Kamis, 21 Mei 2026, pukul : 23:43 WIB
Surabaya
--°C

Paradoks, Pangan Melimpah tapi Rakyat Gelisah

KEMPALAN: Di sebuah desa yang tenang dan asri, di wilayah Sumbawa besar NTB. Kami berbincang dengan seorang sahabat wartawan senior , yang cukup dikenal dikalangan para pejabat tinggi baik tingkat propinsi atau kepala daerah wilayah NTB, beliau telah pensiun dari gemuruh berita kini menghabiskan waktunya bersama masyarakat desa. Ia tak lagi mengejar nara sumber atau menulis laporan kilat, tapi justru menjadi saksi diam dari realitas sosial yang berkembang di sekitarnya.

Dari mulut ke mulut, ia mendengar cerita para tetangga, sahabat, bahkan anak-anak muda yang tengah mencari arah dalam hidup. Narasi yang muncul nyaris senada: sulitnya bertahan dalam himpitan ekonomi.

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terjadi hampir di tiap sektor informal maupun formal, dan banyak pelaku usaha kecil maupun menengah mulai menggulung tikar karena tidak mampu menghadapi tekanan biaya produksi dan menurunnya daya beli masyarakat.

Ironisnya, di saat masyarakat mengeluhkan kenyataan hidup yang semakin keras, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto justru merilis kabar gembira bahwa Indonesia, saat kini memiliki cadangan pangan terbesar dalam sejarah republik ini.

Klaim ini dikemas dalam jargon pidato keberhasilan menuju swasembada dan kedaulatan pangan nasional.

Program pembangunan lumbung pangan (food estate) digadang-gadang sebagai lompatan strategis, dan berbagai kementerian bersahut-sahutan menyatakan kesiapan stok beras, jagung, hingga gula dalam jumlah yang mencengangkan.

Dua narasi besar ini menjadi dikotomi antara kesulitan ekonomi di tingkat akar rumput dan keberhasilan pemerintah dalam menjaga pasokan pangan—berjalan dalam rel yang terpisah.

Maka pertanyaannya menjadi semakin tajam, benarkah Indonesia tengah menuju swasembada pangan yang ideal, ataukah narasi tersebut hanya membentuk ilusi keberhasilan yang tak menyentuh substansi persoalan masyarakat?

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada triwulan pertama tahun 2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia stagnan di angka 4,9%, turun dari capaian kuartal sebelumnya sebesar 5,1%.

Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh lesunya konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi motor penggerak utama pertumbuhan nasional.

Sektor manufaktur, khususnya tekstil dan elektronik, mengalami kontraksi hingga 6%, mengindikasikan penurunan produksi akibat lemahnya permintaan domestik maupun ekspor.

Dalam konteks ketenagakerjaan, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sekitar 600 ribu kasus PHK terjadi sepanjang semester pertama 2025. Penyebab utamanya adalah efisiensi perusahaan dalam menghadapi beban produksi yang tinggi serta lemahnya likuiditas akibat minimnya subsidi dan insentif dari negara.

Beberapa sektor industri strategis bahkan mulai mengurangi operasionalnya karena biaya logistik yang belum membaik serta naiknya harga energi pasca penyesuaian tarif listrik dan BBM nonsubsidi.

Di sisi lain, laporan Kementerian Pertanian justru menyebut bahwa cadangan beras nasional per Juni 2025 mencapai 3,5 juta ton, sementara stok jagung menembus angka 2,1 juta ton.

Pemerintah juga mencatat keberhasilan menurunkan angka impor beras hingga 80% dibandingkan tahun 2023. Namun, fakta ini tidak otomatis berarti kesejahteraan bagi para petani atau konsumen.

Harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani tetap rendah, sekitar Rp4.200 per kilogram, jauh dari harga ideal yang mampu menutup ongkos produksi yang terus melonjak.

Akibatnya, petani justru banyak yang menjual lahan atau beralih profesi karena tak lagi mampu menghidupi keluarga dari sawahnya sendiri.

Prof. Dr. Iqbal Kurniawan, pakar ekonomi pertanian dari IPB University, menyoroti kondisi ini sebagai bentuk dikotomi antara “sukses makro” dan “derita mikro”.

Dalam sebuah wawancara ia menyebutkan, “Kita bisa memiliki stok pangan melimpah, tapi jika distribusi dan tata niaganya buruk, maka manfaatnya tidak terasa oleh masyarakat. Swasembada itu bukan sekadar soal ketersediaan, tapi juga soal keterjangkauan dan keadilan harga di tingkat produsen dan konsumen.”

Ia menambahkan bahwa pemerintah sering terjebak dalam pendekatan statistik dan lupa melihat wajah konkret rakyat di lapangan yang sedang berjuang bertahan hidup.

Kemungkinan besar, kondisi paradoks ini muncul dari dua faktor utama: pertama, dampak ekonomi global yang masih belum pulih sepenuhnya pasca ketegangan geopolitik dan krisis energi internasional.

Kedua, kebijakan efisiensi pemerintah yang terlalu menekankan rasionalisasi anggaran tanpa mempertimbangkan aspek kerentanan sosial.

Misalnya, pemotongan subsidi energi dan pembatasan kredit usaha rakyat memang menghemat anggaran negara, namun sekaligus memukul sektor usaha kecil yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi lokal.

Pemerintahan Prabowo tampaknya lebih fokus pada pembangunan proyek strategis berskala besar—termasuk infrastruktur pangan dan pertahanan—namun kurang memberi perhatian pada program-program padat karya, bantuan sosial adaptif, atau insentif langsung bagi UMKM.

Dalam jangka panjang, pendekatan ini bisa menciptakan jurang sosial yang semakin dalam antara narasi kemajuan negara dan kenyataan hidup warganya.

Solusi dari persoalan ini tentu tidak bisa hanya dengan menambah cadangan pangan atau menurunkan angka impor.

Pemerintah perlu melakukan pembenahan dalam rantai distribusi dan sistem tata niaga agar stok pangan yang tersedia benar-benar sampai ke tangan masyarakat dengan harga yang wajar.

Di saat bersamaan, kebijakan stimulus ekonomi yang menyasar sektor informal dan UMKM harus segera diluncurkan, agar rakyat kecil tidak hanya menjadi penonton dalam agenda besar pembangunan nasional.

Di tengah dikotomi realitas ini, suara wartawan tua sahabat saya itu kembali relevan.

Ia tidak sedang menyampaikan breaking news, tapi menyuarakan keresahan diam masyarakat yang makin terpinggirkan dalam euforia pencapaian negara.

Sebuah suara yang seharusnya didengar oleh mereka yang sedang berkuasa—karena di balik klaim swasembada, ada ribuan suara lirih yang bertanya: “Kami kenyang karena data, tapi apakah perut kami sudah benar-benar terisi?” ()

Oleh: Bambang Eko Mei

Tawaran Beasiswa LPDP-King’s College London, Pendaftaran Mulai 1 Juli 2025

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

SURABAYA-KEMPALAN: Upaya Pemprov Jawa Timur  berhasil memperjuangkan beasiswa LPDP untuk kuliah di King’s College London di KEK Singhasari Malang. Beasiswa LPDP KCL KEK Singhasari tersebut sudah mulai bisa diakses masyarakat dengan membuka pendaftaran pada tanggal 1-24 Juli 2025.

Hal itu disampaikan Gubernur Khofifah saat menggelar Sosialisasi Beasiswa LPDP Program Pascasarjana KCL – KEK Singhasari yang diadakan di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (30/6) malam.

Gubernur  Khofifah menuturkan, kerja sama eksklusif antara LPDP dan King’s College London merupakan langkah strategis untuk menyiapkan talenta digital unggul di Jatim.

Menurutnya, program beasiswa pascasarjana ini menjadi peluang emas yang harus dimanfaatkan secara optimal, terutama oleh generasi muda yang memiliki minat di bidang digital economy dan digital future.

“Ini adalah peluang emas. Jatim memiliki banyak talenta muda dengan potensi akademik luar biasa. Kerja sama eksklusif antara LPDP dan King’s College London adalah langkah strategis dalam mencetak pemimpin dan ilmuwan masa depan,” kata Khofifah.

“Untuk itu masyarakat Jatim jangan sia-siakan kesempatan ini. Yang memiliki kemampuan dan minat untuk kuliah di KCL kini sudah bisa dimanfaatkan dengan beasiswa LPDP, maka ayo segera mendaftar,” tegasnya.

Kerjasama beasiswa ini tidak sekadar menjadi instrumen pendidikan, melainkan investasi jangka panjang khususnya dalam peningkatan SDM memiliki kompetensi di bidang digital economies dan digital futures.

“Kita butuh digital talent yang tidak hanya cakap teknologi, tapi bagaimana kemudian kita ini bisa menyiapkan SDM yang bisa memenuhi kebutuhan maksimalisasi dari industri manufaktur yang sudah kita capai,” ucapnya.

Lebih lanjut ia tegaskan, Jatim siap menjadi lumbung sumber daya manusia unggul yang mampu mengisi kebutuhan global di sektor digital. Terlebih lagi King’s College London (KCL) merupakan universitas riset terkemuka di Inggris yang saat ini masuk jajaran Top 31 kampus terbaik dunia berdasarkan QS World University Rankings.

Oleh karenanya, kolaborasi strategis antara KCL, KEK Singhasari dan LPDP, mempercepat peningkatan kualitas SDM di Jatim khususnya pada bidang digital futures dan digital economies.

“KEK Singosari adalah titik temu antara kampus global, industri, dan talenta lokal. Ini selaras dengan misi besar Pemprov Jatim dalam memperkuat daya saing sumber daya manusia,” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, Khofifah menegaskan pentingnya sinergi antara Pemprov Jatim dan perguruan tinggi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, terutama di tengah dinamika ekonomi global.

“Ini adalah pertemuan pertama antara Pemprov Jatim bersama pimpinan perguruan tinggi, termasuk para rektor dan dekan FEB. Sosialisai ini menjadi starting point bagi kolaborasi strategis, khususnya dalam melahirkan rekomendasi-rekomendasi penting dalam mendukung pertumbuhan dan peningkatan serta pemerataan  ekonomi Jawa Timur,” katanya.

Ia berharap pertemuan ini akan membuka ruang dialog berkelanjutan dengan perguruan tinggi, terutama dalam menggali pemikiran-pemikiran strategis yang mendukung arah pembangunan ekonomi Jatim menuju Gerbang Baru Nusantara.

“InsyaAllah, ini akan menjadi awal dari penguatan peran perguruan tinggi dalam mendukung program-program prioritas Pemprov Jatim. Ke depan, kami ingin pemikiran para akademisi makin  memperkuat arah kebijakan pembangunan di Jatim,” harapnya.

Sementara Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak menyampaikan, pembukaan beasiswa LPDP KCL di KEK Singosari akan mulai dibuka pada 1-24 Juli 2025.

Oleh karenanya ia mengajak seluruh masyarakat Jatim untuk berlomba-lomba mempersiapkan diri mendaftar beasiswa tersebut.

“Sampai tanggal 24 Juli, pastikan yang sudah punya kapasitas IELTS 6,5 dan IBT 92 bisa segera mendaftar. Yang belum, segera dipersiapkan semuanya. Karena ini peluang, untuk melanjutkan study di universitas ranking 31 di dunia,” katanya. (Dwi Arifin)

Jam Malam Anak di Surabaya Mulai 3 Juli 2025, Orang Tua Diminta Terlibat Aktif

Wali Kota Surabaya Eri Wahyudi.

SURABAYA-KEMPALAN: Pemkot Surabaya akan memberlakukan sweeping jam malam bagi anak-anak yang masih berada di luar rumah setelah pukul 22.00 WIB. Kebijakan ini akan diterapkan di sejumlah ruang terbuka publik Kota Surabaya mulai Kamis (3/7).

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyampaikan bahwa langkah ini diambil untuk melindungi anak-anak dari potensi risiko negatif ketika berkegiatan di luar rumah tanpa pengawasan orang tua. Untuk mendukung kebijakan ini, pemkot membentuk Satuan Tugas (Satgas) di setiap Rukun Warga (RW).

“Jam malam kita membentuk Satgas. Satgas itu nanti akan terbentuk di setiap RW, kita buatkan SK yang masing-masing nanti per RW. Setelah itu siap maka kita akan turun di Kamis (3/7) malam,” ujar Wali Kota Eri Cahyadi, Selasa (1/7).

Wali Kota Eri menegaskan, sweeping akan difokuskan pada anak-anak yang tidak sedang menjalani kegiatan pembelajaran atau kegiatan positif lainnya. Ia menyebutkan bahwa anak yang berada di tempat belajar atau kegiatan yang diketahui orang tuanya tidak akan dikenai sanksi.

“Kalau anaknya sedang belajar, silakan. Orang tuanya bisa telepon, benar tidak anaknya di situ. Tapi kalau ada yang boncengan bertiga, laki-laki dan perempuan tidak pakai helm, dan yang perempuan duduk di tengah, itu yang kami tertibkan,” tegasnya.

“Atau ada anak yang pacaran di taman malam-malam, itu orang tuanya tahu atau tidak? Itu yang akan kami amankan dan kami antar ke orang tuanya,” imbuhnya.

Menurutnya, penegakan aturan ini merupakan bagian dari upaya kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, sekolah dan keluarga. Ia kembali menegaskan bahwa membangun Kota Surabaya dilakukan secara gotong royong dengan semangat budaya Arek Suroboyo.

“Jadi ini membangunnya berbarengan, tidak sendiri-sendiri. Karena Surabaya ini dibangun dengan budaya Arek Suroboyo,” tuturnya.

Wali Kota Eri juga menyatakan, tidak akan ada sanksi administratif bagi anak yang terjaring sweeping. Sebaliknya, mereka yang terjaring akan langsung diserahkan kepada orang tua atau Satgas di lingkungan RW setempat untuk mendapatkan pembinaan.

“Kita kasih ke orang tuanya. Karena tidak bisa pemerintah melakukan sendiri. Jadi perubahan-perubahan budaya itu dilakukan bersama orang tua, sekolah, lingkungan dan pemerintah,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa kebijakan ini bukanlah program jangka pendek, melainkan bagian dari gerakan jangka panjang untuk membentuk karakter anak sejak dini. Oleh karena itu, Pemkot Surabaya akan melibatkan lembaga swadaya masyarakat (LSM), komunitas, dan tokoh agama.

“Bukan untuk hari ini selesai. Tapi bagaimana kita semua melibatkan LSM, komunitas, tokoh agama, untuk mengubah ini. Jadi sejak kecil (usia dini) sudah diubah,” tuturnya.

Karena itu, Wali Kota Eri kembali mengimbau para orang tua untuk aktif mengajak anak-anak mereka melakukan kegiatan yang bermanfaat. “Agar ke depannya mereka memiliki pandangan yang bagus, kehidupan yang bagus, dengan mental yang bagus dan akhlakul karimah. Itu yang ingin saya bentuk,” harapnya.

Sebelumnya, Pemkot Surabaya telah menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 400.2.4/12681/436.7.8/2025 tentang Pembatasan Jam Malam bagi Anak. SE tersebut menjadi dasar hukum dalam pelaksanaan sweeping dan pengawasan jam malam anak di Kota Pahlawan.

Tujuan utama kebijakan ini adalah untuk memastikan anak-anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal serta terlindungi dari kekerasan, penyalahgunaan, dan berbagai bentuk diskriminasi.

Selain itu, pembatasan jam malam ini bertujuan membatasi aktivitas anak di luar rumah pada malam hari untuk menghindarkan mereka dari berbagai risiko. Seperti di antaranya kenakalan remaja, pergaulan bebas, minuman keras, narkotika, psikotropika, zat adiktif lain, serta segala bentuk kekerasan terhadap anak. (Dwi Arifin)

15.350 Pengemudi Ojol Surabaya Terima Bantuan BPJS Ketenagakerjaan

Wali Kota Eri Cahyadi memberikan bantuan BPJS Ketenagakerjaan kepada mitra pengemudi ojek online (Ojol) di Kota Pahlawan.

SURABAYA-KEMPALAN: Pemkot Surabaya memberikan bantuan BPJS Ketenagakerjaan kepada 15.350 mitra pengemudi ojek online (Ojol) di Kota Pahlawan. Bantuan ini diberikan  Pemkot Surabaya melalui Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Jawa Timur secara simbolis di Graha Sawunggaling, Selasa (1/7). 

Mitra ojol yang menerima bantuan BPJS Ketenagakerjaan, diantaranya dari Gojek, Grab, dan Maxim. Belasan ribu mitra ojol yang menerima bantuan tersebut seluruhnya adalah warga ber-KTP Surabaya. 

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, pembangunan di Surabaya tidak hanya dilihat dari segi infrastrukturnya, akan tetapi juga dilihat dari segi keadilan sosialnya. Maka dari itu, dalam kesempatan ini Wali Kota Eri mengutamakan kesejahteraan pekerja rentan atau berisiko tinggi melalui bantuan BPJS Ketenagakerjaan.

“Karena buat saya manusia lebih penting, meskipun jalannya nanti itu menyusul (pembangunannya) di awal atau di akhir tahun berikutnya. Karena itulah pemerintah kota ingin semua bisa merasakan, karena buat saya pembangunannya harus rata. Tidak boleh pemerintah atau warga Surabaya hanya segelintir orang yang menikmati itu,” kata Wali Kota Eri. 

Ia mengungkapkan, bantuan BPJS Ketenagakerjaan tidak hanya untuk ojol saja, akan tetapi semua pekerja rentan dan berisiko tinggi di Surabaya juga mendapatkan bantuan tersebut. Mulai dari Ketua RT, Ketua RW, Ketua LPMK, Bunda Paud, Pengurus Rumah Ibadah, Kader Surabaya Hebat (KSH), hingga tenaga kontrak seperti satgas kebersihan dan sebagainya.

Wali Kota Surabaya yang akrab disapa Cak Eri Cahyadi itu menyebutkan, berdasarkan data dari riset Institute of Government and Public Affairs Universitas Gadjah Mada (UGM) dan The Prakarsa, 70-80 persen pengemudi ojol pernah mengalami risiko akibat kelelahan bekerja lebih dari 13 jam per hari. Selain itu, sebanyak 60 persen pengemudi ojol tetap menjadi pengemudi ojol satu sampai lima tahun ke depan. 

“Penjenangan (anda) itu risikonya besar. Ketika malam harus bekerja kemudian kalau kecelakaan di jalan, nah itu kan risiko-risiko yang dialami. Bahkan ada data 1,7 juta driver ojol tidak punya asuransi buat kecelakaan kerja. Datanya itu ada. Nah, sampai sekarang ada perdebatan apakah pekerja (pengemudi) online ini mitra ataukah masuk ke dalam pekerja. Kalau buat Surabaya nggak pakai debat-debatan, selama anda orang Surabaya, pemerintah kota akan membantu,” sebutnya. 

Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) itu menyampaikan, Pemkot Surabaya tidak hanya memberikan bantuan BPJS Ketenagakerjaan saja, tetapi juga akan memberikan bantuan Padat Karya. Tujuannya, agar pengemudi ojol tidak hanya mendapatkan satu sumber penghasilan dan mensejahterakan warga Surabaya ke depannya. “Jadi biar ada tambahan penghasilan, dan pemerintah harus hadir,” ujarnya. 

Di akhir sambutannya, ia memohon maaf kepada sebagian pengemudi ojol yang belum mendapatkan bantuan meskipun telah memiliki KTP Surabaya. Dirinya menyampaikan, bahwa intervensi mengutamakan warga yang ber-KTP Surabaya sejak 2022 ke bawah. 

“Karena saya sudah bilang, kalau KTP-nya tahun 2022 ke atas saya mohon maaf, tidak bisa saya bantu. Kalau saya bantu yang baru-baru (pindah) dari 2022 ke atas, nanti yang sudah tinggal lama di Surabaya nggak kebagian. Nah, setelah semua diintervensi, selanjutnya warga Surabaya yang ber-KTP tahun 2022 ke atas,” ucapnya. 

Di samping itu, Kepala Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Jawa Timur Hadi Purnomo mengucapkan banyak terima kasih dan apresiasi kepada Wali Kota Eri Cahyadi karena telah memberikan bantuan ini kepada 15.350 mitra ojek online di Surabaya. Selain itu, pada kesempatan sebelumnya, pemkot juga sempat memberikan bantuan serupa kepada 76.000 pelayan publik di Surabaya. 

Di antaranya yaitu Ketua RT, Ketua RW, Ketua LPMK, Bunda Paud, Pengurus Rumah Ibadah, Kader Surabaya Hebat (KSH), hingga tenaga kontrak seperti satgas kebersihan dan sebagainya. Dan saat ini giliran pengemudi ojol yang juga dibantu oleh Pemkot Surabaya. Menurutnya, pemberian bantuan ini tepat sasaran, karena pengemudi ojol termasuk pekerja rentan atau berisiko tinggi. 

“Kenapa kita sebut rentan? Teman-teman driver online resikonya sangat tinggi. Sangat tinggi dibanding pekerja-pekerja lain, dan setiap saat bekerjanya harus di jalan, dan hari ini Cak Eri memberikan bantuan sesuai dengan komitmennya,” kata Hadi. 

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan (Disperinaker) Kota Surabaya Agus Hebi Djuniantoro mengatakan, bantuan ini merupakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang diterima oleh Pemkot Surabaya dari Pemerintah Pusat.

Berdasarkan Peraturan Kementerian Keuangan Republik Indonesia Nomor 72 tahun 2024 tentang Penggunaan DBHCHT, agar dana tersebut tepat sasaran Pemkot Surabaya menyalurkan bantuan dana tersebut kepada pekerja rentan yang salah satunya adalah pengemudi ojol. 

Berdasarkan aturan tersebut, Pemkot Surabaya menyusun Peraturan Wali Kota Nomor 9 Tahun 2025 tentang Pelaksanaan Pemberian Bantuan Pembayaran Jaminan Sosial Ketenagakerjaan kepada Pekerja Rentan yang Bekerja Sebagai Pengemudi Ojol Sepeda Motor.

Hebi menjelaskan, pengemudi ojol yang berhak menerima bantuan tersebut adalah warga Surabaya usia 18-65 tahun, berpenghasilan kurang dari Upah Minimum Kota (UMK) Surabaya, tidak berstatus sebagai anggota TNI/Polri, ASN, Pegawai Pemerintah Non-ASN, dan tidak terdaftar sebagai peserta Jamsostek pada BPJS Ketenagakerjaan serta penerima upah. 

“Peserta yang diajukan sebelumnya sebanyak 24.000 orang. Namun setelah dilakukan validasi dan verifikasi data, berkurang menjadi 15.350 orang. Berkurangnya data tersebut dikarenakan adanya data ganda yang sudah terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan, usia yang tidak sesuai, dan terdaftar sebagai anggota TNI/Polri atau ASN, RT/RW. Ada juga yang memiliki pendapatan di atas UMK Surabaya serta pengemudi yang sudah meninggal namun masih tercatat di dalam data operator,” jelas Hebi.

Selain itu, lanjut Hebi, pengemudi ojol yang menerima Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga tidak mendapatkan bantuan BPJS Ketenagakerjaan. Karena, penerima KUR sudah memiliki BPJS Ketenagakerjaan. “Artinya 15.350 ini adalah yang murni belum menerima bantuan apapun, dan ini masih bergerak melakukan pendataan,” ujar Hebi. 

Hebi menambahkan, pendataan selanjutnya masih dilakukan kroscek ulang sejak Juni 2025. Tujuannya, untuk validasi dan verifikasi data, agar bantuan tersebut bisa tepat sasaran ke depannya. 

“Kita cek dulu, itu KTP di atas atau di bawah tahun 2022. Kalau di atas tahun 2022 tadi Pak Wali sudah bilang, mohon maaf tidak akan menerima itu (bantuan),” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Pertambangan di Indonesia, Menuju pada Kebangkrutan?

KEMPALAN: Aktivitas pertambangan seringkali menimbulkan kerugian serius, dampak negatif seperti rusaknya ekologi, polusi udara, pencemaran air, punahnya habitat satwa liar, rusaknya desa adat, konflik sosial.

Aktivitas pertambangan yang dikenal dengan tambang untuk memproduksi mineral dan logam, seperti bauksik, tembaga, batu bara, emas, dan nikel. Menurut UU No. 32 Tahun 2004, pemerintah daerah memiliki wewenang dalam mengurus potensi daerah termasuk potensi pertambangan atau bahan galian.

UU No.4 Tahun 2009, dalam memberikan IUP (Izin Usaha Pertambangan) di wialayah kabupaten atau kota diberikan diberikan kepada Bupati atau walikota dan untuk lintas Kabupaten atau Kota diberikan oleh Gubernur dan di Provinsi diberikan oleh Kementrian ESDM. Namun, ada perubahan lagi terkait IUP berdasarkan UU No.23 Tahun 2014 yaitu Walikota atau Bupati tidak memiliki wewenang lagi dalam memberikan IUP yang memiliki wewenang Gubernur dan pemerintah pusat, IUP lintas provinsi masih tetap diberikan oleh kementrian ESDM.

Regulasi dan wewenang sering berubah menyesuaikan kepentingan pemerintah yang berkuasa, jika spiritnya untuk kebermanfaatan kesejahteraan Masyarakat, dikelola, diawasi, dengan baik tidak menjadi persoalan, yang menjadi persoalan adalah hanya menguntungkan kelompok atau golongan tertentu, bahkan pihak asing, siapa yang berkuasa dia yang memonopoli, ini selera politik yang redah muara dari SDM penyelenggara negara yang literasinya rendah, berdampak kesengsaraan rakyat.

Negara-negara kaya tambang yang bangkrut

Kita sebagai negara sebenarnya bisa mengambil pelajaran dari beberapa negara yang memiliki kekayaan tambang karena salah kelola berakhir memprihatinkan. Republik Demokratik Kongo memiliki kekayaan tembaga, kobalt, dan berlian penambangan besar-besaran dilakukan, eksploitasi yang tidak mempertimbangkan kerusakan lingkungan, terjadi penggusuran, juga pelanggaran HAM. Hasil pertambangan hanya dinikmati segelintir keluarga kaya. Sementara jutaan rakyat hidup dalam kemiskinan.

Venezuela pernah jadi negara terkaya di Amerika Latin karena mempunyai cadangan minyak terbesar di dunia, tapi ketergantungan ekstrim pada minyak, ditambah para penyelenggara negara yang korupsi gila-gilaan, dan anjloknya harga global membuat ekonominya runtuh, inflasi melemah dan kemiskinan meluas.

Pada tahun 1970-an Nauru pernah jadi negara dengan pendapatan perkapita tertinggi di dunia, ekspor fosfat besar-besaran berakibat kerusakan daratan 90 persen dan sekarang menjadi gurun tandus, ditambah SDM pengelola pemerintah yang tidak kompeten dan korup semakin memperparah keadaan. Fosfatnya memperkaya Australia, sementara warganya hidup dari bantuan asing, warganya kini bergantung pada makanan instan yang menyebabkan epidemi obesitas ekstrem.

Konflik berkepanjangan juga terjadi di Anggola, kaya minyak dan berlian memicu penambangan ilegal yang merusak ekosistem lingkungan, menggerogoti pendapatan negara, dan minumbulkan kekacauan. Warga lokal kehilangan tanah, pekerjaan, dan kesejahteraan yang sebenarnya kaya akibat 1.3 juta penambang liar, lemahnya pengawasan dan korupsi semakin membuat negara ini terpuruk.

Kondisi pertambangan Indonesia

Kondisi industri pertambangan Indonesia menunjukan pertumbuhan yang signifikan, cadangan minerial dan energi yang melimpah dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote terbentang luas hamparan yang kaya sumber daya alam.

Indonesia menjadi lahan subur bagi pertambangan salah satunya tambang nikel di Raja Ampat yang menjadi isu nasional karena merusak ekowisata, dan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi dari sektor ekowisata berbasis alam. Kurang lebih 70 persen wisatawan dari macanegara yang datang ke Raja Ampat, 30.000 pengunjung wisatawan yang berkunjung ke Raja Ampat pada 2024, dan menyumbang PAD sekitar 150 milyar pertahun.

Kawasan penambangan yang dikelola PT Gag Nikel masuk zona penyangga Wisata Raja Ampat, yang membentang dari pulau Kawe sampai Wayang hingga jalur migrasi satwa laut. Lumpur tambang yang terbawa arus dapat merusak terumbu karang, satwa laut, juga penetrasi sinar mahari dibawah permukaan laut.

Di Kepulauan Raja Ampat ada Lima pengelolaan cadangan nikel, di antanya PT Gag Nikel. Penambangan dilakukan dengan skala besar, mencakup wilayah luas, konsesi lahan 13.136 hektar, serta memiliki izin usaha yang berlaku panjang dari 2017 hingga 2047.

Presiden Prabowo memutuskan pencabutan izin IUP yang beroperasi dikawasan papua Barat Raja Ampat, PT Kawei Sejahtera Mining, PT Mulia Raymond Perkasa, PT Anugerah Surya Pratama, PT Nurham. Sedangkan, IUP PT. Gag Nikel masih dipertahankan, Menurut Bahlil sudah berizin, mengantongi kajian AMDAL dan tidak merusak Ekowisata.

Jumlah pertambangan di Indonesia sangat besar, dan bervariasi, termasuk tambang batu bara, mineral logam, dan mineral bukan logam, sebanyak 4.634. Dari jumlah tersebut, 16 izin masih dalam tahap eksplorasi, dan sisanya (870 izin) sudah memasuki tahap produksi. Kementerian ESDM juga telah menetapkan 1.215 wilayah pertambangan rakyat.

Pernahkah para penyelenggara negara berfikir berapa triliun rupiah membuat eksotisme alam seperti Raja Ampat, pendapatan dari tambang nikel tak sebanding dengan kerusakan alam. Keseriusan dan kehati-hatian pemerintah dalam pengelolaan tambang akan menentukan nasib bangsa kedepan, mejadi negara sejahtera atau bangkrut.

Indonesia mempunyai jenis kekayaan sumber daya alam yang melimpah melebihi Empat Negara diatas, tapi sekaligus Indonesia punya potensi konflik yang lebih besar jika melihat peristiwa-peristiwa pengelolaan tambang yang salah kelola, korup, manipulatif, hanya menguntungkan segelintir orang, dan kelompok tertentu.

Seperti yang terjadi di Kalimantan Barat, ada 400 Perusahaan Perkebunan, ada 600 Perusahaan Tambang tapi tidak memberikan kontribusi atau kesejahteraan pada Provinsi Kalimantan Barat, justru menimbulkan konflik ditengah masyarakat, konflik agraria, merusak kawasan adat. Menurut Gubernur Kalimantan Barat, Kalbar hanya dijadikan objek bukan subjek pembangunan.

Keadilan sosial sejauh ini hanya isapan jempol belaka, Indonesia hanya akan tinggal cerita jika penyelenggara negara masih saja tamak, tidak mempunyai kesadaran kolektif berbangsa. ()

Bambang Prakoso
Dosen Ilmu Perpustakaan FISIP UWKS dan Pengurus ICMI Jawa Timur.

Pemkot Surabaya dan DPRD Setujui Raperda Pertanggungjawaban APBD 2024

Rapat paripurna di gedung DPRD Kota Surabaya, Senin (30/6).

SURABAYA-KEMPALAN: Pemkot Surabaya bersama DPRD menyetujui Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2024. Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan naskah Berita Acara Persetujuan Bersama antara Wali Kota dan pimpinan DPRD dalam rapat paripurna di Gedung DPRD Surabaya, Senin (30/6).

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan bahwa pelaksanaan APBD 2024 telah melalui proses audit oleh Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) Perwakilan Provinsi Jawa Timur. Dari hasil pemeriksaan tersebut, Surabaya kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

“Sehingga rekomendasi atas hasil pemeriksaan tersebut dapat dipergunakan sebagai acuan dalam penyusunan dan pelaksanaan anggaran pada tahun-tahun berikutnya,” ujar Eri Cahyadi.

Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap berbagai koreksi, masukan, dan saran dari fraksi-fraksi DPRD selama proses pembahasan Raperda berlangsung.

“Saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh pimpinan dan anggota dewan yang terhormat yang telah bersama-sama untuk menjadikan Surabaya menjadi kota yang lebih baik dan maju,” tutur Eri Cahyadi.

Sebagai tindak lanjut, dia meminta seluruh perangkat daerah (PD) di lingkungan Pemkot Surabaya untuk segera menindaklanjuti setiap rekomendasi dan koreksi yang disampaikan oleh DPRD.

“Hendaknya koreksi, saran, dan masukan, serta rekomendasi agar segera ditindaklanjuti dan dijadikan motivasi untuk terus meningkatkan tertib pengelolaan keuangan dan kinerja pelayanan kepada masyarakat,” pintanya.

Dalam kesempatan itu, Wali Kota Eri menjelaskan bahwa setelah Raperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2024 disetujui bersama, dokumen tersebut akan disampaikan kepada Gubernur Jawa Timur untuk dievaluasi sesuai ketentuan perundang-undangan.

“Terima kasih atas segala perhatian, arahan, dan saran serta rekomendasi, sehingga Surabaya akan menjadi lebih berkah,” katanya.

Ditemui usai rapat paripurna, Wali Kota Eri mengaku bersyukur karena seluruh proses pembahasan hingga penetapan Raperda berjalan lancar. “Ada beberapa hal yang disampaikan, termasuk juga dengan hal-hal yang perlu kita lakukan lagi di tahun 2025. Semoga di tahun 2025 bisa lebih bermanfaat anggaran ini untuk masyarakat Surabaya,” katanya.

Saat ditanya terkait rekomendasi dari BPK yang menjadi catatan, Wali Kota Eri menegaskan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari proses perbaikan yang wajib diselesaikan. “Catatan kita ini alhamdulillah sudah 97 persen (terselesaikan), karena dari tempat-tempat yang lama yang harus kita selesaikan,” ungkapnya.

Ia mencontohkan beberapa catatan tersebut berkaitan dengan objek pajak dan aset lama yang kini sudah tidak aktif. “Jadi ini adalah tinggalan masa lalu yang harus kita selesaikan semuanya,” ucapnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa Surabaya termasuk salah satu kota dengan kinerja terbaik dalam penyelesaian tindak lanjut atas rekomendasi BPK. Oleh karena itu, ia berharap ke depan tidak ada lagi pekerjaan rumah (PR) yang diwariskan kepada kepala daerah berikutnya.

“Surabaya ini adalah yang terbesar dalam penyelesaian masalah-masalah tindak lanjut dan ditindaklanjuti mulai zaman dahulu. Sehingga saya berharapnya di tahun depan, sudah bisa terselesaikan 100 persen sehingga tidak ada PR,” tandasnya. (Dwi Arifin)

Lonjakan Mycoplasma Pneumoniae pada Anak: Waspadai Flu yang Tak Kunjung Sembuh

KEMPALAN: Beberapa bulan terakhir, muncul peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan pada anak yang tak kunjung reda meski sudah berobat. Banyak di antaranya ternyata disebabkan oleh Mycoplasma pneumoniae, bakteri yang menyebabkan pneumonia atipikal. Gejalanya sekilas menyerupai flu biasa—batuk kering, demam ringan, dan tubuh terasa lemas—namun berlangsung lebih lama dari yang umum terjadi. Kondisi ini patut diwaspadai karena kerap tidak terdeteksi di tahap awal.

Di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung, laporan kasus Mycoplasma pneumoniae mulai bermunculan kembali sejak awal 2025. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sejumlah anak mengalami infeksi ini dan harus menjalani isolasi serta pengobatan selama lebih dari seminggu. Meskipun semua pasien dinyatakan sembuh, fenomena ini menegaskan bahwa ancaman penyakit menular belum sepenuhnya mereda pascapandemi.

Kondisi ini juga tak lepas dari fenomena yang dikenal sebagai post-pandemic immunity gap atau celah kekebalan pasca pandemi. Selama hampir dua tahun anak-anak menjalani aktivitas terbatas, memakai masker, dan memiliki sedikit paparan terhadap bakteri atau virus umum. Ketika pembatasan sosial mulai dilonggarkan dan interaksi kembali normal, sistem imun yang sebelumnya “terlindung” menjadi kurang siap menghadapi patogen yang dulunya tergolong ringan. Ini menyebabkan infeksi seperti Mycoplasma pneumoniae lebih mudah menyerang dan lebih sulit pulih secara cepat.

Lingkungan sekolah menjadi salah satu titik rawan penularan. Interaksi yang padat dan tertutup, ditambah dengan etika batuk atau kebersihan yang belum sepenuhnya baik, menjadikan anak-anak kelompok yang paling rentan. Oleh karena itu, penting bagi para guru dan orang tua untuk memahami ciri khas penyakit ini: batuk kering yang bertahan berminggu-minggu, demam ringan yang tidak segera reda, dan anak terlihat lesu atau tidak seaktif biasanya.

Untuk menghadapi kondisi ini, upaya penanggulangan perlu dilakukan secara menyeluruh. Hal pertama adalah meningkatkan kesadaran dan edukasi kepada orang tua dan masyarakat. Flu yang tidak kunjung sembuh, terutama disertai batuk kering lebih dari dua minggu, perlu dievaluasi lebih lanjut di fasilitas kesehatan. Diagnosis dini melalui pemeriksaan seperti PCR atau tes antibodi sangat penting agar penanganan lebih tepat sasaran.

Kedua, penatalaksanaan medis yang rasional juga diperlukan. Penggunaan antibiotik tidak boleh dilakukan secara sembarangan, karena di beberapa negara termasuk kawasan Asia telah ditemukan tingkat resistensi yang tinggi terhadap antibiotik golongan makrolida—yang selama ini menjadi lini pertama untuk kasus Mycoplasma pneumoniae. Oleh sebab itu, pendekatan berbasis bukti sangat diperlukan oleh tenaga medis.

Ketiga, pencegahan harus menjadi bagian utama dalam strategi pengendalian. Sekolah dan orang tua dapat bekerja sama untuk menanamkan kebiasaan hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan, etika batuk yang benar, menjaga ventilasi ruangan, serta penggunaan masker saat anak sakit. Anak yang sedang dalam masa pemulihan sebaiknya diberi waktu istirahat yang cukup di rumah, bukan dipaksakan untuk tetap bersekolah.

Langkah penting lain adalah pelaporan dan pemantauan kasus oleh fasilitas layanan kesehatan dan dinas kesehatan setempat. Adanya sistem pelacakan yang cepat memungkinkan pengendalian lebih dini terhadap potensi klaster di lingkungan sekolah atau masyarakat.

Di tengah banyaknya isu kesehatan pascapandemi, lonjakan Mycoplasma pneumoniae menjadi pengingat bahwa kewaspadaan dan kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan fasilitas kesehatan harus terus dijaga. Meskipun tidak mematikan, infeksi ini dapat mengganggu tumbuh kembang anak serta menguras tenaga dan emosi keluarga bila tidak ditangani dengan baik sejak dini. Dengan upaya bersama dan kesadaran kolektif, risiko penyebaran bisa ditekan, dan anak-anak kita tetap tumbuh dalam kondisi sehat dan aman. ()

Oleh: Sukma Sahadewa Akademisi & Praktisi Kedokteran

Sarana Prasarana Sekolah Rakyat di Mojokerto Siap Dioperasikan 14 Juli 2025

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat meninjau sarana prasarana Sekolah Rakyat di Gedung Diklat BKPSDM Kabupaten Mojokerto, Senin (30/6).

MOJOKERTO-KEMPALAN: Sarana prasarana Sekolah Rakyat (SR) di Gedung Diklat BKPSDM Kabupaten Mojokerto siap dioperasikan pada 14 Juli 2025. Hal itu dipastikan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa usai melakukan peninjauan, Senin (30/6).

Di Gedung Diklat BKPSDM tersebut,  Khofifah sempat berkeliling mengecek seluruh sarana prasarana hingga sejumlah ruang yang akan dijadikan ruang kelas mulai dari asrama, hingga aula.

Khofifah kemudian memastikan seluruh sarana prasarana untuk asrama dengan luas lahan 5.000 meter persegi (m²) serta gedung yang digunakan sekitar 795,30 m² itu telah siap untuk kelas dua rombongan belajar (rombel) jenjang SMP.
Tiap rombel atau kelas diisi 25 murid.

Saat ini, seluruh kesiapan sudah rampung. Kondisi tersebut terlihat dari ruang kelas, ruang laboratorium, asrama, ruang pengasuh dan wali pengasuh serta ruang pencuci para siswa aula hingga mushola

“Mushola masih jadi satu dengan aula. Harapannya nanti ketika terdapat kegiatan  di Aula, meja di ruang makan bisa dilipat rapi,” katanya.

Khofifah optimistis bahwa Sekolah Rakyat di Mojokerto sudah siap dioperasionalkan. Para murid akan masuk asrama pada 13 Juli 2025. Kemudian secara nasional pada 14 Juli 2025 akan dimulai proses belajar mengajar kelompok 1 A.

“Insya Allah 14 Juli 2025 mendatang bisa dimulai proses belajar mengajar,” katanya.

“Hari ini saya sengaja meninjau dan bertemu dengan calon siswa dan orang tua siswa dengan harapan para orang tua bisa memastikan anak anaknya memperoleh pendidikan terbaik di Sekolah Rakyat,” ujar Khofifah.

Kepada para orangtua murid, Khofifah berpesan agar tidak perlu khawatir. Ia mengajak agar terus mendoakan anak – anaknya bisa belajar dengan baik dan lancar sehingga menjadi kebanggaan.

Nantinya, lanjut Khofifah, anak – anak yang akan bersekolah rakyat di kawasan Gedeg Mojokerto ini akan dididik menjadi anak anak sukses sama halnya  berasrama di Pondok Pesantren (Ponpes). Karena menerapkan pendidikan berbasis boarding school yang gratis, setara dan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. 

“Saya minta doanya para wali murid. Biar anaknya bisa belajar dan sekolah dengan baik. Sekolah di sini seperti pesantren bisa dikunjungi pada waktu yang ditentukan oleh sekolah,” imbaunya.

Sementara itu, salah satu wali murid Ahmad Nizar Mayodi Putra, Suwarti mengaku bahwa perasaannya saat ini senang dan bersyukur. Ia berharap besar anak kesayangannya itu akan mendapat pendidikan terbaik di Sekolah Rakyat.

“Perasaan saya senang dan bersyukur karena anak saya bisa sekolah disini nantinya. Terima kasih Bu Gubernur atas seluruh perhatiannya,” ungkapnya sembari menyeka air mata.

Dalam tinjauan ini, Khofifah membagikan tas dan sepatu sekolah yang langsung diterima oleh para siswa yang akan digunakan pada awal masuk sekolah mendatang. (Dwi Arifin)

Calon Analis Kimia

KEMPALAN : Suatu hari Jonson bertemu tetangganya yang kuliah di salah satu perguruan tinggi terkenal di Jawa Timur.

“Wah lama nggak ketemu, apa kabar calon ahli kimia?” tanya Jonson.

“Baik, Mas” sahut Robert. “Sebentar lagi pendadaran, ujian skripsi”. Jonson lantas manggut-manggut setelah mendengar jawaban Robert.

“Oh ya Bert, sebagai calon ahli kimia, kira-kira apa yang kau lakukan jika melihat kotoran sapi di jalan?”

“Wah, ngetes nih, Mas Jon. Yang jelas, kotoran sapi itu bisa untuk pupuk kandang. Jika jumlahnya banyak, bisa dibikin biogas menggantikan kayu bakar atau LPG,” jawab Robert dengan bangganya disusul senyumnya.

“Bert, Bert, kalau ada kotoran sapi ya minggirlah. Nggak usah dibikin panjang. Gitu aja kok repot,” timpal Jonson.

*

Begitulah elaborasi percakapan ini ketika seseorang membanggakan sesuatu tanpa melihat keadaan sekitar, apalagi jika disertai sikap berlebihan.

Dalam konteks ini, keadaan sekitar diindikasikan sosok Jonson.

Sebagaimana banyak orang pahami, seringkali sikap berlebih –apalagi jika disertai arogansi– membuat seseorang tidak “berpijak bumi”, menjadikannya kehilangan kontrol diri, yang (boleh jadi) direpresentasikan sosok Robert.

Maka, kehilangan kontrol diri itu membuka kesempatan Jonson untuk menjatuhkan Robert.

Namun, semuanya tergantung niat. Kalau niat Jonson memang sengaja mau ngetes, bukankah ini juga semacam bentuk kesombongan?

Maka, semuanya kembali pada niat jujur berlandaskan standar etika pergaulan.

Dalam konteks anekdot ini, sebetulnya kalau mau objektif, bukankah keduanya sama-sama sombong?

Lantas apa sih definisi orang sombong itu ?

Salah satunya begini : Orang yang berdiri diatas gunung. Dia melihat orang lain kecil. Tetapi dia tidak sadar, orang lain melihatnya kecil juga.
(Amang Mawardi).

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.