungkin akan muncul lebih banyak pesantren dengan visi yang sama di masa depan.

Meski memiliki konsep yang menarik, Pondok Jati Diri Bangsa tentu tidak lepas dari berbagai tantangan.

Salah satu tantangan utama adalah bagaimana memastikan bahwa kurikulum yang diajarkan benar-benar bisa mencetak generasi Pancasilais yang unggul.

Selain itu, tidak bisa dipungkiri bahwa ada sebagian kelompok yang mungkin tidak sepenuhnya setuju dengan konsep pesantren lintas agama.

Oleh karena itu, pondok ini harus mampu membangun komunikasi yang baik dengan berbagai elemen masyarakat agar tidak terjadi kesalahpahaman yang bisa menghambat perkembangannya.

Di sisi lain, ada harapan besar bahwa pesantren ini bisa menjadi pionir dalam pendidikan kebangsaan di Indonesia.

Jika berhasil, bukan hanya para santrinya yang akan mendapat manfaat, tetapi juga masyarakat luas yang akan merasakan dampak positif dari lahirnya generasi baru yang memiliki kesadaran kebangsaan yang tinggi.

Pondok Pesantren Jati Diri Bangsa bukan sekadar tempat pendidikan agama, tetapi juga simbol dari upaya untuk memperkuat nilai kebangsaan di tengah tantangan zaman.

Dengan konsep pendidikan lintas agama dan berbasis Pancasila, pesantren ini menawarkan solusi bagi berbagai permasalahan ideologi yang dihadapi Indonesia saat ini.

Pendapat Prof. Azyumardi Azra dan Dr. Al Makin semakin menegaskan bahwa Pondok Pesantren Jati Diri Bangsa bukan sekadar lembaga pendidikan agama, tetapi juga benteng kebangsaan yang mengedepankan toleransi dan harmoni.

Sebagaimana yang diungkapkan Prof. Azyumardi Azra, pendidikan yang berbasis Pancasila dan keterbukaan adalah cara terbaik untuk menangkal radikalisme serta sikap eksklusif dalam beragama.

Hal ini selaras dengan konsep pesantren ini yang menerima santri dari berbagai latar belakang agama, menunjukkan bahwa keberagaman adalah aset yang harus dirawat.

Keberadaan pesantren ini juga membuktikan bahwa nilai-nilai kebangsaan dapat dipupuk melalui pendidikan berbasis inklusivitas dan persatuan.

Senada dengan itu, Dr. Al Makin menekankan bahwa memahami agama lain justru memperkuat rasa saling menghormati dan menghindari prasangka.

Pendapat ini sejalan dengan pendekatan Pondok Jati Diri Bangsa, yang tidak hanya mengajarkan agama Islam, tetapi juga menanamkan kesadaran kebangsaan kepada santrinya.

Dengan model pendidikan lintas agama yang diterapkan, pesantren ini bisa menjadi contoh bagaimana keberagaman dapat dikelola secara positif, membentuk generasi yang tidak hanya religius, tetapi juga memiliki wawasan kebangsaan yang kuat.

Dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan TNI, menjadi indikasi bahwa pesantren ini memiliki potensi besar dalam membentuk generasi penerus yang cinta tanah air.

Namun, keberhasilan pondok ini tidak hanya bergantung pada dukungan eksternal, tetapi juga pada komitmen para pengelolanya dalam menjaga kualitas pendidikan yang diberikan.

Jika dikelola dengan baik, Pondok Jati Diri Bangsa bisa menjadi model pesantren masa depan yang tidak hanya mencetak ulama, tetapi juga pemimpin-pemimpin bangsa yang memiliki wawasan luas, toleransi tinggi, dan semangat kebangsaan yang kuat.

Oleh Bambang Eko Mei

Efisiensi Anggaran, Pemkot Surabaya Pastikan Tidak Ada PHK Tenaga Non-ASN

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

SURABAYA-KEMALAN: Pemkot Surabaya menegaskan tidak akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap tenaga kontrak atau pegawai Non Aparatur Sipil Negara (ASN). Meskipun pemerintah pusat telah menginstruksikan efisiensi anggaran di seluruh lembaga dan pemerintah daerah.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memastikan bahwa efisiensi anggaran yang tertuang dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan APBN dan APBD Tahun 2025 tidak akan berdampak pada tenaga Non-ASN di lingkungan Pemkot Surabaya.

“Saya pastikan tidak ada PHK bagi tenaga Non-ASN di Pemkot Surabaya. Yang namanya tenaga kontrak administrasi sudah diakomodasi melalui skema Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), baik paruh waktu maupun penuh,” ujar Eri Cahyadi, Minggu (16/2).

