KEMPALAN : Suatu hari Jonson bertemu tetangganya yang kuliah di salah satu perguruan tinggi terkenal di Jawa Timur.
“Wah lama nggak ketemu, apa kabar calon ahli kimia?” tanya Jonson.
“Baik, Mas” sahut Robert. “Sebentar lagi pendadaran, ujian skripsi”. Jonson lantas manggut-manggut setelah mendengar jawaban Robert.
“Oh ya Bert, sebagai calon ahli kimia, kira-kira apa yang kau lakukan jika melihat kotoran sapi di jalan?”
“Wah, ngetes nih, Mas Jon. Yang jelas, kotoran sapi itu bisa untuk pupuk kandang. Jika jumlahnya banyak, bisa dibikin biogas menggantikan kayu bakar atau LPG,” jawab Robert dengan bangganya disusul senyumnya.
“Bert, Bert, kalau ada kotoran sapi ya minggirlah. Nggak usah dibikin panjang. Gitu aja kok repot,” timpal Jonson.
*
Begitulah elaborasi percakapan ini ketika seseorang membanggakan sesuatu tanpa melihat keadaan sekitar, apalagi jika disertai sikap berlebihan.
Dalam konteks ini, keadaan sekitar diindikasikan sosok Jonson.
Sebagaimana banyak orang pahami, seringkali sikap berlebih –apalagi jika disertai arogansi– membuat seseorang tidak “berpijak bumi”, menjadikannya kehilangan kontrol diri, yang (boleh jadi) direpresentasikan sosok Robert.
Maka, kehilangan kontrol diri itu membuka kesempatan Jonson untuk menjatuhkan Robert.
Namun, semuanya tergantung niat. Kalau niat Jonson memang sengaja mau ngetes, bukankah ini juga semacam bentuk kesombongan?
Maka, semuanya kembali pada niat jujur berlandaskan standar etika pergaulan.
Dalam konteks anekdot ini, sebetulnya kalau mau objektif, bukankah keduanya sama-sama sombong?
Lantas apa sih definisi orang sombong itu ?
Salah satunya begini : Orang yang berdiri diatas gunung. Dia melihat orang lain kecil. Tetapi dia tidak sadar, orang lain melihatnya kecil juga.
(Amang Mawardi).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi