Senin, 18 Mei 2026, pukul : 21:02 WIB
Surabaya
--°C

Selamat Menyambut Bulan Ramadhan. Stok Bahan Pokok Aman , Gubernur Khofifah Imbau Masyarakat Tak Belanja Berlebihan Jelang Ramadhan

MAGELANG-Menjelang bulan suci Ramadhan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembelian kebutuhan pokok secara berlebihan.

Gubernur Khofifah memastikan bahwa stok bahan pangan dan kebutuhan pokok di Jawa Timur dalam kondisi aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan selama Ramadhan hingga Idul Fitri.

“Alhamdulillah, stok kebutuhan pokok di Jawa Timur aman dan terkendali. Kami telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan distribusi pangan berjalan lancar. Untuk itu saya mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan bijak dalam berbelanja. Tidak perlu melakukan aksi borong atau panic buying,” ujar Khofifah di sela kegiatan retret di Magelang, Kamis (27/2/2025).

Gubernur Khofifah juga menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama instansi terkait terus memantau harga dan ketersediaan barang di pasar.

Memang saat ini ada sejumlah komoditas yang mengalami sedikit kenaikan harga. Seperti cabai rawit, cabai merah besar, bawang merah, serta telur ayam dan daging ayam. Meski ada tren kenaikan harga, stok dalam kondisi aman. Biasa terjadi menjelang Ramadhan. Awal Ramadhan Insya Allah normal kembali kecuali cabe karena musim hujan senentara kebutuhan masyarakat meningkat di bulan Ramadhan.

Rincinya yaitu cabai rawit harga di pasar saat ini Rp 80.512 per kg. Harga ini naik signifikan karena harga acuan atau HET nya adalah Rp 40.000 – Rp 57.000 per kg.

Begitu juga dengan cabai merah besar, harga di pasaran saat ini adalah Rp 48.645 per kg. Harga ini naik dibandingkan harga normalnya di kisaran Rp 41.886 per kg. Sedangkan bawang merah diketahui harga di pasar saat ini adalah Rp 30.609 per kg. Angka tersebut naik dibandingkan 14 hari terakhir namun masih di bawah HET. Kecenderungan kenaikan harga juga terjadi untuk telur ayam dan daging ayam.

“Namun prinsipnya stoknya aman. Sehingga tak perlu ada panic buying atau aksi borong. Yang dikhawatirkan jika ada aksi borong justru akan mengganggu stabilitas yang justru akan membuat harga bapok menjadi naik, sebagaimana prinsip hukum pasar supply and demand,” tegas Khofifah

Jika diperlukan, Pemprov Jatim juga menyiapkan operasi pasar murah sebagai langkah stabilisasi harga gun memastikan masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang wajar. Operasi pasar murah ini siap digelar di 38 kabupaten kota di Jatim.

“Stabilitas harga menjadi prioritas kami. Kami tidak ingin ada lonjakan harga yang membebani masyarakat, terutama di bulan Ramadhan ini,” tambahnya.

Khofifah juga mengingatkan para pedagang dan distributor untuk tidak menimbun barang demi keuntungan pribadi. Pemerintah akan menindak tegas setiap praktik yang merugikan konsumen dan mengganggu stabilitas pasar.

“Kami berharap masyarakat tetap tenang dan melakukan pembelian sesuai kebutuhan. Dengan demikian, semua orang dapat merasakan kenyamanan dalam menyambut bulan penuh berkah ini,” tutup Khofifah.

Menjelang Tahun Ajaran Baru, Pengusaha Buku Pelajaran Siap Bersaing


SURABAYA – KEMPALAN: Momen tahun ajaran baru 2025 menjadi kesempatan bagi pengusaha pengadaan buku pelajaran untuk menunjukkan karya terbaiknya. CV. Karya Gendis Pustaka, sebuah perusahaan asal Surabaya, telah menyiapkan materi buku dari berbagai mata pelajaran untuk memproduksi buku terbaik.

Irul, Marketing Manager CV. Karya Gendis Pustaka, tidak segan-segan menyewa penulis papan atas untuk meningkatkan kualitas buku. Ia berkolaborasi dengan sosok pria yang sudah puluhan tahun bergelut di bidang buku pelajaran.

“Saya sangat yakin bahwa produksi buku Karya Gendis Pustaka akan banyak diminati di berbagai sekolah,” kata Irul.

Irul, yang sudah mapan di usaha tambak dan peternakan, kini fokus di usaha pengadaan buku bersama Rasmantos. Baginya, manfaat bagi banyak orang menjadi cita-cita.

Chairul Huda, yang menjadi ujung tombak pemasaran buku, tidak segan-segan turun lapangan. Ia yakin bahwa usaha buku yang dirintis bersama Rasmantos sejak tahun 1981 akan mampu meningkatkan kualitas pendidikan.

“Dengan produksi buku yang berkualitas, hasil belajar mengajar juga akan berkualitas,” kata Chairul.

Irul menambahkan bahwa kualitas isi serta kualitas bahan menjadi prioritas utama. “Saya yakin buku kami akan berdaya saing tinggi dalam hal konten,” katanya.

Saat ini, Irul konsentrasi menggarap untuk beberapa kota di Jawa Timur. (Moy)

Editor: Nur Izzati Anwar (Izzat)

Disain & ilustrator: Nur Izzati Anwar (Izzat)

Infantilisme dalam Politik

KEMPALAN: Dalam dunia politik, infantilisme bukan sekadar fenomena psikologis individu, tetapi juga pola perilaku yang mencerminkan ketidakdewasaan dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan.

Infantilisme politik bisa dilihat dalam berbagai bentuk, mulai dari ketidakmampuan menerima kritik, sikap defensif terhadap perbedaan pendapat, hingga kebiasaan mencari kambing hitam alih-alih bertanggung jawab.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di negara berkembang, tetapi juga di negara maju. Larry Diamond, seorang pakar demokrasi dari Stanford University, pernah menyatakan bahwa “demokrasi yang sehat membutuhkan pemimpin yang memiliki kapasitas untuk mendengar, berdialog, dan berkompromi.”

Namun, yang kita saksikan justru banyak pemimpin yang bertindak layaknya anak kecil—mudah tersinggung, enggan menerima kritik, dan lebih mengutamakan ego pribadi daripada kepentingan rakyat.

Politik Kekanak-kanakan

Salah satu bentuk infantilisme politik yang paling mencolok adalah ketidakmampuan menerima perbedaan pendapat. Banyak politisi yang lebih suka menyerang balik lawan politik mereka daripada berdialog dengan rasional.

Daripada menjawab kritik dengan data dan argumentasi yang kuat mereka lebih memilih menggunakan propaganda emosional, membangun narasi yang membingungkan, atau bahkan memainkan peran sebagai korban.

Francis Fukuyama, seorang ilmuwan politik ternama, pernah mengingatkan bahwa demokrasi yang dewasa membutuhkan pemimpin yang mampu berpikir dalam jangka panjang.

Dalam bukunya Political Order and Political Decay, ia menyoroti bagaimana pemimpin yang terlalu emosional dan defensif cenderung merusak institusi demokrasi.

Mereka menciptakan iklim politik yang penuh kebencian dan polarisasi, sehingga masyarakat lebih sibuk berkonflik dibanding mencari solusi bersama.

Di banyak negara, infantilisme politik juga terlihat dalam kebiasaan mencari kambing hitam. Ketika sebuah kebijakan gagal atau suatu permasalahan terjadi, alih-alih mencari solusi, banyak pemimpin justru sibuk menyalahkan pemerintahan sebelumnya, oposisi, atau bahkan rakyat sendiri.

Tindakan ini tidak hanya menunjukkan ketidakdewasaan politik, tetapi juga menghambat pembangunan yang berkelanjutan.

Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Hannah Arendt, filsuf politik asal Jerman, “Tanggung jawab adalah bagian fundamental dari kepemimpinan.

Ketika seorang pemimpin lebih sibuk mencari kambing hitam daripada mencari solusi, maka yang ia lakukan bukanlah memimpin, melainkan melarikan diri dari tugasnya.” Sayangnya, dalam banyak sistem politik modern, sikap ini justru semakin sering terjadi.

Seharusnya Matang, Bukan Emosional

Fenomena infantilisme politik berbahaya karena politik seharusnya dijalankan dengan kedewasaan, bukan dengan emosi sesaat.

Pemimpin yang matang adalah mereka yang mampu mendengarkan kritik, berdebat dengan argumentasi rasional, dan mengambil keputusan berdasarkan kepentingan jangka panjang.

Namun, dalam banyak kasus, kita justru melihat pemimpin yang lebih peduli pada citra diri dibanding kebijakan yang substansial.

Contohnya adalah bagaimana beberapa pemimpin dunia menggunakan media sosial bukan untuk berdiskusi atau menyampaikan gagasan, tetapi untuk menyerang lawan politik mereka secara personal.

Dengan menggunakan pendekatan populis yang penuh emosi, mereka membangun basis massa yang fanatik, tetapi pada saat yang sama, merusak norma-norma demokrasi yang sehat.

Seorang pemimpin yang matang harus mampu menempatkan kepentingan bangsa di atas ego pribadi. Mereka harus memiliki keberanian untuk mengakui kesalahan, bertanggung jawab atas keputusan yang mereka buat, dan mencari jalan keluar yang terbaik bagi rakyat.

Harus Kritis Memilih Pemimpin

Jika infantilisme politik terus merajalela, demokrasi hanya akan menjadi ajang drama tanpa substansi.

Oleh karena itu, masyarakat harus lebih kritis dalam memilih pemimpin—bukan hanya berdasarkan popularitas semata, tetapi juga dari kedewasaan mereka dalam bersikap dan bertindak.

Noam Chomsky, seorang intelektual dan pengamat politik asal Amerika Serikat, pernah mengatakan bahwa “demokrasi tidak akan bertahan lama jika masyarakat tidak memiliki kesadaran politik yang tinggi.”

Artinya, masyarakat harus lebih cerdas dalam menilai pemimpin, tidak hanya melihat janji-janji politik yang manis, tetapi juga bagaimana mereka bertindak dalam menghadapi kritik dan perbedaan pendapat.

Sebagai warga negara, kita harus berani menuntut pemimpin yang dewasa, bukan hanya dari sisi usia, tetapi juga dalam cara berpikir dan bertindak.

Bangsa yang besar membutuhkan pemimpin yang siap bertanggung jawab, bukan yang masih terjebak dalam mentalitas anak-anak.

Infantilisme dalam politik bukan sekadar masalah individu, tetapi juga masalah sistemik yang bisa merusak demokrasi jika tidak dikendalikan.

Pemimpin yang tidak mampu menerima kritik, selalu mencari kambing hitam, dan lebih mementingkan ego pribadi daripada kepentingan rakyat akan membawa negaranya ke dalam krisis yang berkepanjangan.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Larry Diamond, Francis Fukuyama, dan Hannah Arendt, demokrasi hanya bisa berjalan dengan baik jika dipimpin oleh individu yang memiliki kedewasaan politik.

Jika kita ingin masa depan politik yang lebih baik, kita harus mulai dengan memilih pemimpin yang matang, rasional, dan bertanggung jawab. Sebab, hanya dengan pemimpin yang dewasa, demokrasi bisa berkembang dengan sehat dan membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Oleh Bambang Eko Mei

Peneliti Unesa Berkolaborasi dengan UNP Menemukan Hasil Penelitian Terkait Efek Senyawa Fitokimia Teripang yang Berpotensi Menurunkan Kadar Tumor Necrosis Factor-Alpha Setelah Latihan

SURABAYA-KEMPALAN: Latihan anaerobik dengan intensitas tinggi menyebabkan stres metabolik berupa Defisiensi energi dan kerusakan otot yang disebut Exercise Injured Muscle Damage (EIMD). Kerusakan otot yang tidak terkontrol pada fase pemulihan menyebabkan Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS). DOMS disebabkan oleh proses inflamasi karena peningkatan kadar Tumor Necrosis Factor Alpha (TNF-a) sebagai respon kerusakan otot. 

Penatalaksanaan DOMS pasca latihan menggunakan modalitas farmakologi, diperkirakan 30 juta orang di seluruh dunia yang mengonsumsi obat anti inflamasi non steroid. Hal ini tentunya akan berdampak bagi kesehatan dan pertumbuhan otot. 

Salah satu produk alami yang dapat digunakan, dengan potensi efek anti-inflamasi adalah sea cucumber. Sea Cucumber merupakan hewan invertebrate yang termasuk ke dalam phylum Echinodermata. Spesies ini kaya akan senyawa bioaktif yang memiliki berbagai sifat biologis dan farmakologis seperti efek antioksidan, penyembuhan luka, antikoagulan, anti-kanker, anti tumor, antibakteri, anti-inflamasi, memperbaiki hiperlipidemia, dan mengatur gula darah. Adapun senyawa bioaktif yang terkandung pada teripang antara lain saponin, fenolik, protein (peptides), karotenoid, dan lipid. 

tim peneliti Unesa dan UNP sedang melakukan giat penelitian

Sebuah penelitian eksperimental dengan rancangan pre and post control group design melibatkan 18 pria dewasa sehat yang dipilih secara acak dengan rentang IMT 19.00-24.00, usia berkisar 20-25 tahun. Sampel terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok 1 (K1) sebagai kelompok perlakuan dan kelompok 2 (K2) sebagai kelompok kontrol. Subjek melakukan latihan dengan intensitas tinggi berkisar 80-90% dari kemampuan maksimal, dilakukan 4 set, 10 repetisi dan pemulihan antar set kurang lebih 60 detik. 24 jam setelah latihan anaerobik, diambil sampel darah pre-test, kemudian diberikan intervensi kepada subjek. Intervensi diberikan sesuai kelompok pada waktu yang bersamaan. Suplementasi Teripang diberikan dengan dosis  500 mg. 24 jam setelah intervensi dilakukan pengambilan kembali sampel darah post-test yang nantinya akan dianalisis di laboratorium.