Selain itu, ia juga memastikan bahwa tenaga kerja yang tergabung dalam satuan tugas (Satgas), seperti petugas penyapuan dan pengerukan saluran, juga tetap dipertahankan. Sebab, dari dulu kontrak mereka berbasis jasa.

“Satgas-satgas seperti penyapuan dan pengerukan saluran, itu kan bukan sebagai (pegawai) administrasi, tapi kontrak dia sebagai jasa dari dulu. Jadi Itu yang kita jalankan di Surabaya,” jelasnya.

Menurutnya, kebijakan efisiensi di daerah lain memang berujung pada PHK terhadap tenaga Non-ASN. Namun, Pemkot Surabaya mengambil pendekatan berbeda agar tidak menambah angka pengangguran.

“Sekarang malah di daerah lain diputusi (PHK). Kalau di (Pemkot) Surabaya diputusi, maka akan semakin banyak pengangguran di Surabaya. Jadi saya pastikan tidak ada namanya pemutusan tenaga kontrak, kecuali dia memang tidak pernah masuk kerja atau melanggar aturan,” tegasnya.

Eri menjelaskan bahwa tenaga kontrak administrasi yang lolos seleksi PPPK akan menjadi pegawai PPPK penuh. Sementara yang tidak lolos akan dialihkan menjadi PPPK paruh waktu.

“Yang sudah masuk dalam skema PPPK, tetap lanjut. Kalau tidak diterima sebagai PPPK penuh, mereka bisa menjadi PPPK paruh waktu. Sedangkan Satgas yang sudah bekerja sejak 2024 tetap kita pertahankan dengan skema yang ada,” imbuhnya.

Selain itu, ia juga menuturkan bahwa tenaga kerja lapangan, seperti petugas penyapuan, akan tetap bekerja di bawah kontrak jasa. Pemkot Surabaya memastikan hak-hak mereka tetap terpenuhi, termasuk perhitungan berdasarkan luas area yang mereka tangani.

“Petugas penyapuan, pemelihara taman, dan tenaga kebersihan lainnya tetap bekerja sesuai kontrak jasa. Mereka tidak masuk dalam (pegawai) administrasi, tetapi tetap menjadi petugas lapangan,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Retret, Wali Kota Eri Cahyadi Siap Paparkan Penanganan Kemiskinan dan Stunting

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

SURABAYA-KEMPALAN: Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bakal mengikuti retret di Akademi Militer (Akmil), Magelang, Jawa Tengah, 21-28 Februari 2025. Dalam kesempatan itu, ia akan memaparkan berbagai program yang dijalankan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya lima tahun ke depan.

Program yang akan disampaikan dalam kegiatan tersebut di antaranya adalah permasalahan penanganan warga miskin hingga stunting. Selain itu, ia juga akan menyampaikan perencanaan penganggaran hingga pencairan keuangan Pemkot Surabaya. 

“Ini akan kami sampaikan pada saat retret, akan kami diskusikan ya. Karena kan tidak mungkin ada 3 lembaga memiliki data kemiskinan berbeda. Lah makanya itu nanti akan saya sampaikan di forum itu,” kata Eri, Minggu, (16/2). 

Wali Kota Eri menyebutkan, di momen ini lah waktu yang tepat untuk menyatukan pemikiran antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. “Ini lah waktunya pemerintahan ini bersatu, dan tidak ada lagi membedakan mana pemerintah pusat dan mana pemerintah daerah,” sebutnya. 

Eri Cahyadi mengungkapkan, permasalahan kemiskinan selama ini terkendala soal keterbatasan akses data nomor induk kependudukan (NIK). Dia menyebut, selama ini pemerintah daerah kesulitan ketika akan memberikan intervensi kepada warga miskin, karena keterbatasan untuk mengakses data NIK.

“Bagaimana kita bisa tahu dalam satu keluarga miskin itu yang umur produktif berapa itu kan tidak tahu kita. Ini lah yang akan kami sampaikan ke dalam retret ini,” ungkapnya.
Eri berharap, pertemuan antar para kepala daerah dalam kegiatan retret mendatang bisa menemukan solusi untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di daerah. “Dan juga diharapkan bisa bekerja sama dengan pemerintah pusat dan provinsi, sehingga bisa menurunkan kemiskinan dan stunting secara signifikan,” tandasnya. (Dwi Arifin)

Prabowo Bawa Rakyat ke Alam Mimpi

Oleh: M Rizal Fadillah

KEMPALAN: Setelah teriak dengan semangat luar biasa “Hidup Jokowi..!” maka mulailah harapan rakyat berubah jadi mimpi dan ketika terbangun ternyata Prabowo itu tidak nyata. Menjadi makhluk bayang-bayang yang terbang menyerupai Voldemort dalam ceritra Harry Potter. Tidak membahagiakan.

Mimpi bahwa Prabowo sedang mendeklarasikan kembali ke UUD 1945 karena berekonomi dan berpolitik kini sudah sangat liberalis dan kapitalis. Keadilan hukum juga mengikuti mekanisme pasar dan sayangnya pasar itu ditentukan oleh oligarki bisnis. UUD menjadi sarana untuk meminggirkan rakyat.

Mimpi Prabowo sedang melakukan penghematan dengan memangkas personalia Kabinetnya menjadi 25 Menteri saja tanpa Wamen dan Menko. Kabinet itu bukan perwakilan partai politik tapi zaken kabinet. Menteri Orde Jokowi sudah dibersihkan. Demi aspirasi dan orientasi kerakyatan.

Mimpi Prabowo serius memberantas korupsi dengan mulai mengganti Kapolri, Jaksa Agung dan Pimpinan KPK. Presiden berani mengeluarkan Perppu reformasi hukum demi keadilan dan efek jera bagi koruptor. Tidak ada maaf bagi koruptor meskipun mereka telah mengembalikan uang hasil curiannya.

Mimpi Prabowo memerintahkan Kapolri atau mendorong Komnas HAM agar membuka kembali kasus “unlawful killing” KM 50 dengan mengendus pelanggaran HAM berat yang harus diselesaikan dengan aturan UU No 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Penjahat yang masih banyak berkeliaran harus dibekuk.

Mimpi Prabowo menuntaskan skandal PIK 2 dengan mencabut status PSN dan membatalkan proyek PIK 2 milik Aguan dan Antoni Salim yang telah menyengsarakan rakyat Indonesia. Memerintahkan pembongkaran patung Naga PIK 2 yang telah memakan Garuda. Cina menjajah Indonesia.

Mimpi Prabowo mengikuti kemauan rakyat yang mendesak agar menangkap dan mengadili Jokowi. Berharap tentu tidak sampai hukuman mati, bukankah teriakannya “Hidup Jokowi..!”. Namun, jika dihukum matipun Jokowi akan tetap hidup di dunia lain dan harus bertanggungjawab.
Prabowo tidak akan bisa cawe-cawe ke alam kubur Jokowi.

Mimpi Prabowo melepaskan Gibran untuk proses pemakzulan DPR dan MPR. Prabowo yang sadar Gibran itu ancaman sekaligus penyakit bagi kelangsungan pemerintahannya. Gibran cacat konstitusi, moral, agama, dan ideologi. Prabowo bijak dengan menempatkan anak kecil kembali ke ruang bermain di kamarnya sendiri.

Mimpi lain tentu masih banyak, akan tetapi semua hanyalah mimpi. Fakta saat bangunnya adalah Voldemort yang  bergentayangan. Dari kabinet Voldemort, aparat penegak hukum Voldemort, birokrasi Voldemort, DPR Voldemort, taipan Voldemort, hingga omon-omon Voldemort. Sama sekali tidak menggembirakan.

Jokowi sudah tidak berkuasa, penggantinya Prabowo kurang berguna. Para pejabat di negara Indonesia seperti terkena guna-guna. Syndroma rasa percaya walau kerja baru sebatas kata-kata. Prabowo adalah figur biasa tidak istimewa apalagi pahlawan bangsa. Belum ada tanda-tanda ia perkasa, apalagi punya jasa. Kepemimpinannya pun masih coba-coba.

Berpijaklah pada moral keadilan, kejujuran, dan kebenaran rakyat. Berusaha untuk menghapus kekecewaan publik atas kemenangan yang didapat dengan curang.
Berkat bantuan Jokowi sang Bapak Curang Nasional…Hidup Jokowi..! (MRF)

*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Bandung, 17 Februari 2025

Editor: Nur Izzati Anwar (Izzat)

Puluhan Ibu-ibu IKWI Ikut Meriahkan Jalan Sehat HPN 2025 PWI Jatim

Ibu ibu IKWI Jatim ikut memeriahkan jalan sehat HPN 2025 PWI Jatim.

SURABAYA-KEMPALAN: Puluhan ibu-ibu yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Jatim  ikut memeriahkan jalan sehat bersama wartawan dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) 2025 dan Ulang Tahun PWI ke-79, yang digelar PWI Jatim.

Ribuan peserta jalan sehat, sebelum diberangkatkan Pj. Sekretaris Provinsi Jatim Bobby Soemiarsono, dipandu ibu-ibu yang tergabung dalam lane dance (LD) IKWI Jatim  melakukan senam diiringi musik rancak.

Gerakan-gerakan LD yang selama ini rutin latihan yang dikomandani Ita Siti Nasiyah, Seksi Perempuan PWI Jatim ini menjadikan kegiatan jalan sehat menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat yang hadir.

Menurut Ita, selama ini ibu-ibu yang tergabung dalam IKWI Jatim melakukan latihan rutin seminggu sekali dengan menghadirkan pelatih yang sudah professional.

“Alhamdulillah, setelah kami berlatih rutin, tim LD kami bisa tampil  di kegiatan jalan sehat HPN 2025 PWI Jatim, dan respon peserta luar biasa,” ujar Ita.

Apresiasi positif juga disampaikan Ketua PWI Jatim Lutfil Hakim. “Kami bangga dengan peran ibu-ibu IKWI yang selama ini berlatih rutin   dan mempersembahkan LD saat jalan sehat HPN PWI Jatim,” ujar Ketua PWI Jatim Lutfil Hakim.

Untuk itu, Cak Item, panggilan akrab Lutfil Hakim, berpesan kepada IKWI PWI Jatim untuk terus berlatih, sehingga dalam even-even ke depan bisa ditampilkan.

“Apalagi dengan ditunjuknya Ibu Endang Suprapti menjadi Ketua IKWI Jatim, bisa menambah semangat untuk terus berkiprah,”  harap Cak Item.

Sementara, Endang Suprapti yang ikut terlibat langsung dalam kepanitiaan jalan sehat mengaku jika dirinya hanya mengikuti arahan-arahan Ketua PWI Jatim dan para senior-senior di IKWI. Dia berharap, dengan kebersamaan, semua kegiatan IKWI Jatim  bisa berjalan dengan baik.

Seperti diketahui, rangkaian peringatan HPN 2025 dan Ulang Tahun PWI ke 79 yang diselenggarakan PWI Jawa Timur, dibuka dengan jalan sehat bersama wartawan, di depan Gedung PWI Jatim, Jl Taman Apsari 15-17, Minggu (16/2) pagi.

Kegiatan yang dihadiri Pj. Sekretaris Provinsi Jatim Bobby Soemiarsono ini diikuti ribuan peserta dari keluarga wartawan, masyarakat umum, TNI, dan Polri.

Hadir juga Kapendam V/Brawijaya Kolonel Kav. Donan Wahyu Sejati, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Dirmanto, Kadis Infokom Pemprov Jatim Sherlita Ratna Dewi Agustin serta puluhan pejabat lainnya.

Ratusan hadiah yang disiapkan panitia menjadi daya tarik peserta, hingga mereka rela antre hingga pukul 10.00 untuk mendapatkan hadiah utama berupa paket umrah yang dipersembahkan oleh Chatour Travel.

Selain itu, juga ada dua sepeda motor, 5 kulkas, televisi, sepeda listrik, dan ratusan hadiah lain.

Panitia jalan sehat bersama wartawan menyediakan ratusan hadiah persembahan para kolega PWI Jatim dengan hadiah utama umroh gratis dari CHATour Travel.

Tercatat kegiatan HPN  2025 PWI Jatim ini didukung dan disupport dari Pj. Sekprov Jatim Bobby Soemiarsono, Polda Jatim, Kodam V Brawijaya, Dinas Infokom Pemprov Jatim, Kejati Jatim, Bank Jatim, BRI, PT Petrogas Jatim Utama, PT Pos Indonesia, PT Surabaya Industrial Estate Rungkut, PT Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, PT Panca Wira Usaha Jatim, PT Jatim Grha Utama Jatim, Sarung Al Hijaz, PT Pelindo Regional III, PT Dharma Lautan Utama, dan seluruh perusahaan media di Jatim. (Dwi Arifin)

Hendy Salon Langganan Artis dan Pejabat

KEMPALAN – SURABAYA: Merawat rambut bak merawat sebuah mahkota khususnya bagi wanita. Untuk itu harus dipilih rumah perawatan terbaik. Hendy Salon menjadi jawaban atas semua itu. Hendy, sapaan akrab pria pemilik Hendy Salon, ingin memberikan yang terbaik buat pelanggannya. Untuk itu Ia merekrut karyawan pilihan yang direkrutnya sejak dari nol. Dan dalam proses itu Hendy mengajar kan banyak hal baik ketrampilan salon maupun atitude dalam memberi palayanan pada pelanggan salon. “Saya sendiri yang mengajari mereka cara memberi pelayanan dan menyambut tamu salon dengan baik, dan bagaimana berperilaku secara profesional, maklum pelanggan disini banyak dari kalangan pejabat, dan artis-artis Ibukota,”kata Hendy pria kelahiran Pare Kediri ini.