Penelian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Komite Etik Politeknik Kesehatan Malang dengan nomor registrasi DP.04.03/F.XXI.31/0492/2024.

Hasil penelitian ini melaporkan bahwa suplementasi teripang dengan dosis 500 mg setelah latihan maksimal terbukti signifikan mengurangi kadar TNF-α sebagai biomarker inflamasi. Keterbatasan penelitian ini adalah jumlah sampel yang sedikit dan waktu intervensi yang singkat sehingga penelitian selanjutnya dapat dilakukan dapat meningkatkan jumlah sampel dan jenis intervensi untuk mengetahui efek kronis yang ditimbulkan saat berolahraga dan antioksidan dari teripang.

Penelitian ini merupakan hasil dari Penelitian Riset Kolaborasi Indonesia antar LPTK. Universitas Negeri Surabaya berkolaborasi dengan Universitas Negeri Padang dalam melakukan penelitian ini. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Universitas Negeri Surabaya yang telah mendanai penelitian ini dengan nomor kontrak B/43883/UN38.III.1/LK.04.00/2024.(*)

Penulis dan Peneliti

Dr. Novadri Ayubi, S.Or. M.Kes.

Dr. Sri Gusti Handayani, M.Pd.

Dr. Afifan Yulfadinata, M.Pd.

Prof. Dr. Anton Komaini, S.Si., M.Pd.

Junian Cahyanto Wibawa, M.Kes.

PP FOPI : Pengprov FOPI Jatim Bisa Jadi Pilot Projeck Pembinaan dan Menejemen Petanque di Indonesia 

SURABAYA-KEMPALAN : Pengurus Pengprov Federasi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI Jatim) periode 2025-2029 resmi dilantik oleh Pengurus Pusat (PP) Federasi Olahraga Petanque Indonesian (FOPI) di Aula FIKK Unesa kampus 2 Lidah Wetan Surabaya, Rabu (26/2/2025). Kepengurusan yang di pimpin rektor IV bidang kerjasama dan perencanaan Prof.Dr. Dwi Cahyo Kartiko S.Pd,.M. Kes. Jumlahnya tidak terlalu gemuk efisiensi kepengurusan.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Federasi Olahraga Petanque Indonesia (PB FOPI), I Nyoman Yamadhiputra berharap Pengprov FOPI Jatim tidak hanya bisa memberi contoh tapi  FOPI Jatim bisa menjadi contoh bagi FOPI daerah lain dalam membangun dan mengembangkan olahraga petanque di Indonesia.

“Berbagai program yang dijalankan FOPI Jatim sebelumnya telah memberikan dampak positif bagi provinsi lain, sehingga bisa membantu pengurus provinsi lainnya,” harap I Nyoman Yamadhiputra di sela-sela pelantikan pengurus Pengprov FOPI Jatim, di aula FIKK Unesa , Rabu (26/2/2025).

Ia optimistis kepengurusan FOPI Jatim saat ini yang ramping dan bergerak cepat juga akan menginspirasi daerah lain, sehingga istilah dari Jatim untuk Indonesia itu akan terwujud.

Sementara itu, Ketua Umum Pengprov FOPI Jatim Dwi Cahyo Kartiko menegaskan jika kepengurusan saat ini memiliki struktur yang ramping, hanya terdiri dari 20 orang. Meski tidak banyak, namun menjadi keunggulan tersendiri karena memudahkan koordinasi dan mempercepat pengambilan keputusan.

“Pengurus yang ramping membuat kami lebih terkontrol. Kalau gemuk, justru membuat kesulitan. Dengan begini kami bertekad bisa membawa prestasi lebih. Di PON kemarin, Jatim mendapatkan 2 emas dan 5 perak, luar biasa, ” kata wakil rektor IV Unesa. 

Ketua umum Pengprov FOPI Jatim Prof. Dr. Dwi Cahyo Kartiko S. Pd., M. Kes

Ia juga menambahkan jika FOPI Jatim membentuk divisi Badan Tim Daerah (BTD) yang akan memantau dan menentukan pelatih serta atlet perwakilan Jatim di PON mendatang.

Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor IV Unesa itu, berharap dengan adanya BTD mampu menciptakan regenerasi atlet dan pelatih berkualitas melalui indikator penilaian yang transparan, termasuk aspek kepemimpinan dan peran sebagai role model.

“Semua indikator akan terbuka dan diumumkan kepada seluruh pengurus di Jawa Timur,” tuturnya.

Tak hanya itu, FOPI Jatim juga sudah memamerkan Jersey khusus atlet petanque Jatim yang akan dikenakan saat bertanding. Dua jersey berwarna hijau dan kuning itu mendapat pujian dari Ketua Koni Jatim, M Nabil yang hadir saat acara pelantikan.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

SUSUNAN PENGURUSFEDERASI OLAHRAGA PETANQUE INDONESIA (FOPI) PROVINSI JAWA TIMURMASA BAKTI 2024-2028

I Pelindung : 

1. Gubernur Provinsi Jawa Timur 

2. Wakil Gubernur Prov. Jawa Timur

II.Dewan Pembina/Penasehat:

1. Ketua Umum KONI Provinsi Jawa Timur

2. Kadisporapar Provinsi Jawa Timur

3. Ketua DPRD Prov. Jawa Timur

4. Rektor Universitas Negeri Surabaya

5. Rektor Universitas Negeri Malang

6. Rektor PGRI Nusantara Kediri

7. Rektor Universitas Kanjuruhan Malang

8. Rektor STKIP Wiraraja Sumenep

III.Dewan Kehormatan

1. Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes

2. Prof. Dr. Nurkholis,M.Pdt

IV.Pengurus

1. Ketua Umum : Prof.Dr. Dwi Cahyo Kartiko, S.Pd,. M.Kes

2. Wakil Ketua I (Organisasi) : Prof. Dr. Or. Gigih Siantoro,M.Pd

3. Wakil Ketua II (Kompetisi& 

Prestasi) : Dr. Abdian Asgi Sukmana, M.Or

4. Wakil Ketua III (Pengembangan 

SDM) : Kholili, S.Pd, M.Pd

5. Sekretaris Umum : : Dr. Abdul Hafidz,M.Pd

6. Sekretaris I : Bayu Budi Prakoso, S.Pd.,M.Pd

7. Sekretaris II: Oky Ristanto, S.Pd.,M.Kes.

8.Bendahara Umum: Amin Fauzi, S.Pd.,M.Pd

9. Wakil Bendahara Umum : Umi Salmami, S.Pd.,M.Si

V. Bidang-bidang

1. Bidang Organisasi 

Ketua : Drs. Yusdi Martinus

Anggota : Fery Ahmad Ardiansyah, S.Pd.,M.Pd

2. Bidang Tim Daerah (BTD)

: Nanang Agustri Arisandy, S.Pd

3. Bidang Kompetisi dan prestasi

Ketua : Nur Salsabila Pandhada Putra,S.Pd.,M.Sc

Anggota :Rendy Eko Cahyono, S.Pd.

4. Bidang Legal, Etik, Dan Disiplin: Arinto Nugroho, SH.,MH

5. Bidang Marketing, Usaha, Media

Ketua : Yusuf Wibisono

Anggota : 

1. Dr. M. Purnomo, M.Kes

2. Abdur Rohman S.Pd.

Surabaya, Banyuwangi dan Probolinggo Bersaing Jadi Tuan Rumah Porprov Jatim X 2027 

SURABAYA-KEMPALAN: Pada Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) KONI Jawa Timur yang berlangsung di Surabaya pada Selasa, 25 Februari 2025, tiga daerah resmi mengajukan diri sebagai calon tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim X 2027. Ketiga daerah tersebut adalah Kota Surabaya, Kabupaten Banyuwangi, dan Kota Probolinggo.

Selain mengajukan diri, ketiga daerah tersebut juga menyampaikan pemaparan terkait kesiapan masing-masing dalam menyelenggarakan event bergengsi ini. 

Mereka memaparkan mulai dari kesiapan venue, sarana dan prasarana (sarpras), hingga fasilitas pendukung yang akan disiapkan untuk mendukung suksesnya pelaksanaan Porprov 2027.

Ketua KONI Jawa Timur, M Nabil, mengungkapkan bahwa pengajuan tersebut telah diterima dan selanjutnya akan dipelajari lebih lanjut oleh tim dari KONI Jatim. Nabil menjelaskan bahwa proses verifikasi akan meliputi persyaratan administratif dan lapangan, termasuk kesiapan sarana prasarana serta kapasitas wilayah yang dapat menampung peserta dan penonton.

“Setelah peninjauan, hasilnya akan disampaikan kepada Gubernur Jawa Timur untuk diputuskan siapa yang akan menjadi tuan rumah Porprov Jatim X 2027,” ujar M Nabil, Rabu 26 Februari 2025. “Kami akan memberikan rekomendasi berdasar verifikasi tim kepada Ibu Gubernur Khofifah Indar Parawansa untuk keputusan akhir.”

Di sisi lain, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kota Surabaya, Hidayat Syah, mengungkapkan tekad Kota Surabaya untuk menjadi tuan rumah Porprov Jatim X 2027. Meski Surabaya pernah menjadi tempat penyelenggaraan Porprov pertama pada 2007, Hidayat menegaskan bahwa ini adalah kesempatan pertama Kota Surabaya untuk menjadi tuan rumah event dua tahunan ini secara penuh.

“Surabaya siap dengan fasilitas venue, transportasi, dan akomodasi yang memadai. Selain itu, kami akan menyiapkan venue tambahan untuk olahraga motor cross, bridge, dan e-sports,” jelas Hidayat. 

Ia juga menyampaikan optimisme Surabaya dalam mencari solusi jika ada cabang olahraga tertentu yang belum dapat difasilitasi, seperti ski air, yang bisa dilakukan dengan kerja sama dengan daerah lain.

Sementara itu, perwakilan dari Banyuwangi dan Kota Probolinggo juga menyampaikan niat mereka untuk menjadi tuan rumah, meskipun sejauh ini pengajuan mereka baru disampaikan oleh KONI setempat dan bukan oleh pemerintah daerah.

Dengan adanya tiga daerah yang mengajukan diri, Porprov Jatim X 2027 diperkirakan akan menjadi ajang yang lebih meriah dan kompetitif. 

Keputusan akhir mengenai siapa yang akan menjadi tuan rumah Porprov Jatim X 2027 akan diumumkan setelah verifikasi selesai dilakukan.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

Khofifah: Jawa Timur Siap Laksanakan Ground Check DTSEN

MAGELANG-KEMPALAN: Pemprov Jawa Timur (Jatim) siap mengimplementasikan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2025 tentang Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Hal ini ditegaskan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa di sela-sela mengikuti kegiatan retreat di Akmil Magelang, Jawa Tengah, Rabu (26/2).

Menurut Khofifah,  seluruh jajaran di Jatim siap menjalankan arahan Menteri Sosial RI terkait pelaksanaan ground check pemutakhiran DTSEN secara profesional dan akurat.

“Jawa Timur berkomitmen memastikan pemutakhiran DTSEN berjalan optimal. Seluruh pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Jatim, sebanyak 5.219 orang, akan mengikuti pelatihan dan terlibat langsung dalam ground check. Pembagian wilayah dilakukan secara profesional sesuai domisili SDM PKH untuk memastikan validitas data dan menjaga kondusivitas di lapangan,” kata Khofifah.
P
Sebagai basis data induk yang menggantikan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), DTSEN akan menjadi rujukan utama dalam penyaluran bantuan sosial dan berbagai program pembangunan ekonomi di Indonesia. Karena itu, Khofifah menekankan pentingnya komunikasi aktif antara Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Sosial (Kemensos), Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi dan Kabupaten/Kota, serta seluruh instansi terkait demi kelancaran ground check dan pemutakhiran data.

Sebagai informasi, Menteri Sosial Saifullah Yusuf dalam acara Pelatihan Ground Checking DTSEN yang dihadiri BPS se-Jawa Timur dan seluruh Dinsos Provinsi dan Kabupaten/Kota, menegaskan bahwa DTSEN hadir sebagai solusi atas permasalahan data sosial yang selama ini dianggap tidak sepenuhnya akurat.

“DTSEN sebagai data induk baru mencakup seluruh penduduk Indonesia, dari lapisan terbawah hingga teratas. Dengan sistem pemeringkatan dan data yang lebih lengkap, DTSEN akan menjadi rujukan utama bagi seluruh program sosial dan ekonomi pemerintah,” kata Gus Ipul.

Sementara itu, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan bahwa per 3 Februari 2025, jumlah DTSEN telah sesuai dengan jumlah penduduk Indonesia, yakni 285.579.122 penduduk, termasuk 93.025.360 keluarga.

“BPS berkomitmen mendukung pemutakhiran DTSEN dengan menurunkan operator untuk melakukan ground check secara menyeluruh. Kami juga akan memberikan pelatihan bagi pendamping PKH, melakukan monitoring, serta pemeringkatan data secara berkala untuk memastikan DTSEN selalu akurat dan up-to-date,” jelasnya.

Untuk memastikan validitas data, pemutakhiran DTSEN melibatkan berbagai sumber, termasuk Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek), Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE), DTKS, dan Data Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil). Data dari BPJS Kesehatan, Pertamina, dan PLN juga turut berkontribusi dalam penyempurnaan DTSEN.

Khofifah menekankan bahwa Pemprov Jatim akan terus melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap pelaksanaan ground check. Selain itu, mekanisme usulan dan sanggahan melalui musyawarah desa/kelurahan (musdes/muskel) akan diperkuat dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.

“Kami di Jawa Timur siap bekerja keras untuk memastikan implementasi DTSEN berjalan lancar. Dengan kerja sama yang solid antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat, DTSEN diharapkan dapat menjadi fondasi kuat bagi kebijakan sosial-ekonomi yang lebih tepat sasaran,” tandasnya. (Dwi Arifin)

Gubernur Khofifah : Jawa Timur Siap Laksanakan Ground Check DTSEN, Pastikan Data Akurat dan Kredibel

Magelang– Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyatakan kesiapan penuh dalam implementasi Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2025 tentang Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa seluruh jajaran di Jatim siap menjalankan arahan Menteri Sosial RI terkait pelaksanaan ground check pemutakhiran DTSEN secara profesional dan akurat.

“Jawa Timur berkomitmen memastikan pemutakhiran DTSEN berjalan optimal. Seluruh pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Jatim, sebanyak 5.219 orang, akan mengikuti pelatihan dan terlibat langsung dalam ground check. Pembagian wilayah dilakukan secara profesional sesuai domisili SDM PKH untuk memastikan validitas data dan menjaga kondusivitas di lapangan,” ujar Khofifah Indar Parawansa dalam keterangannya disela-sela pelaksanaan retreat di Akademi Militer Magelang, Jawa Tengah, Rabu (26/2/2024).

Sebagai basis data induk yang menggantikan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), DTSEN akan menjadi rujukan utama dalam penyaluran bantuan sosial dan berbagai program pembangunan ekonomi di Indonesia. Oleh karena itu, Gubernur Khofifah menekankan pentingnya komunikasi aktif antara Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Sosial, Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi dan Kabupaten/Kota, serta seluruh instansi terkait demi kelancaran ground check dan pemutakhiran data.

Sebagai informasi, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, dalam acara Pelatihan Ground Checking DTSEN yang dihadiri BPS se-Jawa Timur dan seluruh Dinsos Provinsi dan Kabupaten/Kota, menegaskan bahwa DTSEN hadir sebagai solusi atas permasalahan data sosial yang selama ini dianggap tidak sepenuhnya akurat.

“DTSEN sebagai data induk baru mencakup seluruh penduduk Indonesia, dari lapisan terbawah hingga teratas. Dengan sistem pemeringkatan dan data yang lebih lengkap, DTSEN akan menjadi rujukan utama bagi seluruh program sosial dan ekonomi pemerintah,” ujar Gus Ipul.

Sementara itu, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan bahwa per 3 Februari 2025, jumlah DTSEN telah sesuai dengan jumlah penduduk Indonesia, yakni 285.579.122 penduduk, termasuk 93.025.360 keluarga.

“BPS berkomitmen mendukung pemutakhiran DTSEN dengan menurunkan operator untuk melakukan ground check secara menyeluruh. Kami juga akan memberikan pelatihan bagi pendamping PKH, melakukan monitoring, serta pemeringkatan data secara berkala untuk memastikan DTSEN selalu akurat dan up-to-date,” jelasnya.

Untuk memastikan validitas data, pemutakhiran DTSEN melibatkan berbagai sumber, termasuk Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek), Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE), DTKS, dan Data Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil). Data dari BPJS Kesehatan, Pertamina, dan PLN juga turut berkontribusi dalam penyempurnaan DTSEN.

Gubernur Khofifah menekankan bahwa Pemprov Jatim akan terus melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap pelaksanaan ground check. Selain itu, mekanisme usulan dan sanggahan melalui musyawarah desa/kelurahan (musdes/muskel) akan diperkuat dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.

“Kami di Jawa Timur siap bekerja keras untuk memastikan implementasi DTSEN berjalan lancar. Dengan kerja sama yang solid antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat, DTSEN diharapkan dapat menjadi fondasi kuat bagi kebijakan sosial-ekonomi yang lebih tepat sasaran,” pungkasnya.

Kasus Sukatani: Buruk Muka Polisi, Cermin Dibelah

KEMPALAN: Di negeri ini, hukum seringkali bukan panglima melainkan ilusi lentur di tangan yang berkuasa. Dalam pusaran kekuasaan, institusi kepolisian menjadi aktor yang selalu ingin menang sendiri, menciptakan lanskap hukum yang timpang, tajam ke bawah tumpul ke atas.

Kasus Sukatani, band street punk asal Purbalingga menjadi cermin buram betapa kebebasan berekspresi di bidang seni terus mendapat tekanan. Album mereka “Bayar Bayar Bayar” yang secara terang-terangan mengkritik praktik korupsi di tubuh kepolisian menjadi pemantik api yang akhirnya membakar diri sendiri. Sukatani digelandang ke kantor polisi, dipaksa meminta maaf, lalu direkam dalam sebuah video. Kesan intimidasi begitu kuat terbaca. Ini bukan sekadar intervensi, ini adalah pembungkaman.

Meski Sukatani bisa kembali tampil menyapa penggemarnya namun grup street punk ini tidak berani lagi menyajikan lagu Bayar Bayar Bayar yang sedang trending. Why? Ditengarai ada trauma yang dialami oleh Muhammad Syifa Al Ufti alias Electroguy (gitaris) dan Novi Chitra Indriyaki alias Twistter Angels (vokalis), yang menjadi pilar grup punk asal Kota Purbalingga tersebut.

Menanggapi sikap kepolisian terhadap Sukatani, Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) menilai bahwa lagu tersebut bukan tindak pidana dan tidak bisa dianggap sebagai penghinaan terhadap polisi.

Band punk, dari generasi ke generasi, selalu menjadi corong kritik sosial. Dari The Clash hingga Sex Pistols di Barat, dari Bongkar Iwan Fals hingga Hio Sawung Jabo di Indonesia, musik telah menjadi medium bagi mereka yang suaranya kerap diabaikan. Namun di tangan aparat yang alergi kritik, kebebasan bermusik bisa menjadi jerat yang menyesakkan.

TEBANG PILIH

Ketika Sukatani bersuara polisi bereaksi dengan sigap. Tetapi di mana keberanian yang sama ketika kritik dialamatkan kepada institusi lain? Ketika Presiden Prabowo maupun Presiden Jokowi dihina habis-habisan oleh Rocky Gerung dan Faizal Assegaf ketika narasi liar ditebarkan oleh para provokator politik seperti Refly Harun, Ray Rangkuti, Abraham Samad, kepolisian justru memilih diam. Kemana ketegasan yang digembar-gemborkan? Kenapa hukum bisa begitu selektif?

Ada adagium yang mengingatkan kita, “Jika ingin selamat, hindari empat urusan, yaitu jangan sampai berurusan dengan polisi, pengadilan, rumah sakit maupun wartawan bodrek.” Adagium ini bukan sekadar lelucon kacangan melainkan refleksi dari pengalaman riil masyarakat.

Bertemu polisi bukan soal mencari keadilan tetapi soal seberapa tebal isi dompetmu. Hampir 90% dari mereka yang berurusan dengan kepolisian tau bahwa hukum bisa dinegosiasikan, asal ada pelumasnya. Testimoni tersebut diperoleh dari pelaku judi online maupun narkoba.

Lihatlah betapa ironi merajalela. Saat mengurus SIM diwajibkan tes psikologi dan tes kesehatan, ternyata hanya formalitas kosong yang tak lebih dari upaya pemerasan sistemik. Spanduk besar bertuliskan “No Korupsi” terpampang di setiap sudut kantor polisi, tetapi realita di dalamnya justru penuh transaksi kotor. Ini bukan hanya wajah buruk institusi, ini adalah borok yang terus dibiarkan bernanah.

DIBISUKAN

Kasus Sukatani harus menjadi momentum untuk bertanya ulang, apakah kepolisian benar-benar menjalankan tugasnya sebagai pelindung rakyat atau justru sebagai alat represif bagi mereka yang berani mengkritik? Jika aparat memiliki taji, tunjukkan keberanian yang sama terhadap semua pihak bukan hanya kepada sekelompok anak punk yang bersuara lantang.

Mereka yang bersuara adalah mereka yang masih peduli. Namun di negeri ini, keberanian berbicara malah bisa berujung pada represi. Polisi yang seharusnya menjadi cermin keadilan kini memilih membelah cermin itu agar kebusukan wajahmya tidak tampak.

Indonesia butuh kedewasaan berdemokrasi bukan demokrasi yang dibatasi oleh ketakutan. Suara rakyat tak bisa dibungkam. Jika Sukatani telah dibisukan maka akan ada suara lain bermunculan, lebih keras, lebih nyaring, lebih mengguncang!!

Rokimdakas
Wartawan & Penulis
26 Februari 2025

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.