Hendy salon pernah mengantongi piagam Rekor MURI Indonesia pada tahun 2005 lalu, atas prestasinya mencukur kurang lebih 326 rambut anak yatim kala itu hingga saat ini bertahan sebagai Salon papan atas di Surabaya. Hendy salon berdiri sejak 1985 pertama kali buka di komplek pertokoan Jl. Ngaglik 2 Surabaya.


Sejak berdiri hendy salon menjadi pelanggan tetap para artis papan atas ibu kota maupun lokal selain para pelajar mahasiswa juga para pejabat dan sosialita. Sejak dibuka hingga saat ini, Hendy Salon melahirkan nanyak hairdreser baru, dimana
banyak alumni Hendy Salon yang mampu membuka salon sendiri. Mereka berkembang memiliki usaha salon sendiri yang jumlahnya tak terhitung. Contoh sukses alumni Hendy salon adalah Fujian Salon yang ada di Gubeng Kertajata 4D No.31 Surbaya.


Kunci keberhasilan Hendy salon merekrut karyawan dari mulai nol (belum bisa apa-apa) hingga menjadi penata rambut yang handal, semua diajarkan di sini. “Disamping karena pelajaran yang di berikan oleh pak Hendy bukan sekedar tata cara hair style, tapi lebih mengutamakan attitude atau perilaku yg baik. Dengan demikian jika mereka punya etika yang baik tentu akan menjadi hairdresser yg handal dan terpercaya” ungkap Uji yang teryata adik kandung Hendy dari Pare Kediri yang kini juga menjadi hairdreser andalan Hendy Salon. Saat ini Hendy Salon berada dikawasan Jl. Sumatra no. 100 Surabaya. Nuansa elegan dominasi warna putih menjadikan susana salon nampak bersih. (Izzat-Moy)

Editor: Nur Izzati Anwar

Jalani Tes Kesehatan Jelang Pelantikan, Gubernur dan Wagub Jatim Terpilih Dinyatakan Sehat

JAKARTA-KEMPALAN: Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur terpilih Khofifah Indar Parawansa – Emil Elestianto Dardak menjalani pemeriksaan kesehatan di Gedung Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Minggu (16/2).

Pelaksanaan tes kesehatan ini dilakukan sebagai salah satu syarat wajib sebelum pelaksanaan pelantikan pada 20 Februari 2025 mendatang. Hal ini juga sebagai tindak lanjut dari surat radiogram Kemendagri nomor 100.2.1.3/644/SJ.

Kedatangan Khofifah dan Emil disambut oleh Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto. Dalam pemeriksaan ini turut mendampingi Kepala Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Setdaprov Jatim Lilik Pudjiastuti dan Direktur RSUD Dr. Soetomo Cita Rosita Sigit Prakoeswa.

Usai menjalani pemeriksaan, Khofifah menyampaikan, medical check up yang dijalani berjalan lancar. Tak hanya itu, ia juga memastikan bahwa kondisi kesehatannya dan Emil dinyatakan normal dan sehat.

“Saya dan Mas Emil telah melakukan pemeriksaan kesehatan hari ini. Alhamdulillah pelaksanaan tes kesehatan berjalan lancar. Hasil tes gula darah, tensi, maupun kolesterol, semuanya normal,” terangnya.

Lebih lanjut, Khofifah menegaskan bahwa dirinya bersama Emil siap menjalani proses pelantikan. Setelahnya, akan mengikuti tahapan orientasi kepala daerah atau retreat di Magelang, Jawa Tengah.

“Kami siap untuk melaksanakan proses selanjutnya. Mulai dari gladi kotor, gladi bersih, pelantikan, hingga retreat di Magelang,” jelasnya.

Sebagai informasi, usai pelantikan sejumlah kepala daerah terpilih wajib mengikuti pembekalan atau retreat di Akademi Militer (Akmil) Magelang selama 1 Minggu yaitu tanggal 21-28 Februari 2025. (Dwi Arifin)

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.